Tampilkan postingan dengan label Akhlak / adab / tata krama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak / adab / tata krama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Maret 2017

Adab atau kesopanan dalam persahabatan



Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali yang lebih dikenal dengan nama Imam Ghazali dalam kitanya menjelaskan :

وآدَابُ الصُّحْبَةِ اْلإِيْثَارِ بِالْمَالِ. فَإِنْ لَمْ يَكُنْ هَذَا فَبَذْلُ الْفَضْلِ مِنَ الْمَالِ عِنْدَ الْحَاجَةِ. وَاْلإِعَانَةُ بِالنَّفْسِ فِى الْحَجَاةِ عَلَى سَبِيْلِ اْلمُبَادَرَةِ مِنْ غَيْرِ إِحْوِاجٍ إِلَى الْتِمَاسِ. وَكِتْمَانُ السِّرِّ وَسَتْرُ الْعُيُوْبِ. وَالسُّكُوْتُ عَىْ تَبْلِيْغِ مَا يَسُوْءُهُ مِنْ مَذَمَّةِ النَّاسِ إِيَّاهُ. وَإِبْلَاغُ مَا يَسُرُّهُ مِنْ ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَيْهِ. وَحُسْنُ الْإِصْغَاءِ عِنْدَ الْحَدِيْثِ. وَتَرْكُ اْلمَمَارَاتِ فِيْهِ. وَأَنْ يَدْعُوْهُ بِأَحَبِّ أَسْمَائِهِ إِلَيْهِ. وَأَنْ يُثْنِىَ عَلَيْهِ بِمَا يُعْرَفُ مِنْ مَحَاسِنِهِ. وَأَنْ يَشْكُرَهُ عَلَى صَنِيْعِهِ فِى وَجْهِهِ. وَأَنْ يَذُبُّ عَنْهُ فِى غَيْبَتِهِ إِذَا تُعُرِّضَ لِعِرْضِهِ كَمَا يَذُبُّ عَنْ نَفْسِهِ. وَأَنْ يَنْصَحَهُ بِاللُّطْفِ وَالتَّعْرِيْضِ إِذَا احْتَاجَ إِلَيْهِ. وَأَنْ يَعْفُوَ عَنْ زّلَّتِهِ وَهَفْوَتِهِ فَلَا يَعْتِبُ عَلَيْهِ. وَأَنْ يَدْعُوَ لَهُ فِى خَلْوَتِهِ فِى حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ. وَأَنْ يُحْسِنَ الْوَفَاءَ مَعَ أَهْلِهِ وَأَقَارِبِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ. وَأَنْ يُؤَثِّرَ التَّحْفِيْفَ عَنْهُ فَلَا يُكَلِّفُهُ شَيْئًا مِنْ حَاجَاتِهِ وَيُرَوِّحُ  قَلْبَهُ مِنْ مُهِمَّاتِهِ. وَأَنْ يُطْهِرَ اْلفَرَحَ بِجَمِيْعِ مَا يَرْتَاحُ لَهُ مِنْ مَسَارِهِ وَالْحَزَنَ عَلَى مَا يَنَالُهُ مِنْ مَكَارِهِهِ. وَأَنْ يُضْمِرَ فِى قَلْبِهِ مِثْلَ مَا يُظْهِرُهُ فَيَكُوْنُ صَادِقًا فِى وُدِّهِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً. وَأَنْ يَبْدَأَهُ بِالسَّلَامِ عِنْدَ إِقْبَالِهِ. وَأَنْ يُوَسِّعَ لَهُ فِى الْمَجْلِسِ وَيَخْرُجُ لَهُ مِنْ مَكَانِهِ، وَأَنْ يُشَيِّعَهُ عِنْدَ قِيَامِهِ. وَأَنْ يَصْمُتَ عِنْدَ كَلَامِهِ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خِطَابِهِ وَيَتْرُكَ الْمُدَاخَلَةَ فِى كَلَامِهِ. وَعَلَى الْجُمْلَةِ فَيُعَامِلُهُ بِمَا يُحِبُّ أَنْ يُعَامِلَ بِهِ فَمَنْ لَا يُحِبُّ لِأَخِيْهَ مِثْلَ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ فَإِخْوَتُهُ نِفَاقٌ وَهِيَ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَبَالٌ
Adab dalam bergaul atau bersahabat adalah mengutamakan teman dalam hal harta, jika tidak, maka dengan mengeluarkan kelebihan harta ketika dibutuhkan. Membantu sepenuh jiwa saat diperlukan secara langsung tanpa diminta. Menyimpan rahasia teman. Menyembunyikan aib teman. Tidak menyampaikan cemoohan orang kepadanya. Memberitakan pujian orang kepadanya. Penuh perhatian terhadap apa yang dibicarakannya. Menghindari perdebatan dengan teman.  Memanggil dengan nama yang paling disukainya. Memuji kebaikannya. Berterima kasih atas bantuan baiknya. Membela kehormatannya di saat ia tidak ada sebagaimana ia membela kehormatannya sendiri. Menasihatinya dengan lemah lembut dan jelas jika memang diperlukan. Memaafkan ketika ia salah dan tidak malah mencaci. Mendoakannya di saat berkhalwat dengan Allah, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal. Tetap setia kepada keluarga dan kerabatnya manakala ia sudah meninggal dunia. Ikut meringankan bebannya dan bukan justru memberatkan hajatnya. Menghibur hatinya dari segala kerisauan. Menampakkan kebahagiaan atas kemudahan yang ia dapatkan, ikut bersedih atas hal buruk yang menimpanya.  Menyembunyikan di dalam hati apa yang ia sembunyikan sehingga ia benar-benar setia secara lahir maupun batin. Mendahuluinya dalam mengucapkan salam ketika bertemu. Melapangkan tempat duduk untuknya, apabila tidak memungkinkan maka hendaknya beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan teman untuk duduk di tempatnya. Mengantarkan teman ketika ia berdiri hendak keluar dari rumahnya. Diam ketika ia berbicara sampai selesai dengan tidak menyela atau memotongnya.

Ringkasnya, hendaknya ia memperlakukan temannya itu sebagaimana ia senang kalau diperlakukan demikian. Siapa yang tak mencintai saudaranya sebagaima ia mencintai dirinya sendiri, berarti ia telah dihiasi nifak (sifat munafik). Ini merupakan bencana baginya di dunia dan di akhirat. (Kitab Bidayatul Hidayah, halaman 100-102)

Sopan santun seorang murid



Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali yang lebih dikenal dengan nama Imam Ghazali dalam kitanya menjelaskan :

وَإِنْ كُنْتَ مُتَعَلِّمًا فَآدَابُ الْمُتَعَلِّمِ مَعَ اْلعَالِمِ: أَنْ يَبْدَأَهُ بِالتَّحِيَّةِ وّالسَّلَامِ. وَأَنْ يُقَلِّلَ بَيْنَ يَدَيْهِ اْلكَلَامُ. وَلَا يَتَكَلَّمَ مَالَمْ يَسْأَلْهُ أُسْتَاذُهُ. وَلَا يَسْأَلُ أَوَّلًا مَالَمْ يَسْتَأْذِنْ. وَلَا يَقُوْلُ فِى مُعَارَضَةِ قَوْلِهِ قَالَ فُلَانٌ بِخِلَافِ مَا قُلْتَ. وَلَا يُشِيْرُ عَلَيْهِ بِخِلَافِ رَأْيِهِ فَيَرَى أَنَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ مِنْ أُسْتَاذِهِ. وَلَا يُشَاوِرُ جَلِيْسَهُ فِى مَجْلِسِهِ وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَى الْجَوَانِبِ بَلْ يَجْلِسُ مُطْرِقًا سَاكِنًا مُتَأَدِّبًا كَأَنَّهُ فِى الصَّلَاةِ. وَلَا يَكْثُرُ عَلْيِهَ عِنْدَ مَلَلِهِ. وَإِذَا قَامَ قَامَ مَعَهُ وَلَا يَتْبَعُهُ بِكَلَامِهِ وَسُؤَالِهِ. وَلَا يَسْأَلُهُ فِى طَرِيْقِهِ إِلَى يَبْلُغَ إِلَى مَنْزِلِه.ِ وَلَا يُسِيْئُ الظَّنَّ بِهِ فِى أَفْعَالٍ ظَاهِرُهَا مُنْكَرَةٌ عِنْدَهُ فَهُوَ أَعْلَمُ بِأَسْرَارِهِ وَلْيِذْكُرْ عِنْدَ ذَلِكَ قَوْلُ مُوْسَى لِلْخَضْرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ : أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا. وَكَوْنُهُ مُخْطِئًا فِى إِنْكَارِهِ إِعْتِمَادًا عَلَى الظَّاهِرِ
Apabila kamu jadi sorang murid, maka perhatikanlah adab kesopanan terhadap guru sebagaimana berikut :

Hendaknya memberi ucapan salam kepada guru terlebih dahulu. Tidak banyak bicara di hadapannya. Tidak berbicara selagi tidak ditanya gurunya. Tidak bertanya sebelum meminta izin terlebih dahulu. Tidak menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain. Tidak menampakkan penentangannya terhadap pendapat guru, apalagi menganggap dirinya paling pandai dari pada gurunya. Tidak boleh berbisik kepada teman yang duduk di majlis itu. Tidak menoleh-noleh ketika sedang berada di depan gurunya, tetapi harus menundukkan kepala dan tenang seperti dia sedang malakukan shalat. Tidak banyak bertanya kepada guru ketika dia dalam keadaan letih. Hendaknya berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara dengannya katika dia sudah beranjak dari tempat duduknya. Tidak mengajukan pertanyaan kepada guru di tengah perjalanan. Tidak berprasangka buruk kepada guru, ketika dia melakukan perbuatan yang dzahirnya mungkar, sebab dia lebih mengetahui rahasia (maksud perbuatannya), dalam hal ini murid hendaknya mengingat ucapan Nabi Musa kepada Nabi Khidir as, (seperti yang diterangkan dalam Al-Qur'an) : Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. (Q.S. 18 Al Kahfi 71)


Nabi Musa dalam kasus tersebut menyangkal perbuatan Nabi Khidir karena Nabi Musa melihat dari sisi dzahir apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir. (Kitab Bidayatul Hidayah, halaman 94)

Sabtu, 21 Januari 2017

Adab (etika) masuk masjid



Apabila kita mau masuk Masjid, hendaklah mendahulukan kaki yang kanan dengan membaca do’a :

اَللهم اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَافْتَحْ لِىْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
 Ya Allah ampunilah dosa-dosa saya dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untuk saya.

Sesampai di pintu Masjid kita beri salam kepada penghuni Masjid  dengan ucapan :
اَلسَّلَامُ عَـلَيْكُمْ                
Semoga keselamatan atas kamu semua.

Bila sampai pintu Masjid tidak ada orang sama sekali maka kita ucapkan :

اَلسَلَامُ عَلَيْنَا وَ عَلىٰ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shaleh.

Memilih shat pertama, lebih utama sebelah kanan imam. Disebutkan dalam sebuah hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ لَاسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا. رَوَاهُ اْلبُخَارِىُّ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukannya. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera (menuju shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat 'Isya dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak. (H. R. Bukhari no. 615)

Apabila kita telah masuk Masjid, maka tidak duduk dulu sebelum shalat Tahiyatul Masjid sebanyak dua rakaat. Sebagai mana hadits Nabi saw :

أَبَا قَتَادَةَ بْنَ رِبْعِيٍّ الْأنْصَارِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتّٰى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

Abu Qatadah bin Rib'iy Al-Anshariy ra berkata; Nabi saw bersabda: Jika seorang dari kalian masuk ke dalam masjid maka janganlah dia duduk sebelum shalat dua rakaat. (H. R. Bukhari no. 1163)

Kita usahakan shalat tidak di belakang pintu masuk, sehingga tidak mengganggu orang yang mau masuk masjid. Setelah itu kita duduk dengan berniat iktikaf dengan membaca do’a :

نَوَيْتُ إِعْتِكَافَ سُنَّةً لِلهِ تَعَالٰى               
Saya niat iktikaf sunnah karena Allah ta’ala.

Perbanyak dzikir, baca Al-Qur'an sambil menunggu adzan dikumandangkan, dan kita jawab adzan bila dikumandangkan.

Setelah shalat qobliyah jangan lupa berdoa, sebab doa di waktu itu mustajab, sesuai dengan hadits Nabi saw :

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah saw bersabda: Tidak akan tertolak doa antara adzan dan iqamah. (H.R. Abu Daud no. 521, Baihaqi no. 2013 dan lainnya)

Setelah selasai melaksanakan shalat sunnah fajar/qobliyah shubuh kita baca do’a :

اَللهم اجْعَلْ لِي نُوْرًا فِي قَلْبِي، وَنُوْرًا فِي قَبْرِي، وَنُورًا فِي سَمْعِي، وَنُوْرًا فِي بَصَرِي، وَنُوْرًا فِي شَعْرِي، وَنُوْرًا فِي بَشَرِي ، وَنُوْرًا فِي لَحْمِي، وَنُوْرًا فِي دَمِي، وَنُوْرًا فِي عِظَامِي، وَنُوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِي، وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِي، وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِي، وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِي، وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِي، اَللهم زِدْنِي نُوْرًا ، وَأَعْطِنِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِي نُوْرًا بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hati saya, di dalam kubur  saya, pendengaran, penglihatan, rambut, kulit, daging, darah dan di dalam tulang saya. Jadikan pula cahaya di depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah saya. Ya Allah, tambahkanlah cahya kepada saya, berilah cahaya yang besar-besar pada saya, jadikanlah saya sebagai cahaya, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pemurah diantara Yang Pemurah. (Kitab Bidayatul Hidayah halaman 23, karangan Imam Ghazali)

Adab (etika) menerima atau memberi hadiah



Dalam menerima atau memberi hadiah tentunya kita harus mencontoh Rasulullah saw, di bawah ini ada beberapa hadits yang berkenaan dengan menerima atau memberi hadiah :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, bersabda : Hai kaum muslimat, janganlah menganggap remeh pemberian seorang tetangga, walaupun hanya berupa kaki kambing. (H. R. Bukhari no. 2566)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيْبُ عَلَيْهَا
Dari Aisyah ra, katanya : Adalah Rasulullah saw, sering menerima hadiah dan membalasnya. (H. R. Bukhari no. 2585 dan Abu Daud no. 3538)

عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ حَدَّثَنِى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهَا حُلِبَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ دَاجِنٌ وَهْىَ فِى دَارِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، وَشِيْبَ لَبَنُهَا بِمَاءٍ مِنَ الْبِئْرِ الَّتِى فِى دَارِ أَنَسٍ ، فَأَعْطَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَحَ فَشَرِبَ مِنْهُ ، حَتَّى إِذَا نَزَعَ الْقَدَحَ مِنْ فِيْهِ ، وَعَلَى يَسَارِهِ أَبُوْ بَكْرٍ وَعَنْ يَمِيْنِهِ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ عُمَرُ وَخَافَ أَنْ يُعْطِيَهُ الأَعْرَابِىَّ أَعْطِ أَبَا بَكْرٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ  عِنْدَكَ . فَأَعْطَاهُ الأَعْرَابِىَّ الَّذِى عَلَى يَمِيْنِهِ ، ثُمَّ قَالَ الأَيْمَنَ فَالأَيْمَنَ

Dari Zuhri ia berkata, telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik ra, bahwasanya diperah untuk Rasulullah saw, seekor kambing jinak di tempat Anas bin Malik, lalu susu itu sicampur dengan air sumur yang terdapat di sana. Orang memberikan sebuah gelas kepada Rosul saw, dan beliau minum dari situ. Ketika beliau selesai minum, di sebelah kiri beliau ada Abu Bakar, sedangkan di sebelah kanan beliau seorang Baduwi. Karena kuatir kalau-kalau Rasul memberikan gelas itu kepada orang Baduwi itu, Umar berkata : Berikanlah gelas anda itu kepada Abu Bakar, hai Rasulullah. Tetapi Rasul memberikan gelas itu kepada orang Baduwi yang duduk di sebelah kanannya, sambil bersabda : Kepada yang sebelah kanan, terus kepada yang sebelah kanan berikutnya. (H. R. Bukhari no. 2352)

Jumat, 20 Januari 2017

Adab (etika) berpakaian


عَنْ أَبِى مُوْسَى الأَشْعَرِىِّّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِى وَأُحِلَّ لإِنَاثِهِمْ
Dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwasanya Rosulullah saw, bersabda : Diharamkan memakai kain sutera dan emas bagi umatku yang laki-laki, dan dihalalkan bagi umatku yang perempuan. (H. R. Turmudzi no. 1824)

عَنْ سَمُرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبَسُوْا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيْهَا مَوْتَاكُمْ
Dari Samurah, dia berkata : Nabi saw, bersabda : Berpakaianlah dengan kain putih. Sesungguhnya ia lebih suci dan lebih baik (lebih bersih dipandang dan lebih baik menurut pandangan agama) dan kafanilah orang-orang yang mati diantara kamu dengannya. (H. R. Nasa'i no. 1895 dan  Hakim no. 7485)

Di dalam Al-Qur’an warna hijau disebutkan setidaknya sebanyak sembilan kali. Masing-masing adalah pada Q.S: Al-An’an 6:99, Yusuf 12:43, Yusuf 12:46, Al-Kahfi 18:31, Al-Hajj 22:63, Yaasin 36:80, Ar-Rahmaan 55:64, Ar-Rahmaan 55:76, Al-Insaan 76:21.

أُوْلَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَاباً خُضْراً مِّن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَّكِئِينَ فِيهَا عَلٰى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقاً
Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah; (Q.S. 18 Al Kahfi 31)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَنْظُرُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw, bersabda : Allah tidak akan melihat pada hari kiamat kepada orang yang menurunkan (memakai) kainnya karena sombong. (H. R. Bukhari no. 5788  dan Muslim no. 5584)

 عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ ، وَجَعَلَ فَصَّهُ مِمَّا يَلِى كَفَّهُ ، وَنَقَشَ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ . فَاتَّخَذَ النَّاسُ مِثْلَهُ ، فَلَمَّا رَآهُمْ قَدِ اتَّخَذُوهَا رَمَى بِهِ ، وَقَالَ « لاَ أَلْبَسُهُ أَبَدًا » . ثُمَّ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ الْفِضَّةِ . قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَلَبِسَ الْخَاتَمَ بَعْدَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ، حَتَّى وَقَعَ مِنْ عُثْمَانَ فِى بِئْرِ أَرِيسَ
Dari Ibnu Umar ra, bahwa Rosulullah saw, memakai sebuah cincin dari emas atau perak, dan dijadikannya muka cincin itu di sebelah telapak tangan beliau, di mana terukir tulisan Muhammad Rosulullah. Orang banyak mulai memakai cincin seperti itu pula. Setelah beliau melihat orang ramai memakai cincin seperti itu, beliau lalu membuang cincin itu, dan berkata : Saya tidak akan memakainya lagi untuk selama-lamanya. Kemudian beliau memakai sebuah cincin perak. Orang banyak juga mulai memakai cincin perak. Ibnu Umar berkata : Setelah Nabi saw, orang yang memakai cincin itu adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, sampai cincin itu jatuh dan hilang oleh Utsman ke dalam sumur di Aris (H. R. Bukhari no. 5866)
.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَمْشِى أَحَدُكُمْ فِى نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُحْفِهِمَا جَمِيْعًا ، أَوْ لِيَنْعَلْهُمَا جَمِيْعًا

Dari Abu Hurairah ra, Rosulullah saw, bersabda : Jangan ada salah seorang diantara kamu berjalan dengan sandal sebelah saja. Buka keduanya atau pakai keduanya. (H. R. Bukhari no. 5856 dan Muslim no. 5617)

Adab (etika) memberi salam



Di bawah ini beberapa hadits mengenai adab (etika) memberi salam :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ. وَفِى رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِى : الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ
Dari Abu hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda : Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada orang yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang banyak. (H. R. Bukhari no.  6231 dan Muslim no. 5772). Dan di dalam riwayat Bukhori dikatakan:  Yang kecil (muda) mengucapkan salam kepada yang besar (tua).

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللهِ مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلاَمِ
Dari Abu Umamah, ia berkata : Rasulullhah saw bersabda : Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah yang mendahului salam”. (H. R. Abu Daud no. 5199)

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ الرَّجُلاَنِ يَلْتَقِيَانِ أَيُّهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ فَقَالَ أَوْلاَهُمَا بِاللهِ
Dari Abu Umamah, ia berkata : Dikatakan, wahai Rasulullah, dua orang laki-laki bertemu, manakah yang mendahului salam? Maka Rasulullah menjawab : Yang lebih dekat dengan Allah. (H. R. Tirmidzi no. 2910)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ بَدَأَ بِاْلكَلاَمِ قَبْلَ السَّلاَمِ فَلَا تُجِيْبُوْهُ
Nabi Muhammad saw bersabda:  Barang siapa memulai bicara sebelum salam maka janganlah menjawabnya. (KItab Lubabul Hadits, halaman 32)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسُ التَّوَاضُعِ اْلإِبْتِدَاءُ بِالسَّلاَمِ

Nabi Muhammad saw bersabda:  Pokok sopan santun adalah memulai dengan salam. (KItab Lubabul Hadits,halaman 33)

Sabtu, 24 September 2016

Tertawa dalam Islam



Islam mengatur umatnya dalam segala bidang, termasuk tertawa. Di bawah ini beberapa hadits mengenai adab (tata krama) tertawa dalam Islam :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا  قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ ، إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ
Dari Aisyah ra, dia berkata : Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw, tertawa terbahak-bahak sehingga langit mulutnya kelihatan, sesungguhnya ketawa beliau itu, hanya tersenyum. (H .R. Bukhari no. 4828  dan Muslim no. 2123)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تُكْثِرُوْا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ
Dari Abu Harairah ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Janganlah kamu banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati. (H. R. Ibnu Majah no. 4333)

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍْ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِيْ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ وَيْلٌ لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Dari Bahz bin Hakim ia berkata; telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia. (H. R. Abu Daud no. 4992, Tirmidzi no. 2485 dan lainnya)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَحِكَ قَهْقَهَةً فَقَدْ نَسِيَ بَابًا مِنَ اْلعِلْمِ
Nabi Muhammad saw bersabda : Barangsiapa tertawa terbahak-bahak maka benar-benar telah lupa satu bab dari ilmu. (Kitab Lubabul Hadits, halaman. 55)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَحِكَ قَهْقَهَةً لَعَنَهُ الْجَبَّارُ، وَمَنْ ضَحِكَ كَثِيْرًا اِسْتَحَقَّ بِهِ النَّارُ

Nabi Muhammad saw bersabda : Barang siapa tertawa terbahak-bahak maka Al-Jabbar (Allah saw) melaknatinya dan barangsiapa banyak tertawa maka berhak masuk neraka. (Kitab Lubabul Hadits, halaman 55)

Jumat, 19 Februari 2016

Adab, tata krama tingkah laku dan perawatan tubuh








Di bawah ini beberapa hadits mengenai adab (tata krama) tingkah laku dan perawatan tubuh:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ
Dari Ibnu Umar ra, dia berkata; Nabi saw, melaknat orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung rambutnya, dan orang yang mentato dan orang yang minta ditato. (H. R. Bukhari no. 5937)

عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ ، وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ ، وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ ، الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ تَعَالَى ، مَالِى لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهْوَ فِى كِتَابِ اللهِ ( وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ )
Dari Alqomah dari Abdullah, Semoga Allah melaknat wanita membuat tato (dikulitnya) dan yang minta dibuatkan tato. Wanita yang mencukur bulu alisnya (atau yang mencukur sebagiannya agar tampak cantik), wanita yang meregangkan sedikit gigi-giginya supaya tambah indah, yang mengubah terhadap ciptaan Allah. Mengapakah aku tidak melaknat kepada orang yang dilaknat oleh Nabi saw, dan hal tersebut terdapat dalam kitabullah: Apa yang diberikan oleh Rosul, ambillah. (H. R. Bukhari no. 5931 dan Muslim no. 5695)

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ قَالَ عَنْ سُفْيَانَ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَالَ فِي حَدِيثِ يَحْيَى إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
Rasulullah saw, bersabda: Janganlah kalian mencabut uban, tidaklah seorang muslim tumbuh uban padanya dalam Islam -disebutkan oleh Sufyan dalam riwayatnya- Kecuali ia akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat. Dalam riwayat lain (oleh Yahya) disebutkan, Kecuali dengannya Allah akan menuliskan satu kebaikan dan dihapuskan darinya satu dosa." (H. R. Abu Daud no. 4202)


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ أُتِىَ بِأَبِى قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيِّرُوا هَذَا بِشَىْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ .
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Abu Quhafah - ayah Abu Bakar Ash-shiddiq ra, didatangkan kepada Rasululllah saw, pada hari pembukaan kota Mekah, sedang kepala dan jenggotnya seperti bungah matahari karena amat putih. Lantas Rasulullah saw, bersabda: Ubahlah ini (semirlah), tapi jangan menggunakan semir hitam” (H. R. Muslim no. 5631)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا قَدْ حُلِقَ بَعْضُ شَعْرِهِ وَتُرِكَ بَعْضُهُ فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ  اِحْلِقُوهُ كُلَّهُ أَوِ اتْرُكُوْهُ كُلَّهُ.
Dari Ibnu Umar ra, berkata : Bahwa Nabi saw, melihat anak kecil yang sebagian kepalanya dicukur dan sebagian yang lain dibiarkan, lalu beliau melarang mereka (para sahabat), untuk berbuat begitu, beliau bersabda: Cukurlah seluruh rambut kepala atau biarkan (jangan dicukur sama sekali). (H. R. Abu Daud no. 4197)

عَنْ عَلِيٍّ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْلِقَ الْمَرْأَةُ رَأْسَهَا
Dari Ali, ia berkata : Rasulullah saw, melarang bagi seorang perempuan untuk mencukur rambut kepalanya. (H. R. An-Nasa'i no. 5064)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ وَأَخْرَجَ فُلَانًا وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلَانًا
Dari Ibnu Abbas ra, mengatakan, Nabi saw, melaknat laki-laki yang menyerupai (berpakaian seperti) wanita (waria) dan perempuan yang menyerupai (berpakaian seperti) laki-laki, dan beliau mengatakan: Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian, lalu beliau mengusir si fulan dan Umar mengusir fulan. (H. R. Bukhari no. 6834)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ  رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْهَكُوا الشَّوَارِبَ، وَأَعْفُوا اللِّحَى
Dari Ibnu Umar ra, katanya Rasulullah saw bersabda : Potonglah kumis dan panjangkan jenggot. (H. R. Bukhari no. 5893)

Adab, tata krama jual beli




Adab (tata krama) jual beli itu harus kita perhatikan. Sebaiknya bila kita menjual sesuatu kita harus berkata jujur, kelebihan dan kekurangan barang itu harus kita beritahukan, dan kita dimakruhkan bersumpah dengan nama Allah, meskipun benar adanya.

عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
Dari Abu Hurairah ra, berkata : Aku mendengar Rasulullah saw, bersabda: Sumpah itu melariskan perdagangan, tapi menghapus (berkah) keuntungan”. (H. R. Bukhari no. 2087 dan Muslim no. 4209)

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ اْلأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِى الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ.

Dari Abu Qatadah ra, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah saw, bersabda : Takutlah terhadap sumpah dalam penjualan (jangan dilakukan dengan mudah). Sesungguhnya ia melariskan dagangan, tapi menghapus keberkahan (laba). (H. R. Muslim no. 4210)

Tidak boleh menjual barang yang telah dijual kepada orang lain.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبِعِ الرَّجُلُ عَلىٰ بَيْعِ أَخِيْهِ وَلَا يَخْطُبْ عَلىٰ خِطْبَةِ أَخِيْهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ لَهُ
Dari Ibnu Umar dari Nabi saw, beliau bersabda: Janganlah seseorang menjual barang yang telah dijual kepada saudaranya dan janganlah meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya, kecuali jika mendapatkan izin darinya." H.R. Muslim no. 3521

Bila ada pembeli yang sedang membeli sesuatu ditempat lain, maka kita tidak boleh mempengaruhi pembeli itu dengan mengatakan barang kita lebih baik dalam sebuah hadits disebutkan :

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ يَبِعِ الْمَرْءُ عَلَى بَيْعِ أَخِيْهِ وَلاَ يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَلاَ يَخْطُبِ الْمَرْءُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ وَلاَ تَسْأَلِ الْمَرْأَةُ طَلاَقَ الْأُخْرَى لِتَكْتَفِئَ مَا فِى إِنَائِهَا
bahwa Abu Hurairah berkata; Rasulullah saw bersabda: Janganlah kalian melakukan transaksi najasy (bersaing dalam penawaran), dan janganlah seseorang membeli barang yang telah dibeli saudaranya, dan janganlah orang kota bertransaksi dengan orang badui, dan janganlah seseorang meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya, dan janganlah seorang istri meminta suaminya supaya menceraikan madunya agar semua kebutuhannya dapat terpenuhi. (H. R. Muslim no. 3525 dan Nasa'i no. 3239)

Sabtu, 05 September 2015

Adab / tata krama bila bertemu sesama muslim





Hendaknya bila bertemu sesama muslim, kita harus memberi salam, kalau bisa kita yang mendahului memberi salam, hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw :

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ الرَّجُلاَنِ يَلْتَقِيَانِ أَيُّهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ ؟ فَقَالَ  أَوْلاَهُمَا بِاللهِ

“Dari Abu Umamah ra, berkata : Wahai Rosulullah, dua orang laki-laki bertemu, manakah yang mendahului salam ? Rosul menjawab : Yang lebih dekat kepada Allah Ta’ala”. (H. R. Tirmidzi no. 2910)

     Disamping kita disunahkan memberi salam, kita juga disunahkan untuk berjabat tangan, hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw :

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِى أَصْحَابِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ

“Dari Qatadah ia berkata: Saya bertanya kepada Anas,apakah para sahabat Rosulullah saw, itu biasa berjabat tangan ? Ia menjawab : Ya”. (H. R. Bukhari no. 6263)

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

Dari Barra bin  bin Azib ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Tidaklah dua orang laki-laki bertemu, kemudian keduanya bersalaman, kecuali diampuni dosanya sebelum mereka berpisah. (H. R. Ibnu Majah no. 3734)


       Disamping berjabat tangan , kita juga disunahkan mencium tangan bila kita bertemu orang alim / sholeh, dengan tujuan menghormati ilmu dan ibadahnya.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوْنُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ بْنُ أَبِي زِيَادٍ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمٰنِ بْنَ أَبِي لَيْلٰى حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ وَذَكَرَ قِصَّةً قَالَ فَدَنَوْنَا يَعْنِيْ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَدَهُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Ziyad bahwa 'Abdurrahman bin Abu Laila menceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar menceritakan kepadanya, lalu ia menyebutkan kisahnya. Ia berkata, "Kami mendekat kepada Nabi saw, lalu kami mencium tangannya." (H.R. Abu Dawud no. 5225. Ibnu Majah no. 3835. Ahmad no. 4853)

     Bila kita bertemu anak kecil terutama anak kita sendiri, maka kita disunahkan untuk mencium pipinya karena belas kasih antara anak dan orang tua.

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ  رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَبَّلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ وَعِنْدَهُ اْلأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيْمِىُّ جَالِسًا . فَقَالَ اْلأَقْرَعُ إِنَّ لِىْ عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا . فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

Bahwasanya Abu Hurairah ra, berkata : Nabi saw, mencium Hasan bin Ali, dan di sisinya sedang duduk Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi. lantas Al-Aqra’ bin Habis berkata : Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, aku tidak mencium seorang pun dari mereka. Lalu Nabi saw memandang kepadanya seraya bersabda : Barang siapa yang tidak belas kasih, maka tidak akan diberi rahmat oleh Allah. (H. R. Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 6170)