1. Menepati janji
2. Memahami makna jihad
3. Memelihara sunah Nabi
4. Kematian mendidik kehidupan
5. Keluarga sakinah
6. Kisah Nabi Isa ( 1 )
7. Kisah Nabi Isa ( 2 )
8. Memilih rumah makan di perjalanan
9. Syaikh Nawawi Al-Bantani
10. Cara memperoleh ilmu
11. Memanjangkan umur orang tua
12. Surat Maidah ayat 3
13. Klaim datangnya hari kiamat
14. Memperhatikan penampilan anak
15. Kiat mempunyai anak shaleh
16. Menyongsong kematian
17. Terapi ambisi
18. Mengelola keluarga
19. Sifat sombong
20. Sifat kikir
21. Ikhlash
22. Shalat dan kesehatan
23. Demonstrasi
24. Menjenguk orang sakit
25. Menyebarkan salam
26. Kehancuran negeri makin dekat ( 1 )
27. Kehancuran negeri makin dekat ( 2 )
28. Tertipu diri sendiri
29. Keluarga barokah
30. Pacaran itu Islami ?
31. Korupsi
32. Memaksimalkan ikhtiyar
33. Hari raya idul fitri
34. Puasa syawal
35. Memutus hubungan kerabat
36. Durhaka kepada kedua orang tua
37. Zuhud
38. Marhaban ya Ramadhan 1
39. Marhaban ya Ramadhan 2
40. Mengamalkan ilmu
41. Shalat tahajud
42. Membiasakan wudhu
43. Dengki dan iri hati
44. Sumpah palsu
45. Mengendalikan marah
46. Bersedekah
47. Kelebihan umat Muhammad
48. Menyongsong shalat Jum'at
49. Dajjal la'natullah
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Agustus 2015
Minggu, 09 Agustus 2015
MENEPATI JANJI
Janji adalah refleksi sosial manusia dalam
kehidupan ber-interaksi atau muamalah dengan yang lain. Ash-shidqu fil kalâm
kadang berarti perkataan yang sesuai dengan keadaan yang telah atau sedang
terjadi. Kadang juga dimaksudkan pembuktian atau merealisasikan kata-kata yang
telah dijanjikan sebagai harapan. Ia
juga dapat berarti ke sanggupan menjalankan dan
me-laksanakan kepercayaan berupa amanah yang diemban dan diterimanya dari Allah
Swt. yang berupa beriman dan beribadah kepadanya.
Lepas dari maksud-maksud tersebut, secara
sederhana dan garis besar, janji bisa dibagi menjadi tiga: Pertama, janji
kepada Allah Swt. Janji ini kita ikrarkan sebagai jawaban peng-iya-an manusia
dari pertanyaan Allah Swt., sebuah pertanyaan kepada ruh-ruh setiap manusia
sebagai anak cucu Adam agar selalu beriman bahwa Allah Swt. adalah Tuhannya.
Firman Allah Swt. : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan ketu-runan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengam-bil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka
menjawab: "Betul (Eng-kau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Se-sungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan)", ( Q.S. 7
Al A’raaf 172).
atau agar kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah memperse-kutukan
Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang)
sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan
orang-orang yang sesat dahulu?" (Q.S.
7 Al A'raaf 173)
Dari ayat ini, Allah Swt menjelaskan
bahwa setiap manu-sia yang dilahirkan ke dunia sejatinya sudah membawa janji
untuk beriman dan selalu mengakui bahwa Allah Swt adalah Tuhannya yang harus
dipatuhi dan disembah dengan segala upaya dan potensi yang telah dikaruniakan
Allah Swt.. Selalu berusaha untuk memegang keima-nan dan selalu beribadah
kepada-Nya adalah wujud menepati janji kita kepada Allah Swt. tadi.
Kedua, janji kepada diri sendiri, janji
ini bisa berbentuk ungkapan unruk memberikan motifasi kepada diri sendiri agar
mau melakukan amal kebajikan. Oleh Fuqâha` (ulama` ahli fiqh) janji ini biasa
diistilahkan dengan nadzr. Janji ini disebutkan Allah Swt. hukumnya dalam surat
Al-Mâidah: 89. Kurang lebih, Allah Swt. tidak akan menghukum ucapan janji
hambanya yang hanya sekedar laghwul kalâm (sumpah yang tidak dimaksudkan untuk
bersumpah dengan nama Allah). Allah Swt berfirman: “Allah tidak menghukum
kamu dise-babkansumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersum-pah), tetapi
Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat
(melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari
makanan yang biasa kamu berikan kepada keluarga-mu, atau memberi pakaian kepada
mereka atau memerde-kakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan
yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah
kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah
sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu
bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. 5 Al Maa-idah 89)
Ketiga, janji kepada orang lain, kepada
agama, suatu kelompok atau golongan, organisasi per-kumpulan, partai dan bahkan
janji kepada negara dan pemerintah. Janji inilah yang difirmankan Allah Swt.
ketika Dia mejelaskan sifat-sifat orang Mukmin yang berhak mendapat warisan
surga Firdaus. Diantara sifat-sifat itu adalah selalu menjaga akan amanat dan
janjinya. Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara
sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni) yang akan
mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (Q.S. 23 Al Mu'minuun 11)
Ketika manusia dimuliakan Allah Swt.
melebihi mahluk lain dengan akalnya sebagai media atau wasilah berfikir, ketika
manusia diberi kepercayaan untuk mengemban amanat sebagai penghuni bumi, mereka
diperintah untuk meramaikanya dengan berbagai amalan ma`ruf dan tidak
sebaliknya, merusak dan mem-buat kekacauan.
Ketika manusia tidak bisa hidup sendiri
dengan kodratnya sebagai mahluk sosial dan saling melengkapi satu dengan yang
lain, maka adalah hal yang sangat esensial dan segnifikan bila makna ayat-ayat
di atas dapat diaktualisasikan sebagai bentuk ahlak seluruh lapisan masyarakat.
Alangkah indahnya, jika “menepati janji” itu menjadi sebuah karakter kehidupan
sehari-hari.
Menepati dan memenuhi janji adalah bentuk
menteladani satu dari berbagai sifat-sifat Allah Swt dalam bentuk kehidupan
bermasyarakat. Allah Swt dalam berbagai ayat Al-Qur-an menegaskan bahwa Dia
(Allah) tidak akan pernah mengingkari janji-janji-Nya. Bila kita bisa selalu
menepati janji maka berarti kita sedikit telah bisa menginter-pretasikan salah
satu sifat Allah Swt. : Ya Tuhan kami, sesung-guhnya Engkau mengumpulkan
manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya.
Sesung-guhnya Allah tidak menyalahi janji. (Q.S. 3 Ali 'Imran 9)
Kita semua juga mengetahui bahwa menepati
janji adalah salah satu karakter yang wajib dimiliki para rasul. Mereka tidak
pernah berhianat atau berdusta dalam menyampaikan misi kerisalahan dari Tuhan.
Sungguh tidak bisa di baying-kan ketika
suatu masyarakat sudah tidak mengindahkan lagi pekerti menepati janji yang di
bawa dan diajarkan Rasulallah Saw.. Manusia akan selalu resah dan gelisah,
dipenuhi dengan kehawatiran serta buruk sangka dalam segala muamalah bersama orang
lain. Lebih ironis, apabila dengan terkikisnya akhlak mene-pati janji manusia
terpaksa harus disibukkan dengan kebutuhan diri sendiri. Dalam haditsnya yang
masyhur, Rasulallah Saw. telah menjelaskan tiga indikasi sese-orang dapat
dikatagorikan se-bagai orang munafik. Di antaranya adalah apabila berjanji maka
tidak menepati.
Kita sudah sering membaca dalam buku-buku
sejarah-sejarah kenabian bahwa kelompok-kelompok Yahudi pada zaman Rasulallah
Saw. diusir dari kampungnya karena mereka melanggar janji-janji antar
kelom-pok, kelompok Islam dan Yahudi, seandainya mereka tidak melang-garnya
niscaya mereka akan tetap mendapatkan kedamaian berdam-pingan hidup dengan umat
Islam.
Sabtu, 08 Agustus 2015
Memahami makna jihad yang benar
Jihad itu mengandung dua muatan makna,
bahasa dan syariat. Makna jihad secara bahasa adalah kesulitan (masyaqah)
(Fathul Bari Syarh Shakhih Bukhari dan Naylul Awthar), atau juga mempunyai arti
kesungguhan (juhd), kemampuan menanggung beban (thaqah) Jihad dalam aspek
bahasa juga bermakna mencurahkan segala usaha atau tenaga untuk mem-peroleh
tujuan tertentu.
Para ulama fiqih membahas makna jihad
dalam arti syara’ (bukan dalam pengertian bahasa) dalam beberapa aspek, dari
hukum berjihad, siapa yang wajib berperang, etika berperang, siapa yang wajib
diperangi, keutamaan mati syahid dan lain sebagainya. Oleh karena itu
pengertian jihad dalam arti syar’i harus dipahami oleh seluruh umat Islam.
Jangan sampai pemaknaan jihad itu mengalami kerancuan dan pem-belokan, seperti
yang sedang marak akhir-akhir ini. Sebagian kelompok menterjemahkan jihad
dengan makna perang secara membabi buta, seperti halnya bom bunuh diri.
Sebaliknya, kelompok lain memahami jihad dengan pemaknaan yang terkesan
mengecilkan perang. Mereka lebih suka mengedepankan jihad dengan pengertian
jihad ekonomi, jihad pendidikan, jihad melawan nafsu dan lain-lain dari pada
jihad yang bermakna perang. Bahkan sebagian yang lain, jelas-jelas mengatakan
bahwa jihad itu bukan perang, menurutnya, nash Al Quran menjelaskan perang
dengan sebutan qital, bukan jihad.
Sedangkan yang implisit, tetapi tetap
tidak bisa diartikan kecuali perang, antara lain: “Hai Nabi, berjihadlah
(melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah
terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali
yang seburuk-buruknya.” (QS. At Taubah:73)
Ada pula nash-nash jihad yang mengandung
pengertian selain peperangan, antara lain: “Dan orang-orang yang berjihad
untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka
jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang
berbuat baik.” (QS. Al Ankabut : 69).
Juga ada Hadits yang berbicara tentang
jihad yang mengandung pengertian selain perang, yaitu: “Sayyidatina A’isyah
bertanya kepada Nabi, ‘Adakah jihad bagi kaum wanita?’ ‘Rasulullah saw.
bersabda: ‘Yaitu haji dan umrah.” (HR. Ahmad).
Selain berperang memperta-hankan
kedaulatan negaranya dari serangan musuh, dalam Islam juga dikenal dengan
penaklukan terhadap negara-negara kafir yang memusuhi Islam, menghalangi dakwah
dan membuat kerusakan di muka bumi. Perang yang bersifat menyerang ini hukumnya
fardlu kifayah bagi umat Islam yang sudah baligh, laki-laki, merdeka, tidak
cacat dan mempunyai biaya yang cukup untuk berperang dan cukup untuk keluarga
yang ditinggalkannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Perangilah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan mereka tidak
mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya dan tidak beragama
dengan agama yang benar (Islam), yaitu dari orang-orang yang diberikan Al Kitab
kepada mereka, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam
keadaan tunduk.” (QS. At Taubah:29).
Sekilas, dengan pendekatan perang model
kedua ini, Islam terkesan sebagai agama radikal dan penuh kekerasan. Seakan
Islam adalah agama yang disebarkan dengan pedang dan cara-cara pemaksaan. Namun
sebenarnya, Islam tidak tidak pernah memak-sakan keyakinan keberagamaan Islam
kepada orang-orang non muslim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Tidak
ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan
yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 256).
Penyerangan ini semata-mata bertujuan
untuk kemaslahatan dan rahmat bagi kehidupan manusia. Selain itu, perang dengan
menaklukkan atau menyerang darul harb (negara yang memusuhi Islam) atau kafir
harb (kafir yang memusuhi Islam) ini harus melalui beberapa tahaban. Pertama,
tawaran kepada mereka untuk tunduk terhadap kekuasaan Islam. Tahab kedua, jika
menolak, mereka diminta membayar jizyah (pajak) dengan jaminan perlindungan
keamanan dan hak mereka sama dengan kaum muslimin. Tahab ketiga, jika menolak,
ditawarkan perang.
Penyerangan atau penaklukan yang
dilakukan oleh kaum muslimin ini sejatinya jauh berbeda dengan penjajahan yang
dilakukan oleh negara-negara Barat. Mereka menaklukan negara-negara kecil dan
lemah dengan tujuan menjajah, menin-das dan merampas, untuk semata-mata
kepentingan sendiri. Jika misi kaum penjajah adalah penindasan dan pemerasan,
sebaliknya, misi perang dalam Islam adalah menciptakan rahmatan lil alamin,
mengembalikan manusia ke dalam agama dan kehidupan yang suci untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat. Akibatnya, negara-negara jajahan kaum kolonialis
mengalami keter-belakangan, ketertindasan, kehancuran, dan kemiskinan,
sebaliknya negara-negara taklukan tentara-tentara Islam justru mengalami
perkembangan dan kemajuan yang pesat dalam segala aspek kehidupan, di bidang
ekonomi maupun saint dan teknologi. Contohnya adalah penaklukan Mesir oleh
Khalifah Umar bin Khattab, Andalusia oleh Thariq bin Ziyad dan lain-lain.
Islam mensyari’atkan perang tapi penuh
dengan etika. Hadits berikut ini sebagai buktinya: “Ketika mengutus panglima
perang Rasulullah saw. berwasiat kepadanya dan seluruh pasukan agar bertaqwa
dan berbuat baik. Rasulullah bersabda, “Berperanglah di jalan Allah dengan
nama Allah (ikhlas). Perangilah orang kufur pada Allah. Janganlah kalian
berkhiyanat. Janganlah kalian menipu. Janganlah kalian mencincang. Janganlah
kalian membunuh anak-anak.” (HR. Tirmidzi).
Etika berperang juga diajarkan oleh
Khalifah Abu Bakar Shidiq ra. ketika mendelegasikan Usama bin Zaid ke Syam, “Janganlah
kamu berkhianat, jangan menipu, jangan mencincang, jangan membunuh anak kecil,
jangan membunuh orang tua, jangan membunuh perempuan, jangan menebang pohon
kurma dan jangan pula membakarnya, jangan menebang pohon yang berbuah, jangan
menyembelih kambing, lembu atau unta kecuali untuk dimakan. Jika kamu melewati
kaum yang mengabdikan diri di gereja, maka biarkanlah mereka beserta
pengabdiannya.” (Tafsir Ayatul Ahkam).
Di sinilah letak seni keindahan perang
dalam Islam. Dengan begitu tidak ada alasan menjatuhkan vonis bahwa Islam
adalah agama radikal. Tidak ada celah menuduh Islam sebagai agama yang
melegalkan segala bentuk kekerasan dan kesadisan. Justru sebaliknya, Islam adalah
agama penebar rahmat (kasih sayang) bagi kehidupan alam semesta. “Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.” (QS. Al Anbiya:107)
Memelihara sunnah Nabi
Sebagai seorang mukmin yang senantiasa mendambakan
ridla dari Allah Subhanahu wata’ala, hendaknya selalu menja-lankan dan
memelihara amal-amal sunah dan beberapa adab (etika), sebagaimana yang telah
dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam, keluarga dan para
sahabatnya, karena hal ini dapat menjernihkan hati dan mengandung beberapa
rahasia yang lain.
Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli
shufi. Dengan bekal keteguhannya memelihara amal sunah dan beberapa adab serta
berperilaku dengan akhlaknya Nabi, mereka memperoleh martabat dan maqam yang
luhur di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Itu sebabnya dalam ilmu Tashawwuf, yang
paling banyak dibicarakan adalah pembahasan mengenai adab. Kata tashawwuf sendiri
berasal dari kata “shofa-yashfu” yang artinya jernih.
Dalam beribadah sholat missal-nya, hendaknya kita memelihara beberapa kesunatan dan adab. Seorang laki-laki dalam beribadah sholat, hendaknya memakai pakaian yang berlengan panjang dan menutupi kepala (tidak gundulan). Meski tidak ada nash Hadits yang berbicara tentang hal ini, namun bukankah Allah Subhanahu wata’ala menganjur-kan kepada kita untuk berpakaian yang baik ketika melaksanakan sholat? Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. 7 Al A'raaf 31).
Namun bukan berarti ketika amal sunah
dan adab itu sudah dipelihara dengan baik, kita menjadi terbebas dari
menjalan-kan amal fardlu sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan orang-orang
bodoh. Yang sebenarnya, justru amal fardlu harus tetap lebih diutamakan dari
pada amal sunah dan adab. Artinya, bahwa ketiganya, baik amal fardlu, amal
sunah dan juga adab sama-sama harus dijalani dan dipelihara dengan
sebaik-baiknya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman
dalam Hadits Qudsi: “Rasulullah saw. bersabda, Allah subhanahu wata’ala
berfirman, “Tidak ada seorang pun hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku
dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada melakukan amal fardlu. Hamba-Ku
yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, niscaya Aku
mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku (menjaga) telinganya yang
ia mendengar dengannya, Aku (menjaga) matanya yang ia melihat dengannya, Aku
(menja-ga) tangannya yang ia memukul dengannya, Aku (menjaga) kaki-nya yang ia
berjalan dengannya. Jika dia meminta-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Dan bila
dia meminta perlindungan kepa-da-Ku, Aku pasti juga akan melindunginya.”
(HR. Bukhari)
Sebagai seorang muslim, kita tentunya
harus konsisten dalam menjalankan syariat Islam dengan cara selalu mengikuti
segala hal yang telah diajarkan oleh Rasu-lullah Shollallahu alaihi wasallam,
baik mulai dari sikap, ucapan maupun perbuatannya. Misalnya, tatacara beliau
makan, minum, menerima tamu, bertetangga, berbisnis, bergaul dengan istri dan
keluarga, dan lain-lain. Mengikuti dan meneladani segala aspek dari perilaku
Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam ini adalah wujud dari rasa kecintaan
kepada Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya: Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosa-mu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Q.S. 3 Ali 'Imran 31)
Namun, yang terjadi pada masa sekarang
ini, justru banyak orang Islam yang lebih memilih mengikuti perilaku dan
petunjuk kalangan agama lain, Nasrani dan Yahudi. Setidaknya dapat dilihat dari
beberapa hal yang mulai mentradisi di tengah-tengah masyarakat kita. Misalnya,
pesta ulang tahun yang diikuti dengan proses meniup lilin, tepuk tangan,
memotong roti atau tumpeng dan bernyanyai bersama “Happy best day to you”.
Kalau dicermati, sebenarnya kegiatan ini sama sekali tidak ada dasarnya dalam
syariat Islam. Demikian pula halnya kebiasaan memakai baju serba hitam di saat
ta’ziah mayit, atau kebiasaan berpakaian serba ketat, bukak-bukaan dan
trans-paran yang makin menggejala di lingkungan kaum muslimin, semuanya adalah
buah propa-ganda kaum Nasrani dan Yahudi, yang tak terasa telah menjadi tradisi
kaum muslimin.
Dan juga sering kita temui adalah pada
saat kita makan, saudara-saudara kita memakan makanan dengan menggunakan tangan
kiri, makan nasi rawon, nasi soto atau lainnya yang pakai kerupuk, sering makan
kerupuk-nya itu dengan tangan kiri. Makan tahu (gorengan lainnya) dengan cabe,
maka makan cabenya biasanya dengan tangan kiri. Memakan bakso pakai garpu,
biasanya makan pentolnya pakai garpu sehingga dengan menggunakan tangan kiri.
Hal ini memang telah ditularkan kebia-saan ini oleh orang barat yang natabenya
adalah Nasrani dan Yahudi. Padahal rasulullah saw. telah mengingatkan kita pada
sebuah hadits : “Dari Salamah bin Al-Akwa’ ra. sesungguhnya se-orang
laki-laki makan di sisi rasulullah saw. dengan tangan kirinya. Lantas
rasulullah saw. bersabda : Makanlah dengan tangan kananmu. Dia menjawab : Aku
tidak mampu. Rasul bersabda : Semoga engkau tidak mampu. Perawi berkata : Dia
enggan mengikuti perintah rasul karena sombong. Akhirnya dia tidak mampu
mengangkat tangan ke mulutnya.” (H.R. Muslim)
Hadits di atas menunjukkan perintah
memakan makanan dengan tangan kanan. Ada lagi yang sering kita jumpai yaitu
pada saat menghadiri undangan hajatan saudara kita yang disertai makan ala
prasmanan, maka kebiasaan diantara kita makan sambil berdiri : “Dari Anas
ra. dari Nabi saw. Sesungguhnya beliau melarang seorang laki-laki minum dengan
berdiri. Qatadah berkata : Kami bertanya kepada Anas, bagaimana kalau makan?
Anas berkata : Itu lebih jelak.” (H.R. Muslim)
Barangkali inilah yang dikha-watirkan
oleh Baginda Nabi Muhammad saw., sebagaimana sabdanya dalam Hadits Shohih yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, “Diriwayatkan
dari Sa’id al Khudlri, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sungguh kamu semua besuk
akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal,
sehasta demi sehasta. Bahkan ketika mereka masuk lubangnya Biawak (binatang
Dlob), kamu semua mengikutinya.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, (apakah
mereka yang dimaksud sebelum kamu semua itu) Yahudi dan Nashrani?” Rasulullah
menjabab, “Kalau tidak mereka, lalu siapa?”
Prediksi Nabi saat ini memang telah
sangat jelas terlihat kebe-narannya. Selain beberapa hal di atas, masih sangat
banyak budaya-budaya barat yang hampir semuanya budaya Nashrani dan Yahudi
secara tidak terasa namun pasti, telah diikuti oleh kebanyakan umat Islam.
Jumat, 07 Agustus 2015
cukuplah kematian sebagai nasehat
“Perbanyaklah
mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)
Cukuplah kematian sebagai nasehat
bagi orang yang hidup, karena kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai
makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tidak menyimpang. Nilai-nilai
pelajaran yang ingin diungkapkan oleh kematian begitu banyak, menarik, bahkan
menenteramkan. Dengan begitu mengingat kematian dapat mendorong meraih sukses
dalam kehidupan.
Namun, ironisnya, kebanyakan manusia
justru lebih suka melupakan kematian. Hidup dan kematian, bagi mereka, seolah
dua lembah yang saling berpisah. Satu sama lain seperti tak berhubungan. Mereka
mengatakan, bersenang-senanglah di lembah yang satu. Dan, jangan pedulikan
lembah lainnya.Mereka kurang menyadari bahwa, kematian adalah garis pemisah
antara panggung kepura-puraan dengan kehidupan sebenarnya. Garis yang
memisahkan aneka lakon dan peran dengan sosok asli seorang manusia. Garis yang
akhirnya menyatakan kesudahan segala peran dan dikembalikannya segala alat
permainan.
Sayang sekali, tak sedikit manusia yang
lebih cinta dengan dunia kepura-puraan. Mereka pun berkhayal, andai
kepura-puraan bisa berlangsung selamanya. Bisa berpuas diri dengan aneka lakon
dan peran. Tanpa disadari, kecintaan itu pun berujung pada kebencian. Benci
pada kematian.
Allah swt menggambarkan orang-orang yang
enggan dan lari dari kematian. Seperti dalam firmanNya: Katakanlah: "Sesung-guhnya
kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesung-guhnya kematian itu akan
menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui
yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan". (Q.S. 62 Al Jumu'ah 8)
Orang
yang demikian itu juga menginginkan umur yang panjang supaya bisa
bersenang-senang lebih lama di dunia, padahal umur yang panjang itu tidak dapat
mem-buat mereka bahagia lebih-lebih di akhirat nanti, Allah telah
mengingatkannya dalam Al-Qur’an : Dan sungguh kamu akan mendapati mereka,
manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi)
dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu
tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari
siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. 2 Al Baqarah
96)
Ketakutan adalah alasan yang paling lumrah
buat mereka yang tidak suka mengingat kematian, bahkan berusaha lari dari
kematian. Banyak alasan kenapa harus takut. Salah satunya, mereka takut
berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai sudah
pesta kenikmatan. Karena kehidupan sudah terlanjur mereka terjemah-kan sebagai
kenikmatan.
Selain itu, ada ungkapan batin yang tidak
mereka sadari. Bahwa, mereka enggan berjumpa dengan Allah, sebagaimana mereka
selalu menghindar dari perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka
lakukan. Keengganan itu sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun
enggan bertemu mereka, manakala mereka juga enggan bertemu dengan-Nya.
“Diceritakan oleh Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa
menyukai bertemu Allah, maka Allah juga senang berjumpa dengannya.
Sebaliknya, siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun enggan berjumpa
dengannya.” (HR. Ahmad)
Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan
kerinduan yang diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama
lagi ajal kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau
mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan, sakit itu
lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku bahagia daripada
hidup, maka permudah-kanlah kematian itu untukku. Sehingga aku dapat bertemu
dengan-Mu.”
Atau boleh jadi ketakutan terhadap
kematian lebih karena ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika
diminta mandi. Karena yang diketahui si anak tentang mandi tak lebih dari
dingin, dipaksa ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian.
Kematian bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, harta
dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah.
Di situlah perbedaan mendasar antara hamba
Allah yang baik dengan yang buruk. Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran
tentang kematian dari Rasulullah saw. “Aku bersama Nabi saw, kemudian, ada
seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah di antara orang-orang mukmin yang
paling mulia, wahai Rasul?’ Beliau saw menjawab, ‘Yaitu, orang yang paling
bagus budi pekertinya’. Sahabat itu bertanya lagi, ‘Siapa di antara orang-orang
mukmin yang paling pandai?’ Rasul menjawab, ‘Yaitu orang yang ter-banyak
ingatnya kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah
orang-orang yang pandai.” (HR. Ibnu Majah)
Bagi hamba Allah, tak ada kemuliaan apa
pun kecuali dari tetap menjaga ingatannya dengan kematian. Bahkan, seorang yang
berada pada puncak kekuasaan sekalipun. Setidaknya, itulah yang hendak
diungkapkan seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hampir sepanjang usia
kekua-saannya, tak pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian.
Caranya begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling
mengi-ngatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat. Kemudian,
semuanya pun menangis. Seakan-akan, di samping mereka ada jenazah yang sedang
ditangisi.
Kematian mendidik kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian
Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi sosok
yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya yang mengeluh.
Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa hidup Umar bin Abdul
Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi pengingat sejati.
Jadi sebenarnya, kematian itu sungguh
berarti bagi sebuah kehidupan. Kematian dapat selalu memberi peringatan, agar
kehidupan tetap menjadi sesuatu yang berarti. Sebaliknya, kehidupan juga
mengingatkan kematian, sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik
kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian
keluarga sakinah mawadah warohmah menurut islam
Rumah tangga ibarat dua sisi mata uang,
suatu saat ia datang dan menjelma menjadi taman surga yang membuat semua
penghuninya merasa betah di dalamnya, namun bisa saja ia datang sebagai tambang
derita yang seolah-olah mau membunuh kita secara perlahan. Lalu bagaimana
keluarga yang kita bina bisa datang dengan wajah taman surga
Inilah
yang menjadi idaman setiap insan. Namun apakah mereka semuanya berhasil atau
malah banyak yang menemukan jalan buntu, baik yang berkecukupan secara materi
maupun yang tersorang-sorang? Apa sebenarnya rahasianya? Mengapa keba-nyakan
dari kita sulit mewujudkannya? Bahkan tidak jarang yang mewarnai rumah tangga
adalah percekcokan dan pertengkaran yang berujung pada terancamnya keutuhan
rumah tangga dengan bahasa lain yakni perceraian.
Allah
SWT menyebutkan perjanjian untuk membangun rumah tangga sebagai perjanjian
yang sangat kuat dan kokoh yaitu “mitsaqan ghalidlo”. Allah swt menyebutkan
kalimat tersebut hanya dalam dua hal yaitu dalam membangun rumah tangga yang
terdapat dalam surat An nisa’: 21,
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali,
padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami
isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang
kuat.” (Q.S. 4 An Nisaa' 21)
Dan dalam membangun misi kenabian.
Rosulullah SAW sendiri bersabda: “Perbuatan halal yang dimurkai oleh Allah
adalah perceraian.” Ada makna yang cukup tersirat dan rahasia dalam dawuh
tersebut. Tidak ada satu perbuatan halal yang Allah murkai kecuali perceraian.
Mengapa ini terjadi dalam perceraian? Inilah yang menjadi PR kita. Tentu
masing-masing dari kita tidak ingin dimurkai sehingga rahmat Allah menjauh dari
rumah kita.
Alhasil bangunan rumah tangga ibarat
bangunan misi kenabian. Sehingga keluarga sakinah yang menjadi impian setiap
manusia tidak mudah diwujudkan sebagaimana tidak mudahnya mewujudkan misi
kenabian oleh setiap manusia. Perlu persyaratan-persyaratan yang ketat dan
berat. Mengapa? Karena dua persoalan ini bertujuan mewujudkan kesucian.
Kesucian berpikir, mengolah hati, bertindak, dan generasi penerus umat manusia.
Makna
Sakinah
Sebelum kita merintis keluarga sakinah,
alangkah baiknya kita mengetahui dulu apa arti istilah tersebut. Istilah
sakinah digunakan Al qur’an untuk menggambarkan kenyamanan keluarga. Istilah
ini mempunyai akar kata yang sama dengan “sakanun” yang berarti tempat tinggal.
Bisa disimpulkan bahwa istilah terse-but digunakan Al qur’an untuk menyebut
tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan
tenang, sehingga menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih (mawaddah
warahmah) di antara sesama anggotanya. Untuk mencapai itu semua, dalam bangunan
rumah tangga Allah SWT telah menetapkan hak dan kewajiban. Kita juga bisa
meniru sosok figur yang telah berhasil mewujudkan sebuah keluarga besar yang
berhasil mencetak generasi-generasi penerang alam. Dan ini tidak akan
terbantahkan lagi oleh semua kaum muslimin. Figur tersebut adalah baginda
Rasulullah yang berhasil membina dan membentuk keluarga saki-nan dengan
Sayyidah Khadijah
Wanita
Lebih Berperan
Disini ada hal yang menarik untuk dikaji,
khususnya bagi kaum hawa. Apa itu? Fakta berbicara bahwa Rasulullah banyak
dibicarakan oleh kaum adam bahwa beliau melakukan pologami, kemudian mereka
melaksanakannya dengan dalil mencontoh Rasulullah. Tapi kita harus ingat kapan
Rosulullah berpoligami dan mengapa beliau melakukan hal ini? Sejarah mencatat
bahwa beliau tidak berpoligami saat beliau masih berdampingan dengan Sayyidah
Khadijah sampai beliau mening-gal. Hal ini karena sosok Khadijah yang luar
biasa, seorang istri yang benar-benar memahami jiwa dan profesi suaminya.
Beliau korbankan seluruh harta benda-nya untuk dakwah Rosulullah, Sehingga
Rasulullah tidak pernah melupakan Khadijah walaupun sudah meninggal dan
disampingnya telah ada pendamping wanita yang lain bahkan lebih dari satu.
Sosok Khadijah al-Kubra ini bisa diambil uswahnya bagi wanita khususnya kaum
ibu supaya sang suami tidak mudah menoleh ke lain hati.
Maka bisa disimpulkan bahwa yang paling
berperan besar dalam membentuk keluarga sakinah adalah wanita. Mari kita
perhatikan firman Allah SWT :
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. 30 Ar Ruum 21)
Dalam ayat tersebut ada kalimat “supaya
kalian memperoleh atau merasakan sakinah” yang merupakan arti dari kalimat “Litaskunu”.
Jadi sakinah itu dalam diri perempuan. Tapi harus diingat laki-laki harus
menjaga sumber sakinah tersebut, tidak lantas mencemati dan menodainya agar
sumber itu tetap terjaga, jernih dan suci, serta mengalir ke semua anggota
keluarga.
Hak dan
Kewajiban Sesama
Sebagai pengantar untuk mem-bangun keluarga sakinah perlu kiranya kita harus mengetahui untuk selanjutnya mengaplika-sikan hak dan kewajiban pasangan suami istri yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya. Hak-hak suami antara lain: suami adalah pemimpin keluarga. Dalam Al qur’an disebutkan bahwa “kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)”, suami berhak dipatuhi dan tidak boleh ditentang, istri tidak boleh mensedekahkan harta atau berpuasa sunnah kecuali mendapat izin dari sang suami, suami harus dilayani dalam semua kebutuhan jasmani dan biologis kecuali kalau ada udzur, dan lain sebagainya
Adapun hak-hak istri antara lain: istri
harus mendapat perlakuan yang baik sesuai dengan firman Allah yang artinya “Dan
bergaullah dengan mereka secara patut” (An Nisa’: 19),
Istri
berhak mendapatkan nafkah dari suami baik sandang, pangan maupun papan, dan
lain sebagainya.
Selain sebuah keluarga harus mengetahui hak dan kewajiban, keluarga yang sakinah adalah bisa meredam emosi dan pertikaian. Rosulullah bersabda: “laki-laki yang terbaik dari umatku adalah orang yang tidak menindas keluarganya, menyayanginya dan tidak berlaku dzalim pada mereka.” Ada suatu kisah, pada suatu hari seorang sahabat menghadap Rasulullah dan berkata:
Selain sebuah keluarga harus mengetahui hak dan kewajiban, keluarga yang sakinah adalah bisa meredam emosi dan pertikaian. Rosulullah bersabda: “laki-laki yang terbaik dari umatku adalah orang yang tidak menindas keluarganya, menyayanginya dan tidak berlaku dzalim pada mereka.” Ada suatu kisah, pada suatu hari seorang sahabat menghadap Rasulullah dan berkata:
“ya Rasulullah, aku mempunyai seorang istri
yang selalu menyambutku ketika aku datang dan menghantarkanku saat aku keluar
rumah. Jika ia melihatku termenung, ia sering menyapaku dengan mengatakan: ada
apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika rizkimu yang kau risaukan, ketahuilah
bahwa rizkimu ada ditangan Allah. Tapi jika yang kau risaukan adalah urusan
akhirat maka semoga Allah menambah rasa risaumu.” Setelah mendengar cerita
sahabat tersebut, Rasulullah bersabda: “sampaikan kabar gembira pada istrimu
tentang surga yang sedang menunggunya! Dan katakan padanya bahwa ia temasuk
salah satu pekerja Allah. Allah mencatat setiap hari baginya pahala tujuh puluh
syuhada’.”
KISAH NABI ISA ( 2 )
Nabi Isa juga memberitahu tentang
kedatangan seorang rasul selepas nabi Isa, yang namanya akan dipuji. Ayat yang
mengisahkannya berbunyi:
“Dan
(ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku,
yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang
Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)"
Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang
nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (Q.S. 61 Ash
Shaff 6)
Seperti Nabi atau Rasul yang lain, nabi
Isa mempunyai pengikut-pengikut yang setia dan juga yang tidak setia atau yang
menentang. Pengikut-pengikutnya yang setia percaya kepada Allah dan kepadanya.
Mereka adalah muslim. Firman Allah:
“Dan (ingatlah),
ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu
kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab: "Kami telah beriman
dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
patuh (kepada seruanmu)". (Q.S. 5 Al Maa-idah
111)
Pengikut-pengikut yang setia pula
menjadi penolong-penolong, bukan baginya tetapi bagi Allah. Firman-Nya:
“Maka tatkala Isa
mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: "Siapakah yang
akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para
hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kami lah penolong-penolong
(agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. 3 Ali
'Imran 52)
Begitu juga bagi pengikut-pengikut setia
Nabi-Nabi lain, termasuk Muhammad. Semuanya menjadi penolong-penolong Allah,
untuk melaksana dan menyampaikan misi-Nya. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang
beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra
Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah
yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?"
Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kami lah penolong-penolong
agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan
(yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. (Q.S. 61 Ash Shaff 14)
Walau bagaimana pun, pengikut-pengikut
Nabi Isa yang setia memerlukan bukti untuk megesahkan kebenarannya dan supaya
hati mereka menjadi tentram. Untuk itu mereka memohon sebuah hidangan dari
langit. Kisahnya berbunyi begini:
“(Ingatlah),
ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putra Maryam, bersediakah
Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?" Isa menjawab:
"Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman". (Q.S. 5 Al Maa-idah 112)
Mereka
berkata; "kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami
dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami
menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu". (Q.S. 5 Al Maa-idah 113)
Justeru itu, nabi Isa memohon kepada
Allah,
Isa putra
Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu
hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami
yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan
menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi
rezeki Yang Paling Utama". (Q.S.
5 Al Maa-idah 114)
Allah mengabulkan permintaannya. Lantas,
hidangan yang turun menjadi satu lagi mukjizat bagi Nabi Isa. Dan ia juga
menjadi nama sebuah surah di dalam al-Qur’an, yaitu surah kelima, al-Maidah.
Selain daripada kelahiran yang luar biasa
dan hidangan dari langit, Nabi Isa telah dikaruniai dengan beberapa mukjizat
lain. Ayat berikut menjelaskannya:
“(Ingatlah),
ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku
kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu
dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa;
dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil,
dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang
berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu
menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu
menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang
berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan
orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu
Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu
mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang
kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata".
(Q.S. 5 Al Maa-idah 110)
Diangkat Ke langit
“(Ingatlah),
ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu
kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari
orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas
orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah
kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu
berselisih padanya". (Q.S. 3
Ali 'Imran 55)
“Aku tidak pernah
mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku
(mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan
adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.
Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka.
Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”. (Q.S. 5 Al Maa-idah 117)
Akan tetapi, sebagian daripada kaum Bani
Israil mengatakan bahwa mereka telah membunuhnya ditiang salib. Allah
mengatakan yang sebaliknya. Apa yang berlaku hanya satu kesamaan saja.
Firman-Nya:
dan karena
ucapan mereka: "Sesung-guhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra
Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula)
menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan
'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang
(pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali
mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh
itu adalah Isa”. (Q.S. 4 An Nisaa'
157)
Di akhir zaman nabi ‘isa akan turun
kembali ke bumi, bukan sebagai nabi tapi sebagai umat nabi muhammad SAW.
(mengikut syariat nabi muhammad). akan berdakwah mengajak orang2 kristen untuk
islam, menghancurkan salib-salib, membunuh dajjal.
KISAH NABI ISA ( 1 )
Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan
dari kecil di dalam al-Qur’an ialah Isa. Nabi Isa diutus kepada kaum Bani
Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum al-Qur’an.
Di dalam al-Qur’an, Nabi Isa disebut
dengan empat panggilan yaitu Isa,
Isa putera Mariam,putera
Mariam dan al-Masih.
Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah. Dia sangat dimuliakan Allah. Dia
memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril)
berkata: "Hai Maryam, sesung-guhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan
kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan
kamu)”. (Q.S. 3 Ali 'Imran 42)
Mariam, ibu Nabi Isa, telah menempuh
satu ujian yang amat berat daripada Allah. Dia dipilih untuk melahirkan seorang
Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan
yang suci.
Kelahiran Nabi Isa merupakan suatu
mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapa. Kisahnya diceritakan di dalam al-Qur’an.
Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Mariam atas perintah
Allah. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat.
Maryam berkata:
"Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah,
jika kamu seorang yang bertakwa".
(Q.S. 19 Maryam 18)
Ia (Jibril)
berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk
membe-rimu seorang anak laki-laki yang suci".(Q.S. 19 Maryam 19)
Pada ayat yang lain, diceritakan bahawa
malaikat yang datang itu telah memberi nama kepada putera yang bakal
dilahirkan. Nama itu diberi oleh Allah, dan dia (Isa) akan menjadi terhormat di
dunia dan akhirat sambil berkedudukan dekat dengan Tuhan. Ayatnya berbunyi:
(Ingatlah),
ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan
kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang
datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terke-muka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada
Allah)”. (Q.S. 3 Ali 'Imran 45)
Kemudian Mariam bertanya: Maryam
berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak
pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang
pezina!" (Q.S. 19 Mar-yam 20)
Malaikat menjawab: Jibril
berkata: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah
bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai
rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah
diputuskan". (Q.S. 19 Maryam
21)
Maka lahirlah Isa putera Mariam hampir
enam ratus tahun sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. Allah membuat Nabi Isa dan
ibunya satu ayat (tanda) bagi manusia, yaitu tanda untuk menunjukkan
kebesaran-Nya: “Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya
suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di
suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan
sumber-sumber air bersih yang me-ngalir”.
(Q.S. 23 Al Mu'minuun 50)
Isa adalah seorang Nabi dan juga seorang
Rasul. Nabi Isa dan beberapa orang rasul telah dilebihkan Allah daripada
rasul-rasul lain. Ada yang Dia berkata-kata kepadanya, ada yang Dia menaikkan
darjat, dan bagi Isa, Dia memberi bukti-bukti yang jelas serta mengukuhkannya
dengan Roh Suci. Firman-Nya: ”Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas
sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (lang-sung
dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggi-kannya beberapa derajat. Dan Kami
berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia
dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah
berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah
datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih,
maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang
kafir. Seandainya Allah meng-hendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan
tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.
(Q.S. 2 Al Baqarah 253)
Namun begitu, manusia dilarang oleh Allah
untuk membeda-bedakan antara para rasul dan Nabi. Larangan itu berbunyi:
“Katakanlah (hai
orang-orang mukmin): "Kami beriman ke-pada Allah dan apa yang diturunkan
kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan
anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang
diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang
pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Q.S.
2 Al Baqarah 136)
Akibat membeda-bedakan Nabi atau Rasul
dapat dilihat pada hari ini, iaitu Nabi Isa dipercayai oleh sebagian pihak
sebagai Tuhan atau anak Tuhan, yang berhak membuat hukum agama.
Oleh kerana Isa seorang Nabi yang diberi sebuah Kitab, Injil, yang
mengandungi petunjuk dan cahaya untuk menjadi pegangan Bani Israil. Selain
menyuruh Bani Israil menyembah Allah dengan mentaati Injil, Nabi Isa
mem-bernarkan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya. Dua firman Allah
menjelaskannya di sini, berbunyi:
Dan
Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam,
membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan
kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan
menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. 5 Al Maa-idah 46)
“Aku tidak pernah
mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku
(mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan
adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.
Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka.
Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”. (Q.S.
5 Al Maa-idah 117)
Dan juga disebut di dalam Injil (dan
Taurat) yaitu berita mengenai kedatangan seorang Nabi berbangsa Arab, atau ummi
: “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya)
mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada
di sisi mereka,
yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari
mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban
dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman
kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang
diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang
beruntung”. (Q.S. 7 Al A'raaf 157)
dan janji dikurniakan Taman atau syurga
bagi orang-orang yang berpe-rang di jalan Allah: “Sesungguhnya Allah telah
membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga
untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau
terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain)
daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan
itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (Q.S.
9 At Taubah 111)
Janji itu juga didapati di dalam Taurat dan
al-Qur’an. Ketika nabi Isa diutus, manusia sedang berselisih dalam hal agama.
Maka kedatangannya adalah juga untuk memperjelaskan apa yang diperselisihkan.
Firman Allah:
“Dan tatkala
Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku datang
kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa
yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah
(kepada) ku". (Q.S. 43 Az Zukhruf 63)
memilih rumah makan di perjalanan
Sebelum
bepergian tentunya kita harus mempersiapkan diri, misalnya : Kendaraan (bila
kita membawa kendaraan sendiri), makanan (bila kita mau makan makanan sendiri)
dan tidak kalah pentingnya adalah persiapan peralatan shalat.
Jauh
sebelum berangkat, kita rencanakan bersama keluarga kita,
di mana kita akan melaksanakan shalat apabila waktu shalat telah tiba. Misalnya
kita berangkat dari rumah pukul 9 pagi, dan di perkirakan waktu shalat dhuhur
kita masih diperjalanan, maka kita dapat memperhitungkan di mana shalat dhuhur
akan kita laksanakan, kita usahakan shalat di awal waktu dan ikut berjama’ah di
masjid setempat.
Juga masih
mengenai shalat, bila perjalanan kita sudah memenuhi syarat seorang musafir,
maka kita dapat menggunakan rukhshah (keringanan) dari Allah berupa menjama’
dan atau sekaligus mengoshor shalat kita. Jadi intinya persoalan shalat jangan
sampai kita abaikan.
Di samping
persoalan shalat, maka persoalan makan diperjalanan juga harus difikirkan.
Betapa segarnya, membasahi kerongkongan leher dengan segelas air dingin di
siang hari yang sangat panas. Betapa nikmatnya, memenuhi perut dengan sepiring
nasi hangat dan lauk lezat di saat rasa lapar melanda hebat. Wuh, betapa segar
dan nikmatnya.
Kesegaran dan kenikmatan
itu makin terasa lebih, bila kita sedang bepergian. Kesegaran tubuh adalah
syarat mutlak untuk meneruskan perjalanan. Demi kelancaran, tak ada salahnya
bila kita mempersiapkan terlebih dahulu bekal makan dan minuman untuk melepas
lapar dan dahaga di tengah perjalanan nanti. Kalaupun terasa repot, kita tak
perlu khawatir berlebihan, banyak rumah makan dari kelas warteg sampai restoran
tersedia di sepanjang jalan.
Selesaikah
permasalahan? Jawabnya bergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Jika kita
termasuk orang yang “gampangan,” maka jawabnya adalah beres. Saat dahaga atau
lapar menyerang, sementara tak ada bekal yang kita bawa, tentu saja kita akan
mencari warung atau rumah makan yang ada sebagai ajang pelampiasan.
Permasalahan menjadi
berbeda jika kita tergolong orang yang sedikit “wira’i” (berhati-hati). Kasus
lapar dan dahaga di tengah perjalanan bisa menjadi kasus rumit dan sedikit
njlimet, karena rumah-rumah makan yang ada di pinggir jalan dipandang tak
pantas dijadikan persinggahan. Namun sepanjang pemantauan di beberapa wilayah,
di kota-kota besar, Surabaya
misalnya, atau daerah-daerah pedesaan, orang-orang “gampangan” itu lebih mudah
dijumpai dari pada orang “wira’i”.
Selektif
Dalam Memilih
Banyak alasan
yang seharusnya menjadi landasan bagi setiap orang agar berhati-hati dalam
memenuhi hajat perutnya di rumah-rumah makan, baik kelas restoran apalagi
trotoar. Alasan pertama adalah soal kesehatan. Kita harus selektif dalam
memilih warung makan yang akan kita kunjungi. Menyantap hidangan di sembarang
tempat tanpa mempertimbangkan faktor kesehatan terlebih dahulu adalah tindakan
ceroboh dan sama saja dengan mencari penyakit.
Tingkat
kebersihan yang diterapkan oleh banyak pengelola warung-warung makan, masih belum
memenuhi kelayakan standar kesehatan. Keadaan ini diperparah dengan tabiat
konsumen yang juga tak peduli dengan budaya hidup sehat. Konsumen merasa tak
perlu kehilangan selera makan hanya karena tempat yang kurang representatif.
Biarpun di pinggir jalan yang sempit dan kumuh tak jadi soal, yang penting
harga toleran. Konsumen juga merasa tak perlu jijik melihat gelas minuman dan
piring beirisikan makanan yang mereka pegang adalah bekas dipakai orang banyak
(pembeli lain), yang cara pembersihannya hanya sekedar di celupkan dalam satu
atau dua timba air saja.
Jelas sekali,
penanganan kebersihan di banyak warung-warung makan masihlah sangat memprihatinkan.
Menurut beberapa ahli kesehatan mengatakan, untuk mensterilkan gelas dan piring
yang kotor adalah dengan menggunakan air yang hangat. Terlebih untuk mangkok
atau piring dari plastik, keduanya harus dibersihkan dengan menggunakan cream
pembersih yang mengandung isolite, cream yang berguna untuk membunuh kuman.
Standar
kebersihan yang memprihatinkan dan ketidakpedulian konsumen akan hal itu adalah
pengaruh buruk dan sangat beresiko terhadap munculnya gangguan kesehatan. Gelas
dan piring yang di cuci dengan ala kadarnya sangatlah rentan akan
bakteri-bakteri penebar penyakit.
Makanan dan minuman
yang kotor dapat meyebabkan diare dan gangguan pencernaan. Kondisi ini memang
tidak begitu berbahaya bagi konsumen dengan daya kekebalan tubuh yang tinggi.
Tidak dengan anak kecil atau orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, mereka
sebaiknya jangan coba-coba makan di warung-warung makan yang tidak sehat.
Sedikit
Tetap Haram
Masalah, tidak
hanya timbul dari makanan dan minuman yang kotor saja, bahaya lain yang lebih
besar justru datang dari gelas dan piring yang terlihat bersih, bahkan tempat
makannya pun tergolong kelas rada mewah. Banyak konsumen yang tanpa sadar
terjebak di dalamnya. Adalah alkohol yang menjadi bahaya lebih besar dari
sekedar makanan dan minuman yang kotor. Bila kita tidak teliti saat memilih
rumah makan, alkohol yang jelas-jelas haram itu bisa saja masuk ke dalam perut
tanpa kita sadari. Hal ini di karenakan gelas dan piring kita terkontaminasi
dengan alkohol yang telah di konsumsi oleh pembeli sebelum kita.
Hindarilah
warung-warung makan yang menyediakan minuman beralkohol. Meski menurut kesehatan
jumlah alkohol yang sedikit tidak membahayakan bagi tubuh, namun hukum Islam
mengatakan secara jelas, sedikit atau banyak, khomer (minuman beralkohol)
adalah haram. Masih menurut beberapa ahli kesehatan, untuk mensterilkan
paralatan makan dari alkohol adalah dengan merendam dalam air yang panas. Bila
seseorang terbiasa mengkonsumsi alkohol dari gelas atau piring yang ia pakai di
warung-warung makan, untuk jangka waktu yang panjang di khawatirkan bisa
menimbulkan ketagihan. Pengaruh buruk lain dari alkohol adalah kemampuannya
membunuh kesuburan sperma.
Dari perspektif
fiqh memang di ma’fu (dimaafkan) karena ketidaktahuan akan keberadaan sisa-sisa
alkohol pada gelas atau piring yang dipergunakan. Namun, dalam diskursus
tasawuf tidaklah sesederhana itu, alkohol yang najis itu jelas membuat najis
seluruh piring, gelas, bahkan makanan yang ada di dalamnya. Bila demikian,
tanpa disadari sesorang pembeli telah meng-konsumsi makanan yang terkena najis.
Lebih dalam lagi, makanan dan minuman yang kotor, terlebih najis akan merasuk
ke dalam daging dan darah. Sekali lagi, hati-hati dan lebih selektiflah dalam
mencari tempat-tempat makan. Perhatikan tingkat kebersihan dan kesuciannya.
Warung (rumah makan) yang bersih belum tentu jadi cerminan warung yang suci,
karena di dalamnya terdapat makanan dan minuman yang najis, alkohol misalnya.
Langganan:
Postingan (Atom)







