Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2015

MENEPATI JANJI




     Janji adalah refleksi sosial manusia dalam kehidupan ber-interaksi atau muamalah dengan yang lain. Ash-shidqu fil kalâm kadang berarti perkataan yang sesuai dengan keadaan yang telah atau sedang terjadi. Kadang juga dimaksudkan pembuktian atau merealisasikan kata-kata yang telah dijanjikan sebagai harapan.  Ia juga  dapat  berarti ke sanggupan menjalankan dan me-laksanakan kepercayaan berupa amanah yang diemban dan diterimanya dari Allah Swt. yang berupa beriman dan beribadah kepadanya.
      Lepas dari maksud-maksud tersebut, secara sederhana dan garis besar, janji bisa dibagi menjadi tiga: Pertama, janji kepada Allah Swt. Janji ini kita ikrarkan sebagai jawaban peng-iya-an manusia dari pertanyaan Allah Swt., sebuah pertanyaan kepada ruh-ruh setiap manusia sebagai anak cucu Adam agar selalu beriman bahwa Allah Swt. adalah Tuhannya. Firman Allah Swt. : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan ketu-runan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengam-bil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Eng-kau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Se-sungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",  ( Q.S. 7 Al A’raaf 172).

atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah memperse-kutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?" (Q.S. 7 Al A'raaf 173)
      Dari ayat ini, Allah Swt menjelaskan bahwa setiap manu-sia yang dilahirkan ke dunia sejatinya sudah membawa janji untuk beriman dan selalu mengakui bahwa Allah Swt adalah Tuhannya yang harus dipatuhi dan disembah dengan segala upaya dan potensi yang telah dikaruniakan Allah Swt.. Selalu berusaha untuk memegang keima-nan dan selalu beribadah kepada-Nya adalah wujud menepati janji kita kepada Allah Swt. tadi.
      Kedua, janji kepada diri sendiri, janji ini bisa berbentuk ungkapan unruk memberikan motifasi kepada diri sendiri agar mau melakukan amal kebajikan. Oleh Fuqâha` (ulama` ahli fiqh) janji ini biasa diistilahkan dengan nadzr. Janji ini disebutkan Allah Swt. hukumnya dalam surat Al-Mâidah: 89. Kurang lebih, Allah Swt. tidak akan menghukum ucapan janji hambanya yang hanya sekedar laghwul kalâm (sumpah yang tidak dimaksudkan untuk bersumpah dengan nama Allah). Allah Swt berfirman: “Allah tidak menghukum kamu dise-babkansumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersum-pah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluarga-mu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerde-kakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. 5 Al Maa-idah 89)

      Ketiga, janji kepada orang lain, kepada agama, suatu kelompok atau golongan, organisasi per-kumpulan, partai dan bahkan janji kepada negara dan pemerintah. Janji inilah yang difirmankan Allah Swt. ketika Dia mejelaskan sifat-sifat orang Mukmin yang berhak mendapat warisan surga Firdaus. Diantara sifat-sifat itu adalah selalu menjaga akan amanat dan janjinya. Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (Q.S. 23 Al Mu'minuun 11)
     Ketika manusia dimuliakan Allah Swt. melebihi mahluk lain dengan akalnya sebagai media atau wasilah berfikir, ketika manusia diberi kepercayaan untuk mengemban amanat sebagai penghuni bumi, mereka diperintah untuk meramaikanya dengan berbagai amalan ma`ruf dan tidak sebaliknya, merusak dan mem-buat kekacauan.
      Ketika manusia tidak bisa hidup sendiri dengan kodratnya sebagai mahluk sosial dan saling melengkapi satu dengan yang lain, maka adalah hal yang sangat esensial dan segnifikan bila makna ayat-ayat di atas dapat diaktualisasikan sebagai bentuk ahlak seluruh lapisan masyarakat. Alangkah indahnya, jika “menepati janji” itu menjadi sebuah karakter kehidupan sehari-hari.
      Menepati dan memenuhi janji adalah bentuk menteladani satu dari berbagai sifat-sifat Allah Swt dalam bentuk kehidupan bermasyarakat. Allah Swt dalam berbagai ayat Al-Qur-an menegaskan bahwa Dia (Allah) tidak akan pernah mengingkari janji-janji-Nya. Bila kita bisa selalu menepati janji maka berarti kita sedikit telah bisa menginter-pretasikan salah satu sifat Allah Swt. : Ya Tuhan kami, sesung-guhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesung-guhnya Allah tidak menyalahi janji. (Q.S. 3 Ali 'Imran 9)
      Kita semua juga mengetahui bahwa menepati janji adalah salah satu karakter yang wajib dimiliki para rasul. Mereka tidak pernah berhianat atau berdusta dalam menyampaikan misi kerisalahan dari Tuhan.
      Sungguh tidak bisa di baying-kan ketika suatu masyarakat sudah tidak mengindahkan lagi pekerti menepati janji yang di bawa dan diajarkan Rasulallah Saw.. Manusia akan selalu resah dan gelisah, dipenuhi dengan kehawatiran serta buruk sangka dalam segala muamalah bersama orang lain. Lebih ironis, apabila dengan terkikisnya akhlak mene-pati janji manusia terpaksa harus disibukkan dengan kebutuhan diri sendiri. Dalam haditsnya yang masyhur, Rasulallah Saw. telah menjelaskan tiga indikasi sese-orang dapat dikatagorikan se-bagai orang munafik. Di antaranya adalah apabila berjanji maka tidak menepati.
      Kita sudah sering membaca dalam buku-buku sejarah-sejarah kenabian bahwa kelompok-kelompok Yahudi pada zaman Rasulallah Saw. diusir dari kampungnya karena mereka melanggar janji-janji antar kelom-pok, kelompok Islam dan Yahudi, seandainya mereka tidak melang-garnya niscaya mereka akan tetap mendapatkan kedamaian berdam-pingan hidup dengan umat Islam.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Memahami makna jihad yang benar




       Jihad itu mengandung dua muatan makna, bahasa dan syariat. Makna jihad secara bahasa adalah kesulitan (masyaqah) (Fathul Bari Syarh Shakhih Bukhari dan Naylul Awthar), atau juga mempunyai arti kesungguhan (juhd), kemampuan menanggung beban (thaqah) Jihad dalam aspek bahasa juga bermakna mencurahkan segala usaha atau tenaga untuk mem-peroleh tujuan tertentu. 
       Para ulama fiqih membahas makna jihad dalam arti syara’ (bukan dalam pengertian bahasa) dalam beberapa aspek, dari hukum berjihad, siapa yang wajib berperang, etika berperang, siapa yang wajib diperangi, keutamaan mati syahid dan lain sebagainya. Oleh karena itu pengertian jihad dalam arti syar’i harus dipahami oleh seluruh umat Islam. Jangan sampai pemaknaan jihad itu mengalami kerancuan dan pem-belokan, seperti yang sedang marak akhir-akhir ini. Sebagian kelompok menterjemahkan jihad dengan makna perang secara membabi buta, seperti halnya bom bunuh diri. Sebaliknya, kelompok lain memahami jihad dengan pemaknaan yang terkesan mengecilkan perang. Mereka lebih suka mengedepankan jihad dengan pengertian jihad ekonomi, jihad pendidikan, jihad melawan nafsu dan lain-lain dari pada jihad yang bermakna perang. Bahkan sebagian yang lain, jelas-jelas mengatakan bahwa jihad itu bukan perang, menurutnya, nash Al Quran menjelaskan perang dengan sebutan qital, bukan jihad. 
     Sedangkan yang implisit, tetapi tetap tidak bisa diartikan kecuali perang, antara lain: “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS. At Taubah:73)
      Ada pula nash-nash jihad yang mengandung pengertian selain peperangan, antara lain: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut : 69).
      Juga ada Hadits yang berbicara tentang jihad yang mengandung pengertian selain perang, yaitu: “Sayyidatina A’isyah bertanya kepada Nabi, ‘Adakah jihad bagi kaum wanita?’ ‘Rasulullah saw. bersabda: ‘Yaitu haji dan umrah.” (HR. Ahmad).
      Selain berperang memperta-hankan kedaulatan negaranya dari serangan musuh, dalam Islam juga dikenal dengan penaklukan terhadap negara-negara kafir yang memusuhi Islam, menghalangi dakwah dan membuat kerusakan di muka bumi. Perang yang bersifat menyerang ini hukumnya fardlu kifayah bagi umat Islam yang sudah baligh, laki-laki, merdeka, tidak cacat dan mempunyai biaya yang cukup untuk berperang dan cukup untuk keluarga yang ditinggalkannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya dan tidak beragama dengan agama yang benar (Islam), yaitu dari orang-orang yang diberikan Al Kitab kepada mereka, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At Taubah:29).
      Sekilas, dengan pendekatan perang model kedua ini, Islam terkesan sebagai agama radikal dan penuh kekerasan. Seakan Islam adalah agama yang disebarkan dengan pedang dan cara-cara pemaksaan. Namun sebenarnya, Islam tidak tidak pernah memak-sakan keyakinan keberagamaan Islam kepada orang-orang non muslim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 256).
      Penyerangan ini semata-mata bertujuan untuk kemaslahatan dan rahmat bagi kehidupan manusia. Selain itu, perang dengan menaklukkan atau menyerang darul harb (negara yang memusuhi Islam) atau kafir harb (kafir yang memusuhi Islam) ini harus melalui beberapa tahaban. Pertama, tawaran kepada mereka untuk tunduk terhadap kekuasaan Islam. Tahab kedua, jika menolak, mereka diminta membayar jizyah (pajak) dengan jaminan perlindungan keamanan dan hak mereka sama dengan kaum muslimin. Tahab ketiga, jika menolak, ditawarkan perang.
      Penyerangan atau penaklukan yang dilakukan oleh kaum muslimin ini sejatinya jauh berbeda dengan penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara Barat. Mereka menaklukan negara-negara kecil dan lemah dengan tujuan menjajah, menin-das dan merampas, untuk semata-mata kepentingan sendiri. Jika misi kaum penjajah adalah penindasan dan pemerasan, sebaliknya, misi perang dalam Islam adalah menciptakan rahmatan lil alamin, mengembalikan manusia ke dalam agama dan kehidupan yang suci untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Akibatnya, negara-negara jajahan kaum kolonialis mengalami keter-belakangan, ketertindasan, kehancuran, dan kemiskinan, sebaliknya negara-negara taklukan tentara-tentara Islam justru mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat dalam segala aspek kehidupan, di bidang ekonomi maupun saint dan teknologi. Contohnya adalah penaklukan Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab, Andalusia oleh Thariq bin Ziyad dan lain-lain.
      Islam mensyari’atkan perang tapi penuh dengan etika. Hadits berikut ini sebagai buktinya: “Ketika mengutus panglima perang Rasulullah saw. berwasiat kepadanya dan seluruh pasukan agar bertaqwa dan berbuat baik. Rasulullah bersabda, “Berperanglah di jalan Allah dengan nama Allah (ikhlas). Perangilah orang kufur pada Allah. Janganlah kalian berkhiyanat. Janganlah kalian menipu. Janganlah kalian mencincang. Janganlah kalian membunuh anak-anak.” (HR. Tirmidzi).
      Etika berperang juga diajarkan oleh Khalifah Abu Bakar Shidiq ra. ketika mendelegasikan Usama bin Zaid ke Syam, “Janganlah kamu berkhianat, jangan menipu, jangan mencincang, jangan membunuh anak kecil, jangan membunuh orang tua, jangan membunuh perempuan, jangan menebang pohon kurma dan jangan pula membakarnya, jangan menebang pohon yang berbuah, jangan menyembelih kambing, lembu atau unta kecuali untuk dimakan. Jika kamu melewati kaum yang mengabdikan diri di gereja, maka biarkanlah mereka beserta pengabdiannya.” (Tafsir Ayatul Ahkam).
      Di sinilah letak seni keindahan perang dalam Islam. Dengan begitu tidak ada alasan menjatuhkan vonis bahwa Islam adalah agama radikal. Tidak ada celah menuduh Islam sebagai agama yang melegalkan segala bentuk kekerasan dan kesadisan. Justru sebaliknya, Islam adalah agama penebar rahmat (kasih sayang) bagi kehidupan alam semesta. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya:107)

Memelihara sunnah Nabi




       Sebagai seorang mukmin yang senantiasa mendambakan ridla dari Allah Subhanahu wata’ala, hendaknya selalu menja-lankan dan memelihara amal-amal sunah dan beberapa adab (etika), sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya, karena hal ini dapat menjernihkan hati dan mengandung beberapa rahasia yang lain.

      Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli shufi. Dengan bekal keteguhannya memelihara amal sunah dan beberapa adab serta berperilaku dengan akhlaknya Nabi, mereka memperoleh martabat dan maqam yang luhur di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Itu sebabnya dalam ilmu Tashawwuf, yang paling banyak dibicarakan adalah pembahasan mengenai adab. Kata tashawwuf sendiri berasal dari kata “shofa-yashfu” yang artinya jernih.

     Dalam beribadah sholat missal-nya, hendaknya kita memelihara beberapa kesunatan dan adab. Seorang laki-laki dalam beribadah sholat, hendaknya memakai pakaian yang berlengan panjang dan menutupi kepala (tidak gundulan). Meski tidak ada nash Hadits yang berbicara tentang hal ini, namun bukankah Allah Subhanahu wata’ala menganjur-kan kepada kita untuk berpakaian yang baik ketika melaksanakan sholat? Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. 7 Al A'raaf 31).

       Namun bukan berarti ketika amal sunah dan adab itu sudah dipelihara dengan baik, kita menjadi terbebas dari menjalan-kan amal fardlu sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan orang-orang bodoh. Yang sebenarnya, justru amal fardlu harus tetap lebih diutamakan dari pada amal sunah dan adab. Artinya, bahwa ketiganya, baik amal fardlu, amal sunah dan juga adab sama-sama harus dijalani dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.

        Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Hadits Qudsi: “Rasulullah saw. bersabda, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Tidak ada seorang pun hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada melakukan amal fardlu. Hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunah, niscaya Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku (menjaga) telinganya yang ia mendengar dengannya, Aku (menjaga) matanya yang ia melihat dengannya, Aku (menja-ga) tangannya yang ia memukul dengannya, Aku (menjaga) kaki-nya yang ia berjalan dengannya. Jika dia meminta-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Dan bila dia meminta perlindungan kepa-da-Ku, Aku pasti juga akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

      Sebagai seorang muslim, kita tentunya harus konsisten dalam menjalankan syariat Islam dengan cara selalu mengikuti segala hal yang telah diajarkan oleh Rasu-lullah Shollallahu alaihi wasallam, baik mulai dari sikap, ucapan maupun perbuatannya. Misalnya, tatacara beliau makan, minum, menerima tamu, bertetangga, berbisnis, bergaul dengan istri dan keluarga, dan lain-lain. Mengikuti dan meneladani segala aspek dari perilaku Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam ini adalah wujud dari rasa kecintaan kepada Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa-mu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 3 Ali 'Imran 31)

     Namun, yang terjadi pada masa sekarang ini, justru banyak orang Islam yang lebih memilih mengikuti perilaku dan petunjuk kalangan agama lain, Nasrani dan Yahudi. Setidaknya dapat dilihat dari beberapa hal yang mulai mentradisi di tengah-tengah masyarakat kita. Misalnya, pesta ulang tahun yang diikuti dengan proses meniup lilin, tepuk tangan, memotong roti atau tumpeng dan bernyanyai bersama “Happy best day to you”. Kalau dicermati, sebenarnya kegiatan ini sama sekali tidak ada dasarnya dalam syariat Islam. Demikian pula halnya kebiasaan memakai baju serba hitam di saat ta’ziah mayit, atau kebiasaan berpakaian serba ketat, bukak-bukaan dan trans-paran yang makin menggejala di lingkungan kaum muslimin, semuanya adalah buah propa-ganda kaum Nasrani dan Yahudi, yang tak terasa telah menjadi tradisi kaum muslimin.
      Dan juga sering kita temui adalah pada saat kita makan, saudara-saudara kita memakan makanan dengan menggunakan tangan kiri, makan nasi rawon, nasi soto atau lainnya yang pakai kerupuk, sering makan kerupuk-nya itu dengan tangan kiri. Makan tahu (gorengan lainnya) dengan cabe, maka makan cabenya biasanya dengan tangan kiri. Memakan bakso pakai garpu, biasanya makan pentolnya pakai garpu sehingga dengan menggunakan tangan kiri. Hal ini memang telah ditularkan kebia-saan ini oleh orang barat yang natabenya adalah Nasrani dan Yahudi. Padahal rasulullah saw. telah mengingatkan kita pada sebuah hadits : “Dari Salamah bin Al-Akwa’ ra. sesungguhnya se-orang laki-laki makan di sisi rasulullah saw. dengan tangan kirinya. Lantas rasulullah saw. bersabda : Makanlah dengan tangan kananmu. Dia menjawab : Aku tidak mampu. Rasul bersabda : Semoga engkau tidak mampu. Perawi berkata : Dia enggan mengikuti perintah rasul karena sombong. Akhirnya dia tidak mampu mengangkat tangan ke mulutnya.” (H.R. Muslim)

      Hadits di atas menunjukkan perintah memakan makanan dengan tangan kanan. Ada lagi yang sering kita jumpai yaitu pada saat menghadiri undangan hajatan saudara kita yang disertai makan ala prasmanan, maka kebiasaan diantara kita makan sambil berdiri : “Dari Anas ra. dari Nabi saw. Sesungguhnya beliau melarang seorang laki-laki minum dengan berdiri. Qatadah berkata : Kami bertanya kepada Anas, bagaimana kalau makan? Anas berkata : Itu lebih jelak.” (H.R. Muslim)

      Barangkali inilah yang dikha-watirkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw., sebagaimana sabdanya dalam Hadits Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, “Diriwayatkan dari Sa’id al Khudlri, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sungguh kamu semua besuk akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan ketika mereka masuk lubangnya Biawak (binatang Dlob), kamu semua mengikutinya.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, (apakah mereka yang dimaksud sebelum kamu semua itu) Yahudi dan Nashrani?” Rasulullah menjabab, “Kalau tidak mereka, lalu siapa?”

      Prediksi Nabi saat ini memang telah sangat jelas terlihat kebe-narannya. Selain beberapa hal di atas, masih sangat banyak budaya-budaya barat yang hampir semuanya budaya Nashrani dan Yahudi secara tidak terasa namun pasti, telah diikuti oleh kebanyakan umat Islam.

Jumat, 07 Agustus 2015

cukuplah kematian sebagai nasehat





“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)
      Cukuplah kematian sebagai nasehat bagi orang yang hidup, karena kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tidak menyimpang. Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan oleh kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Dengan begitu mengingat kematian dapat mendorong meraih sukses dalam kehidupan.
      Namun, ironisnya, kebanyakan manusia justru lebih suka melupakan kematian. Hidup dan kematian, bagi mereka, seolah dua lembah yang saling berpisah. Satu sama lain seperti tak berhubungan. Mereka mengatakan, bersenang-senanglah di lembah yang satu. Dan, jangan pedulikan lembah lainnya.Mereka kurang menyadari bahwa, kematian adalah garis pemisah antara panggung kepura-puraan dengan kehidupan sebenarnya. Garis yang memisahkan aneka lakon dan peran dengan sosok asli seorang manusia. Garis yang akhirnya menyatakan kesudahan segala peran dan dikembalikannya segala alat permainan.
      Sayang sekali, tak sedikit manusia yang lebih cinta dengan dunia kepura-puraan. Mereka pun berkhayal, andai kepura-puraan bisa berlangsung selamanya. Bisa berpuas diri dengan aneka lakon dan peran. Tanpa disadari, kecintaan itu pun berujung pada kebencian. Benci pada kematian.
      Allah swt menggambarkan orang-orang yang enggan dan lari dari kematian. Seperti dalam firmanNya: Katakanlah: "Sesung-guhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesung-guhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. 62 Al Jumu'ah 8)

      Orang yang demikian itu juga menginginkan umur yang panjang supaya bisa bersenang-senang lebih lama di dunia, padahal umur yang panjang itu tidak dapat mem-buat mereka bahagia lebih-lebih di akhirat nanti, Allah telah mengingatkannya dalam Al-Qur’an : Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. 2 Al Baqarah 96)
     Ketakutan adalah alasan yang paling lumrah buat mereka yang tidak suka mengingat kematian, bahkan berusaha lari dari kematian. Banyak alasan kenapa harus takut. Salah satunya, mereka takut berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai sudah pesta kenikmatan. Karena kehidupan sudah terlanjur mereka terjemah-kan sebagai kenikmatan.
      Selain itu, ada ungkapan batin yang tidak mereka sadari. Bahwa, mereka enggan berjumpa dengan Allah, sebagaimana mereka selalu menghindar dari perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka lakukan. Keengganan itu sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun enggan bertemu mereka, manakala mereka juga enggan bertemu dengan-Nya. “Diceritakan oleh Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menyukai bertemu Allah, maka Allah juga senang berjumpa dengannya. Sebaliknya, siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya.” (HR. Ahmad)
      Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan kerinduan yang diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama lagi ajal kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan, sakit itu lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku bahagia daripada hidup, maka permudah-kanlah kematian itu untukku. Sehingga aku dapat bertemu dengan-Mu.”
      Atau boleh jadi ketakutan terhadap kematian lebih karena ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika diminta mandi. Karena yang diketahui si anak tentang mandi tak lebih dari dingin, dipaksa ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian. Kematian bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, harta dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah.
     Di situlah perbedaan mendasar antara hamba Allah yang baik dengan yang buruk. Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran tentang kematian dari Rasulullah saw. “Aku bersama Nabi saw, kemudian, ada seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah di antara orang-orang mukmin yang paling mulia, wahai Rasul?’ Beliau saw menjawab, ‘Yaitu, orang yang paling bagus budi pekertinya’. Sahabat itu bertanya lagi, ‘Siapa di antara orang-orang mukmin yang paling pandai?’ Rasul menjawab, ‘Yaitu orang yang ter-banyak ingatnya kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah orang-orang yang pandai.” (HR. Ibnu Majah)
      Bagi hamba Allah, tak ada kemuliaan apa pun kecuali dari tetap menjaga ingatannya dengan kematian. Bahkan, seorang yang berada pada puncak kekuasaan sekalipun. Setidaknya, itulah yang hendak diungkapkan seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hampir sepanjang usia kekua-saannya, tak pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian. Caranya begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling mengi-ngatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat. Kemudian, semuanya pun menangis. Seakan-akan, di samping mereka ada jenazah yang sedang ditangisi.
Kematian mendidik kehidupan, dan kehidupan                     merindukan kematian     
                             
       Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi sosok yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya yang mengeluh. Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa hidup Umar bin Abdul Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi pengingat sejati.
      Jadi sebenarnya, kematian itu sungguh berarti bagi sebuah kehidupan. Kematian dapat selalu memberi peringatan, agar kehidupan tetap menjadi sesuatu yang berarti. Sebaliknya, kehidupan juga mengingatkan kematian, sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian

keluarga sakinah mawadah warohmah menurut islam





      Rumah tangga ibarat dua sisi mata uang, suatu saat ia datang dan menjelma menjadi taman surga yang membuat semua penghuninya merasa betah di dalamnya, namun bisa saja ia datang sebagai tambang derita yang seolah-olah mau membunuh kita secara perlahan. Lalu bagaimana keluarga yang kita bina bisa datang dengan wajah taman surga
       Inilah yang menjadi idaman setiap insan. Namun apakah mereka semuanya berhasil atau malah banyak yang menemukan jalan buntu, baik yang berkecukupan secara materi maupun yang tersorang-sorang? Apa sebenarnya rahasianya? Mengapa keba-nyakan dari kita sulit mewujudkannya? Bahkan tidak jarang yang mewarnai rumah tangga adalah percekcokan dan pertengkaran yang berujung pada terancamnya keutuhan rumah tangga dengan bahasa lain yakni perceraian.

     Allah SWT menyebutkan perjanjian untuk membangun rumah tangga sebagai perjanjian yang sangat kuat dan kokoh yaitu “mitsaqan ghalidlo”. Allah swt menyebutkan kalimat tersebut hanya dalam dua hal yaitu dalam membangun rumah tangga yang terdapat dalam surat An nisa’: 21,

 “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (Q.S. 4 An Nisaa' 21)

      Dan dalam membangun misi kenabian. Rosulullah SAW sendiri bersabda: “Perbuatan halal yang dimurkai oleh Allah adalah perceraian.” Ada makna yang cukup tersirat dan rahasia dalam dawuh tersebut. Tidak ada satu perbuatan halal yang Allah murkai kecuali perceraian. Mengapa ini terjadi dalam perceraian? Inilah yang menjadi PR kita. Tentu masing-masing dari kita tidak ingin dimurkai sehingga rahmat Allah menjauh dari rumah kita.
       Alhasil bangunan rumah tangga ibarat bangunan misi kenabian. Sehingga keluarga sakinah yang menjadi impian setiap manusia tidak mudah diwujudkan sebagaimana tidak mudahnya mewujudkan misi kenabian oleh setiap manusia. Perlu persyaratan-persyaratan yang ketat dan berat. Mengapa? Karena dua persoalan ini bertujuan mewujudkan kesucian. Kesucian berpikir, mengolah hati, bertindak, dan generasi penerus umat manusia.
Makna Sakinah
      Sebelum kita merintis keluarga sakinah, alangkah baiknya kita mengetahui dulu apa arti istilah tersebut. Istilah sakinah digunakan Al qur’an untuk menggambarkan kenyamanan keluarga. Istilah ini mempunyai akar kata yang sama dengan “sakanun” yang berarti tempat tinggal. Bisa disimpulkan bahwa istilah terse-but digunakan Al qur’an untuk menyebut tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan tenang, sehingga menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih (mawaddah warahmah) di antara sesama anggotanya. Untuk mencapai itu semua, dalam bangunan rumah tangga Allah SWT telah menetapkan hak dan kewajiban. Kita juga bisa meniru sosok figur yang telah berhasil mewujudkan sebuah keluarga besar yang berhasil mencetak generasi-generasi penerang alam. Dan ini tidak akan terbantahkan lagi oleh semua kaum muslimin. Figur tersebut adalah baginda Rasulullah yang berhasil membina dan membentuk keluarga saki-nan dengan Sayyidah Khadijah
Wanita Lebih Berperan
      Disini ada hal yang menarik untuk dikaji, khususnya bagi kaum hawa. Apa itu? Fakta berbicara bahwa Rasulullah banyak dibicarakan oleh kaum adam bahwa beliau melakukan pologami, kemudian mereka melaksanakannya dengan dalil mencontoh Rasulullah. Tapi kita harus ingat kapan Rosulullah berpoligami dan mengapa beliau melakukan hal ini? Sejarah mencatat bahwa beliau tidak berpoligami saat beliau masih berdampingan dengan Sayyidah Khadijah sampai beliau mening-gal. Hal ini karena sosok Khadijah yang luar biasa, seorang istri yang benar-benar memahami jiwa dan profesi suaminya. Beliau korbankan seluruh harta benda-nya untuk dakwah Rosulullah, Sehingga Rasulullah tidak pernah melupakan Khadijah walaupun sudah meninggal dan disampingnya telah ada pendamping wanita yang lain bahkan lebih dari satu. Sosok Khadijah al-Kubra ini bisa diambil uswahnya bagi wanita khususnya kaum ibu supaya sang suami tidak mudah menoleh ke lain hati.
      Maka bisa disimpulkan bahwa yang paling berperan besar dalam membentuk keluarga sakinah adalah wanita. Mari kita perhatikan firman Allah SWT :
 Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. 30 Ar Ruum 21)
      Dalam ayat tersebut ada kalimat “supaya kalian memperoleh atau merasakan sakinah” yang merupakan arti dari kalimat “Litaskunu”. Jadi sakinah itu dalam diri perempuan. Tapi harus diingat laki-laki harus menjaga sumber sakinah tersebut, tidak lantas mencemati dan menodainya agar sumber itu tetap terjaga, jernih dan suci, serta mengalir ke semua anggota keluarga.

Hak dan Kewajiban Sesama

       Sebagai pengantar untuk mem-bangun keluarga sakinah perlu kiranya kita harus mengetahui untuk selanjutnya mengaplika-sikan hak dan kewajiban pasangan suami istri yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya. Hak-hak suami antara lain: suami adalah pemimpin keluarga. Dalam Al qur’an disebutkan bahwa “kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)”, suami berhak dipatuhi dan tidak boleh ditentang, istri tidak boleh mensedekahkan harta atau berpuasa sunnah kecuali mendapat izin dari sang suami, suami harus dilayani dalam semua kebutuhan jasmani dan biologis kecuali kalau ada udzur, dan lain sebagainya

      Adapun hak-hak istri antara lain: istri harus mendapat perlakuan yang baik sesuai dengan firman Allah yang artinya “Dan bergaullah dengan mereka secara patut” (An Nisa’: 19),
       Istri berhak mendapatkan nafkah dari suami baik sandang, pangan maupun papan, dan lain sebagainya.

      Selain sebuah keluarga harus mengetahui hak dan kewajiban, keluarga yang sakinah adalah bisa meredam emosi dan pertikaian. Rosulullah bersabda: “laki-laki yang terbaik dari umatku adalah orang yang tidak menindas keluarganya, menyayanginya dan tidak berlaku dzalim pada mereka.” Ada suatu kisah, pada suatu hari seorang sahabat menghadap Rasulullah dan berkata:

 “ya Rasulullah, aku mempunyai seorang istri yang selalu menyambutku ketika aku datang dan menghantarkanku saat aku keluar rumah. Jika ia melihatku termenung, ia sering menyapaku dengan mengatakan: ada apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika rizkimu yang kau risaukan, ketahuilah bahwa rizkimu ada ditangan Allah. Tapi jika yang kau risaukan adalah urusan akhirat maka semoga Allah menambah rasa risaumu.” Setelah mendengar cerita sahabat tersebut, Rasulullah bersabda: “sampaikan kabar gembira pada istrimu tentang surga yang sedang menunggunya! Dan katakan padanya bahwa ia temasuk salah satu pekerja Allah. Allah mencatat setiap hari baginya pahala tujuh puluh syuhada’.”

KISAH NABI ISA ( 2 )





     Nabi Isa juga memberitahu tentang kedatangan seorang rasul selepas nabi Isa, yang namanya akan dipuji. Ayat yang mengisahkannya berbunyi:
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya)  seorang  Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (Q.S. 61 Ash Shaff 6)
     Seperti Nabi atau Rasul yang lain, nabi Isa mempunyai pengikut-pengikut yang setia dan juga yang tidak setia atau yang menentang. Pengikut-pengikutnya yang setia percaya kepada Allah dan kepadanya. Mereka adalah muslim. Firman Allah:
“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab: "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)". (Q.S. 5 Al Maa-idah 111)
       Pengikut-pengikut yang setia pula menjadi penolong-penolong, bukan baginya tetapi bagi Allah. Firman-Nya:
“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. 3 Ali 'Imran 52)
       Begitu juga bagi pengikut-pengikut setia Nabi-Nabi lain, termasuk Muhammad. Semuanya menjadi penolong-penolong Allah, untuk melaksana dan menyampaikan misi-Nya. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kami lah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. (Q.S. 61 Ash Shaff 14)
       Walau bagaimana pun, pengikut-pengikut Nabi Isa yang setia memerlukan bukti untuk megesahkan kebenarannya dan supaya hati mereka menjadi tentram. Untuk itu mereka memohon sebuah hidangan dari langit. Kisahnya berbunyi begini:
“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putra Maryam, bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?" Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kamu orang yang beriman". (Q.S. 5 Al Maa-idah 112)
Mereka berkata; "kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu". (Q.S. 5 Al Maa-idah 113)
      Justeru itu, nabi Isa memohon kepada Allah,
Isa putra Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama". (Q.S. 5 Al Maa-idah 114)
       Allah mengabulkan permintaannya. Lantas, hidangan yang turun menjadi satu lagi mukjizat bagi Nabi Isa. Dan ia juga menjadi nama sebuah surah di dalam al-Qur’an, yaitu surah kelima, al-Maidah.
      Selain daripada kelahiran yang luar biasa dan hidangan dari langit, Nabi Isa telah dikaruniai dengan beberapa mukjizat lain. Ayat berikut menjelaskannya:
“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israel (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata". (Q.S. 5 Al Maa-idah 110)
Diangkat Ke langit
“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya". (Q.S. 3 Ali 'Imran 55)
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”. (Q.S. 5 Al Maa-idah 117)
      Akan tetapi, sebagian daripada kaum Bani Israil mengatakan bahwa mereka telah membunuhnya ditiang salib. Allah mengatakan yang sebaliknya. Apa yang berlaku hanya satu kesamaan saja. Firman-Nya:
dan karena ucapan mereka: "Sesung-guhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”. (Q.S. 4 An Nisaa' 157)
       Di akhir zaman nabi ‘isa akan turun kembali ke bumi, bukan sebagai nabi tapi sebagai umat nabi muhammad SAW. (mengikut syariat nabi muhammad). akan berdakwah mengajak orang2 kristen untuk islam, menghancurkan salib-salib, membunuh dajjal.

KISAH NABI ISA ( 1 )





      Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan dari kecil di dalam al-Qur’an ialah Isa. Nabi Isa diutus kepada kaum Bani Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum al-Qur’an.
     Di dalam al-Qur’an, Nabi Isa disebut dengan empat panggilan yaitu Isa, Isa putera Mariam,putera Mariam dan al-Masih. Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah. Dia sangat dimuliakan Allah. Dia memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya:  Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesung-guhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)”.   (Q.S. 3 Ali 'Imran 42)
      Mariam, ibu Nabi Isa, telah menempuh satu ujian yang amat berat daripada Allah. Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.
     Kelahiran Nabi Isa merupakan suatu mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapa. Kisahnya diceritakan di dalam al-Qur’an. Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Mariam atas perintah Allah. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat.

Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa". (Q.S. 19 Maryam 18)

Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk membe-rimu seorang anak laki-laki yang suci".(Q.S. 19 Maryam 19)
    Pada ayat yang lain, diceritakan bahawa malaikat yang datang itu telah memberi nama kepada putera yang bakal dilahirkan. Nama itu diberi oleh Allah, dan dia (Isa) akan menjadi terhormat di dunia dan akhirat sambil berkedudukan dekat dengan Tuhan. Ayatnya berbunyi:
     (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terke-muka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”.   (Q.S. 3 Ali 'Imran 45)
    Kemudian Mariam bertanya: Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"  (Q.S. 19 Mar-yam 20) 
    Malaikat menjawab: Jibril berkata: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan".  (Q.S. 19 Maryam 21) 
     Maka lahirlah Isa putera Mariam hampir enam ratus tahun sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. Allah membuat Nabi Isa dan ibunya satu ayat (tanda) bagi manusia, yaitu tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya: “Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang me-ngalir”.  (Q.S. 23 Al Mu'minuun 50)
      Isa adalah seorang Nabi dan juga seorang Rasul. Nabi Isa dan beberapa orang rasul telah dilebihkan Allah daripada rasul-rasul lain. Ada yang Dia berkata-kata kepadanya, ada yang Dia menaikkan darjat, dan bagi Isa, Dia memberi bukti-bukti yang jelas serta mengukuhkannya dengan Roh Suci. Firman-Nya: ”Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (lang-sung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggi-kannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah meng-hendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.  (Q.S. 2 Al Baqarah 253)
     Namun begitu, manusia dilarang oleh Allah untuk membeda-bedakan antara para rasul dan Nabi. Larangan itu berbunyi:
    “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman ke-pada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Q.S. 2 Al Baqarah 136)
     Akibat membeda-bedakan Nabi atau Rasul dapat dilihat pada hari ini, iaitu Nabi Isa dipercayai oleh sebagian pihak sebagai Tuhan atau anak Tuhan, yang berhak membuat hukum agama.
      Oleh kerana Isa seorang Nabi yang diberi sebuah Kitab, Injil, yang mengandungi petunjuk dan cahaya untuk menjadi pegangan Bani Israil. Selain menyuruh Bani Israil menyembah Allah dengan mentaati Injil, Nabi Isa mem-bernarkan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya. Dua firman Allah menjelaskannya di sini, berbunyi:
    Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. 5 Al Maa-idah 46)

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”.   (Q.S. 5 Al Maa-idah 117)

     Dan juga disebut di dalam Injil (dan Taurat) yaitu berita mengenai kedatangan seorang Nabi berbangsa Arab, atau ummi : “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang  ada  di  sisi  mereka,  yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”.  (Q.S. 7 Al A'raaf 157)

     dan janji dikurniakan Taman atau syurga bagi orang-orang yang berpe-rang di jalan Allah: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.  (Q.S. 9 At Taubah 111)

     Janji itu juga didapati di dalam Taurat dan al-Qur’an. Ketika nabi Isa diutus, manusia sedang berselisih dalam hal agama. Maka kedatangannya adalah juga untuk memperjelaskan apa yang diperselisihkan. Firman Allah:
    “Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku". (Q.S. 43 Az Zukhruf 63)

memilih rumah makan di perjalanan





      
Sebelum bepergian tentunya kita harus mempersiapkan diri, misalnya : Kendaraan (bila kita membawa kendaraan sendiri), makanan (bila kita mau makan makanan sendiri) dan tidak kalah pentingnya adalah persiapan peralatan shalat.

Jauh sebelum  berangkat,  kita rencanakan bersama keluarga kita, di mana kita akan melaksanakan shalat apabila waktu shalat telah tiba. Misalnya kita berangkat dari rumah pukul 9 pagi, dan di perkirakan waktu shalat dhuhur kita masih diperjalanan, maka kita dapat memperhitungkan di mana shalat dhuhur akan kita laksanakan, kita usahakan shalat di awal waktu dan ikut berjama’ah di masjid setempat.

Juga masih mengenai shalat, bila perjalanan kita sudah memenuhi syarat seorang musafir, maka kita dapat menggunakan rukhshah (keringanan) dari Allah berupa menjama’ dan atau sekaligus mengoshor shalat kita. Jadi intinya persoalan shalat jangan sampai kita abaikan.

Di samping persoalan shalat, maka persoalan makan diperjalanan juga harus difikirkan. Betapa segarnya, membasahi kerongkongan leher dengan segelas air dingin di siang hari yang sangat panas. Betapa nikmatnya, memenuhi perut dengan sepiring nasi hangat dan lauk lezat di saat rasa lapar melanda hebat. Wuh, betapa segar dan nikmatnya.

Kesegaran dan kenikmatan itu makin terasa lebih, bila kita sedang bepergian. Kesegaran tubuh adalah syarat mutlak untuk meneruskan perjalanan. Demi kelancaran, tak ada salahnya bila kita mempersiapkan terlebih dahulu bekal makan dan minuman untuk melepas lapar dan dahaga di tengah perjalanan nanti. Kalaupun terasa repot, kita tak perlu khawatir berlebihan, banyak rumah makan dari kelas warteg sampai restoran tersedia di sepanjang jalan.

Selesaikah permasalahan? Jawabnya bergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Jika kita termasuk orang yang “gampangan,” maka jawabnya adalah beres. Saat dahaga atau lapar menyerang, sementara tak ada bekal yang kita bawa, tentu saja kita akan mencari warung atau rumah makan yang ada sebagai ajang pelampiasan.

Permasalahan menjadi berbeda jika kita tergolong orang yang sedikit “wira’i” (berhati-hati). Kasus lapar dan dahaga di tengah perjalanan bisa menjadi kasus rumit dan sedikit njlimet, karena rumah-rumah makan yang ada di pinggir jalan dipandang tak pantas dijadikan persinggahan. Namun sepanjang pemantauan di beberapa wilayah, di kota-kota besar, Surabaya misalnya, atau daerah-daerah pedesaan, orang-orang “gampangan” itu lebih mudah dijumpai dari pada orang “wira’i”.

Selektif Dalam Memilih 

Banyak alasan yang seharusnya menjadi landasan bagi setiap orang agar berhati-hati dalam memenuhi hajat perutnya di rumah-rumah makan, baik kelas restoran apalagi trotoar. Alasan pertama adalah soal kesehatan. Kita harus selektif dalam memilih warung makan yang akan kita kunjungi. Menyantap hidangan di sembarang tempat tanpa mempertimbangkan faktor kesehatan terlebih dahulu adalah tindakan ceroboh dan sama saja dengan mencari penyakit.

Tingkat kebersihan yang diterapkan oleh banyak pengelola warung-warung makan, masih belum memenuhi kelayakan standar kesehatan. Keadaan ini diperparah dengan tabiat konsumen yang juga tak peduli dengan budaya hidup sehat. Konsumen merasa tak perlu kehilangan selera makan hanya karena tempat yang kurang representatif. Biarpun di pinggir jalan yang sempit dan kumuh tak jadi soal, yang penting harga toleran. Konsumen juga merasa tak perlu jijik melihat gelas minuman dan piring beirisikan makanan yang mereka pegang adalah bekas dipakai orang banyak (pembeli lain), yang cara pembersihannya hanya sekedar di celupkan dalam satu atau dua timba air saja.

Jelas sekali, penanganan kebersihan di banyak warung-warung makan masihlah sangat memprihatinkan. Menurut beberapa ahli kesehatan mengatakan, untuk mensterilkan gelas dan piring yang kotor adalah dengan menggunakan air yang hangat. Terlebih untuk mangkok atau piring dari plastik, keduanya harus dibersihkan dengan menggunakan cream pembersih yang mengandung isolite, cream yang berguna untuk membunuh kuman.

Standar kebersihan yang memprihatinkan dan ketidakpedulian konsumen akan hal itu adalah pengaruh buruk dan sangat beresiko terhadap munculnya gangguan kesehatan. Gelas dan piring yang di cuci dengan ala kadarnya sangatlah rentan akan bakteri-bakteri penebar penyakit.

Makanan dan minuman yang kotor dapat meyebabkan diare dan gangguan pencernaan. Kondisi ini memang tidak begitu berbahaya bagi konsumen dengan daya kekebalan tubuh yang tinggi. Tidak dengan anak kecil atau orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, mereka sebaiknya jangan coba-coba makan di warung-warung makan yang tidak sehat.

Sedikit Tetap Haram

Masalah, tidak hanya timbul dari makanan dan minuman yang kotor saja, bahaya lain yang lebih besar justru datang dari gelas dan piring yang terlihat bersih, bahkan tempat makannya pun tergolong kelas rada mewah. Banyak konsumen yang tanpa sadar terjebak di dalamnya. Adalah alkohol yang menjadi bahaya lebih besar dari sekedar makanan dan minuman yang kotor. Bila kita tidak teliti saat memilih rumah makan, alkohol yang jelas-jelas haram itu bisa saja masuk ke dalam perut tanpa kita sadari. Hal ini di karenakan gelas dan piring kita terkontaminasi dengan alkohol yang telah di konsumsi oleh pembeli sebelum kita.

Hindarilah warung-warung makan yang menyediakan minuman beralkohol. Meski menurut kesehatan jumlah alkohol yang sedikit tidak membahayakan bagi tubuh, namun hukum Islam mengatakan secara jelas, sedikit atau banyak, khomer (minuman beralkohol) adalah haram. Masih menurut beberapa ahli kesehatan, untuk mensterilkan paralatan makan dari alkohol adalah dengan merendam dalam air yang panas. Bila seseorang terbiasa mengkonsumsi alkohol dari gelas atau piring yang ia pakai di warung-warung makan, untuk jangka waktu yang panjang di khawatirkan bisa menimbulkan ketagihan. Pengaruh buruk lain dari alkohol adalah kemampuannya membunuh kesuburan sperma.

Dari perspektif fiqh memang di ma’fu (dimaafkan) karena ketidaktahuan akan keberadaan sisa-sisa alkohol pada gelas atau piring yang dipergunakan. Namun, dalam diskursus tasawuf tidaklah sesederhana itu, alkohol yang najis itu jelas membuat najis seluruh piring, gelas, bahkan makanan yang ada di dalamnya. Bila demikian, tanpa disadari sesorang pembeli telah meng-konsumsi makanan yang terkena najis. Lebih dalam lagi, makanan dan minuman yang kotor, terlebih najis akan merasuk ke dalam daging dan darah. Sekali lagi, hati-hati dan lebih selektiflah dalam mencari tempat-tempat makan. Perhatikan tingkat kebersihan dan kesuciannya. Warung (rumah makan) yang bersih belum tentu jadi cerminan warung yang suci, karena di dalamnya terdapat makanan dan minuman yang najis, alkohol misalnya.