Friday, July 27, 2018

Hukum Orang Yang Shalat Fardhu Bermakmum Kepada Orang Yang Shalat Sunnah




Menurut pendapat madzhab Maliki, Hanafi dan Hanbali tidak sah orang yang shalat fardhu bermakmum kepada orang yang shalat sunnah, tapi menurut madzhab Syafi'i boleh dan sah shalatnya serta tetap mendapatkan fadhilah jamaah, cuma hukumnya dipandang makruh.

Shaikh Abdurrahman Al-Jaziri dalam kitabnya menegaskan :

ومن شروط الإمامة أن لا يكون الإمام أدنى حالا من المأموم فلا يصح اقتداء مفترض بمتنفل إلا عند الشافعية فانظر مذهبهم تحت الخط ( الشافعية قالوا : يصح اقتداء المفترض بالمتنفل مع الكراهة )
Dan diantara syarat-syarat imamah, hendaknya imam itu tidak lebih rendah dari makmumnya. Maka seorang yang melaksanakan shalat fardhu tidak sah bermakmum kepada orang yang shalat sunnah, kecuali menurut pendapat syafi'iyah (madzhab syafi'i). Perhatikanlah madzhab mereka di bawah ini : (Syafi'iyah berpendapat : Seorang yang melaksanakan shalat fardhu sah bermakmum kepada orang yang shalat sunnah, akan tetapi hukumnya makruh. (Kitab Al-Fiqhu 'Alal Madzahibil Arba'ah, Juz I, halaman 665)

والشافعية قالوا : يشترط اتحاد صلاة المأموم وصلاة الإمام في الهيئة والنظام فلا يصح صلاة ظهر مثلا خلف صلاة جنازة لاختلاف الهيئة ولا صلاة صبح مثلا خلف صلاة كسوف لأن صلاة الكسوف ذات قيامين وركوعين
(madzhab Syafi'i berpendapat :  Bahwa shalat makmum itu disyariatkan sama dengan shalat imam dalam segi bentuk dan aturannya, maka shalat dhuhur, misalnya, tidak sah dilaksanakan di belakang orang yang shalat jenazah, karena bentuknya tidak sama. Demikian juga shalat subuh dibelakang shalat gerhana, karena dalam shalat gerhana, berdiri dan rukuknya dua kali. (Kitab Al-Fiqhu 'Alal Madzahibil Arba'ah, Juz I, halaman 672)

Imam Nawawi dalam kitabnya menegaskan :

وَيَجُوزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْمُفْتَرِضُ بِالْمُتَنَفِّلِ وَالْمُفْتَرِضُ بِمُفْتَرِضٍ فِي صَلَاةٍ أُخْرَى
Orang yang melaksanakan shalat fardhu boleh bermakmum pada orang yang shalat sunnah, begitu juga orang yang shalat fardhu bermakmum dengan orang yang shalat fardhu yang lain. (Kitab Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz IV, halaman 269)

Syaikh Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim Asy-Syarqawi dalam kitabnya menegaskan :

ولا يضر اختلاف نية الامام والمآموم لعدم فخش المخالفة فيهما. فيصح اقتداء المفترض بالمتنفل والمؤدى بالقاضى وفي طاويلة بقصيرة كظهربصبح وبالعكوس لكنه مكروه ومع ذلك تحصل فضيلة الجماعة قال : السويقى والكراهة لاتنقى الفضيلة
Dan tidak bahaya perbedaan niatnya imam dan makmum dalam shalat berjamaah karena tidak adanya kenistaan ketidaksamaan di dalamnya, karenanya sah makmumnya orang shalat fardhu pada imam yang shalat sunnah, makmum shalat ada’ (tunai) pada imam shalat qadha dan makmum shalat panjang pada imam shalat pendek seperti shalat dzuhur dengan shalat shubuh dan sebaliknya hanya saja hukumnya makruh namun masih didapatkan fadhilah berjamaah. As-Suwayqy berkata : Kemakruhan tersebut tidak dapat menafikan fadhilah jamaah. (KItab Asy-Syarqawi, Juz I, halaman 322

Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar Al-Bujairami dalam kitabnya menegaskan :

وَمَعَ الْكَرَاهَةِ تَحْصُلُ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ كَفَرْضٍ خَلْفَ نَفْلٍ وَعَكْسِهِ، وَمُؤَدَّاةٍ خَلْفَ مَقْضِيَّةٍ وَعَكْسِهِ
Dan beserta hukum makruh diperoleh fadhilah jamaah, seperti shalat fardhu (berjamaah) di belakang orang yang shalat sunnah dan sebaliknya (shalat sunnah di belakang shalat fardhu). Dan orang yang shlat ada' (tunai) di belakang orang yang meng-qadha shalat dan sebaliknya. (Kitab Hasyiyah Al-Bujairami 'Alal Khathib, Juz V, halaman 64)

BACA JUGA :


No comments:

Post a Comment