Jumat, 12 Mei 2017

Memberikan zakat kepada masjid, pondok, madrasah



Memberikan zakat kepada masjid, pondok, madrasah dan sejenisnya hukumnya ada dua pendapat :

1. Tidak boleh

Syaikh Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi mengatakan dalam kitabnya :

لَا يَسْتَحِقُّ الْمَسْجِدُ شَيْئًا مِنَ الزَّكَاةِ مُطْلَقًا، إِذْ لَا يَجُوْزُ صَرْفُهَا إِلَّا لِحُرِّ مُسْلِمٍ. وَمِثْلُهُ مَا فِى الْمِيْزَانِ اْلكُبْرَى فِى الْجُزْءِ الَّثانِي مِنْ بَابِ قِسْمِ الصَّدَقَاتِ، وَعِبَارَتُهُ : اِتَّفَقَ الْأَئِمَّةُ اْلأَرْبَعَةُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ إِخْرَاجُ الزَّكَاةِ لِبِنَاءِ مَسْجِدٍ أَوْ تَكْفِيْنِ مَيِّتٍ
Masjid itu sama sekali tidak berhak untuk menerima zakat, karena zakat itu penyalurannya tidak boleh kecuali untuk orang muslim yang merdeka. Pendapat yang  senada tertera pada Al-Mizan Al-Kubra bab qismus Shadaqah juz II yang berbunyi : Para imam empat madzhab sepakat bahwa tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat untuk membangun masjid atau mengkafani (mengurus) orang mati. (Kitab Bughyatul Mustarsyidin, Juz I , halaman 220)

2. Boleh, berdasarkan beberapa fatwa ulama, di antaranya adalah :

Syaikh Nawawi Al-bantani dalam kitabnya mengatakan :

نَقَلَ اْلقَفَّالُ فِي «تَفْسِيْرِهِ» عَنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُمْ أَجَازُوْا صَرْفَ الصَّدَقَاتِ إِلَى جَمِيْعِ وُجُوْهِ الْخَيْرِ مِنْ تَكْفِيْنِ الْمَوْتِى وَبِنَاءِ الْحُصُوْنِ وَعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ، لِأَنَّ قَوْلَهُ : وَفِي سَبِيْلِ اللهِ عَامٌ فِي الْكُلِّ ... وَهَكَذَا مَا أَفْتَاهُ الشَّيْخُ اْلعَلاَّمَةُ عَلِيُّ الْمَالِكِيُّ فِى كِتَابِ قُرَّةِ الْعَيْنِ ص 72، وَعِبَارَتُهُ : أَنَّ الْعَمَلَ الْيَوْمَ بِالْقَوْلِ الْمُقَابِلِ لِلْجُمْهُوْرِ الَّذِيْ ذَهَبَ إِلَيْهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوِيَةٍ فِى أَخْدِ سَهْمِ سَبِيْلِ اللهِ مِنَ الزَّكَاةِ الْوَاجِبَةِ عَلَى أَغْنِيَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ لِلْإِسْتِعَانَةِ بِهِ عَلَى تَأْسِيْسِ الْمَدَارِسِ وَالْمَعَاهِدِ الدِّيْنِيَّةِ صَارَ الْيَوْمَ مِنَ الْمُتَعَيَّنِ
Imam Al-Qffal menukil dari sebagian ahli fiqih, bahwa mereka memperbolehkan penyaluran zakat ke semua sektor sosial seperti mengkafani mayat, membangun benteng dan merehab masjid. Hal ini karena firman Allah : fi sabilillah (At-Taubah : 60) pengertiannya umum mencakup semuanya. Demikian ini sesuai dengan fatwa yang dinyatakan Syaikh Ali Al-Maliki dalam kitab Quttatul 'Ain halaman 73, yang berbunyi : Amalan yang ada sekarang ini seperti yang dianut oleh mayoritas ulama, di antaranya imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawiyah perihal pengambilan saham sabilillah yang diperoleh dari zakat wajib dari kalangan orang-orang kaya muslim untuk membantu pendirian sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga keahamaan, maka amalan tersebut menjadi suatu keharusan. (Tafsir Al-Munir, Juz I, halaman 344)

Al-Fadhil Muhammad Makhluf dalam kitabnya mengatakan :

إِنَّ مِنْ مَصَارِفِ الزَّكَاةِ الثَّمَانِيَّةِ الْمَذْكُوْرَةِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: (إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلفُقَرَاءِ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ، إِنْفَاقَهَا (فِي سَبِيْلِ اللهِ) وَسَبِيْلُ اللهِ عَامٌ يَشْمُلُ جَمِيْعَ وُجُوْهِ الْخَيْرِ لِلْمُسْلِمْيِنَ؛ مِنْ تَكْفِيْنِ الْمَوْتَى وَبِنَاءِ الْحُصُوْنِ وَعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ وَتَجْهِيْزِ الْغُزَاةِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِمَّا فِيْهِ مُصْلَحَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ. كَمَا دَرَجَ عَلَيْهِ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَاعْتَمَدَهُ اْلإِمَامُ اْلقَفَّالُ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَنَقَلَهُ عَنْهُ الرَّازِيِّ فِي تَفْسِيْرِهِ، وَهُوَ الَّذِي نَخْتَارُهُ لِلْفَتَوَى.

Bahwa sesungguhnya penyaluran ke delapan golongan penerima zakat sebagaimana yang tertera dalam firman Allah swt : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, sampai  akhir ayat. (At-Taubah : 60) di antaranya untuk sabilillah. Sedangkan yang dimaksud dengan sabilillah itu pengertiannya umum mencakup semua sektor sosial yang baik bagi orang-orang muslim, seperti mengkafani mayat, membangun benteng, merehab masjid-masjid dan pembekalan prajurit yang akan berperang di jalan Allah, serta lainnya yang memuat kepentingan umum umat Islam. Hal ini sebagaimana yang dirinci oleh sebagian ahli fikih dan yang dipedomani oleh imam Qaffal dari kalangan Asy-Syafi'iyah serta dinukil oleh Al-Razi dalam tafsirnya yang menjadi pilihan kami dalam berfatwa. (Kitab Fatawa Husnaini Makhluf, Juz I, halaman 332)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar