Selasa, 04 September 2018

Hukum Pergantian Khatib Dalam Shalat Jum'at




Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i, salah satu syarat khatib Jum'at adalah suci dari hadats kecil dan besar. Tidak sah khutbah apabila dilakukan oleh khatib yang berhadats. Bila khatib yang batal (seperti karena kentut, dll) di tengah-tengah khutbahnya, maka ia harus mersesuci (berwudhu), maka setelah kembali bersuci, khatib tersebut harus mengulang khutbahnya dari awal, meskipun ia kembali dalam waktu yang singkat.

Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi dalam kitabnya menegaskan :

وَشُرِطَ فِيْهِمَا طُهْرٌ فَلَوْ أَحْدَثَ فِي الْخُطْبَةِ اِسْتَأْنَفَهَا وَإِنْ سَبَقَهُ الْحَدَثُ وَقَصُرَ الْفَصْلُ لِأَنَّهَا عِبَادَةٌ وَاحِدَةٌ فَلَا تُؤَدَّى بِطَهَارَتَيْنِ كَالصَّلَاةِ
Disyaratkan dalam dua khutbah bersuci dari hadats. Maka, apabila khatib berhadats di pertengahan khutbah, ia wajib mengulangi khutbahnya (setelah ia bersuci), meskipun tidak sengaja berhadats dan pemisahnya sebentar, sebab khutbah adalah satu bentuk kesatuan ibadah, maka tidak dapat dilakukan dengan dua kali bersuci seperti halnya shalat. (Kitab I'anatuth Thalibin, Juz II, halaman 82).

Khatib yang batal saat menyampaikan khutbahnya diperbolehkan untuk mengganti dirinya dengan salah satu jamaah yang hadir. Dan pengganti khatib tersebut boleh meneruskan bacaan khatib yang awal asalkan tidak ada masa pemisah yang lama menurut standar keumuman (‘urf) antara bacaan khatib pertama dan kedua. Namun jika melewati pemisah yang lama, maka khatib pengganti tersebut harus memulai khutbah dari awal.

Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi dalam kitabnya menegaskan :

وَلَوْ أَحْدَثَ فِيْ أَثْنَاءِ الْخُطْبَةِ وَاسْتَخْلَفَ مَنْ حَضَرَ جَازَ لِلثَّانِيْ الْبِنَاءُ عَلَى خُطْبَةِ الْأَوَّلِ
Apabila khatib berhadats di pertengahan khutbahnya dan ia minta diganti oleh jamaah yang hadir, maka khatib yang kedua boleh meneruskan saja khutbahnya khatib pertama. (Kitab I'anatuth Thalibin, Juz II, halaman 82).

Tetapi jika batalnya karena pingsan, maka pengantinya itu harus memulai lagi dari awal.

Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya menegaskan :

نَعَمْ لَايَجُوْزُ الْبِنَاءُ فِى الْإِغْمَاءِ مُطْلَقًا فَإِذَا أُغْمِيَ عَلَى الْخَطِيْبِ قَبْلَ أَنْ يُتِمَّ الْخُطْبَتَيْنِ لَمْ يَجُزِ الْبِنَاءُ مِنْهُ وَلَا مِنَ الْخَلِيْفَةِ لِزَوَالِ الْأَهْلِيَّةِ فِيْهِ دُوْنَ الْأَوَّلِ
Betul, tidak boleh meneruskan dalam hal batalnya karena pingsan secara mutlak. Maka jika seorang khatib pingsan sebelum selesai dua khutbahnya, ia sendiri tidak boleh meneruskan khutbahnya dan tidak boleh pula penggantinya karena hilangnya ahliyah padanya tidak hilang ahliyah pada yang pertama. (Kitab Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Najah, halaman 97).

BACA JUGA :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar