Thursday, October 12, 2017

Sujud Syukur


عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُوْرٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلهِ
Dari Abu Bakrah dari Nabi saw, bahwanya beliau apabila terdapat perkara yang menyenangkan atau beliau diberi kabar gembira maka beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah. (H. R. Abu Daud no. 2776)

Sujud syukur itu dilaksanakan di luar shalat, sujudnya hanya sekali. Meskipun dilaksanakan di luar shalat, tapi syarat-syarat sujudnya seperti sayart-syarat sujud di dalam shalat.

Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khathib Al-Syarbiniy dalam kitabnya mengatakan :
وَسَجْدَةُ الشُّكْرِ لَا تَدْخُلُ صَلَاةً وَتُسَنُّ لِهُجُومِ نِعْمَةٍ أَوْ انْدِفَاعِ نِقْمَةٍ ، أَوْ رُؤْيَةِ مُبْتَلَى أَوْ فَاسِقٍ مُعْلِنٍ ، وَيُظْهِرُهَا لِلْفَاسِقِ إنْ لَمْ يَخَفْ ضَرَرَهُ لَا لِمُبْتَلًى لِئَلَّا يَتَأَذَّى وَهِيَ كَسَجْدَةِ التِّلَاوَةِ
Sujud syukur dikerjakan di luar shalat. Sujud ini dikerjakan karena datangnya nikmat mendadak, terhindar dari bahaya, melihat orang kena musibah (atau orang cacat), atau orang fasiq secara terang-terangan. Seseorang disunnahkan menyatakan sujud syukur di hadapan si fasiq jika tidak menimbulkan mudarat. Tetapi jangan sujud syukur di depan orang yang cacat karena dapat melukai perasaan yang bersangkutan. Pelaksanaan sujud syukur sama saja dengan sujud tilawah. (Kitab Al-Iqna' Fi Halli Al-fadz Abi Syuja', Juz I, halaman 181)

Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar Al-Bujairami dalam kitabnya mengatakan :

( وَشَرْطُهَا كَصَلَاةٍ ) فَيُعْتَبَرُ لِصِحَّتِهَا مَا يُعْتَبَرُ فِي سُجُودِ الصَّلَاةِ كَالطَّهَارَةِ وَالسَّتْرِ وَالِاسْتِقْبَالِ وَتَرْكٍ نَحْوَ كَلَامٍ ، وَوَضْعِ الْجَبْهَةِ مَكْشُوفَةً بِتَحَامُلٍ عَلَى غَيْرِ مَا يَتَحَرَّكُ بِحَرَكَتِهِ وَوَضْعِ جُزْءٍ مِنْ بَاطِنِ الْكَفَّيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ وَمِنْ الرُّكْبَتَيْنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ
Syarat sujud syukur seperti syarat sujud dalam shalat. Sujud syukur dianggap sah seperti sahnya sujud di dalam shalat seperti bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, tidak bicara, meletakkan dahi terbuka dengan sedikit tekanan di atas tempat yang tidak ikut bergerak ketika fisiknya bergerak, meletakkan telapak tangan, telapak kaki, lutut, dan syarat sujud lainnya. (Kitab Hasyiyah Al-Bujairami 'Alal Khathib, Juz IV, halaman 27)
Adapun caranya sujud syukur adalah :

1. Seseorang yang akan melakukan sujud syukur mengambil posisi berdiri atau boleh dengan duduk iftirosy (seperti duduk di waktu tahiyat awal) menghadap kiblat, lalu bertakbiratul ihrom disertai niat.

Lafal niat sujud syukur

نَوَيْتُ سَجْدَةَ الشُّكْرِ لِلهِ تَعَالَى
NAWAITU SAJDATASY SYUKRI LILLAAHI TA'AALAA


(Saya niat sujud syukur karena Allah ta'ala)

2. Mengucap takbir dan turun untuk sujud
3. Bangun dari sujud, lalu duduk tawarruk (seperti duduk di waktu tahiyat akhir) lalu diam sejenak sebelum salam.
4. Kemudian salam, jadi sujudnya hanya dilakukan satu kali saja. Semua dilakukan dengan tuma’ninah. Saat sujud ia bisa membaca lafal berikut ini.

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ
SAJADA WAJHIYA LILLADZI KHOLAQOHU WA SHOWWAROHU WA SYAQQO SAM'AHU WA BASHOROHU BIHAULIHI WA QUWWATIHI FATABAAROKALLOHU AHSANAL KHOOLIQIIN

(Wajahku bersujud kepada (Allah) yang telah menciptakannya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya, Maha Suci Allau sebaik-baik pencipta).

Para ulama menganjurkan agar sujud syukur diikuti dengan sedekah. Sehingga, syukur kepada Allah mengambil bentuk badaniyah dan maliyah

Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khathib Al-Syarbiniy dalam kitabnya mengatakan :
وَيُسَنُّ مَعَ سَجْدَةِ الشُّكْرِ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ الصَّدَقَةُ
Bersamaan dengan sujud syukur, disunahkan bersedekah seperti dikutip dari kitab Al-Majmu'. (Kitab Al-Iqna' Fi Halli Al-fadz Abi Syuja', Juz I, halaman 181)

Sebagai alternatif, sujud syukur bisa digantikan dengan suatu bacaan ketika syarat-syaratnya tidak memadai

Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’Ali Ba’Isyn Ad-Dau’ani Al-Hadhrami dalam kitabnya mengatakan :

وَلَوْ لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنَ التَّحِيَّةِ أَوْ سُجُوْدِ التِّلَاوَةِ أَوِ الشُّكْرِ قاَلَ أَرْبَعُ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَا اللهُ، وَاللهَ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ العَظِيْمِ. فَإِنَّهَا تَقُوْمَ مَقَامَهَا

kalau tidak bisa mengerjakan shalat tahiyyatul masjid, sujud tilawah, atau sujud syukur, pihak yang bersangkutan cukup membaca sebanyak 4 kali “Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar, wala haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim”. Karena, kedudukan fadhilah bacaan tersebut memadai dengan tiga perbuatan di atas. (Kitab Busyrol Karim Bi Syarhi Masa'ilit Ta'lim)

No comments:

Post a Comment