Monday, October 23, 2017

Mana Dalilnya?



Sering kita dengar seseorang menayakan mana dalilnya terhadap ibadah yang kita lakukan, karena berpedoman dengan kaidah fiqih :

اَلْأَصْلُ فِى اْلعِبَادَةِ اَلتَّحْرِيْمُ وَالْبَطْلُ إِلاَّ مَا جَاءَ بِهِ الدَّ لِيْلِ عَلىَ اَوَامِرِهِ
Hukum asal dalam beribadah adalah haram dan batal kecuali ada dalil yang memerintahkan

Juga berpedoman apa yang dikatakan Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani seorang ulama madzhab syafi'i, beliau mengatakan dalam kitabnya :

اَلْأَصْلَ فِي الْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّفِ
Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil). (Kitab Fathul Bari, Juz III, halaman 54)

Syaikh Salman Al-Audah ulama Saudi Arabiah dalam kitabnya menerangkan :

التوقيف في صفة العبادة
العبادة توقيفية في كل شيء، توقيفية في صفتها -في صفة العبادةفلا يجوز لأحد أن يزيد أو ينقص، كأن يسجد قبل أن يركع مثلاً أو يجلس قبل أن يسجد، أو يجلس للتشهد في غير محل الجلوس، فهيئة العبادة توقيفية منقولة عن الشارع
Tauqifi dalam sifat ibadah

Ibadah itu tauqifi dalam semua hal dalam sifatnya, maka tidak boleh untuk menambah dan megurangi. Seperti sujud sebelum ruku', atau duduk sebelum sujud, atau duduk tasyahud tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, yang namanya ibadah itu tauqifi dinuqil dari syari' (Allah). (Kitab Durusul Lisy Syaikh Salman Al-Audah, Juz XVI, halaman 24)

التوقيف في زمن العبادة
زمان العبادة توقيفي -أيضاًفلا يجوز لأحد أن يخترع زماناً للعبادة لم ترد، مثل أن يقول مثلاً
Tauqifi dalam waktu pelaksanaan ibadah 

Waktu pelaksanaan ibadah juga tauqifi. maka tidak boleh seseorang itu membuat buat ibadah di waktu tertentu yang syari' tidak memerintahkannya. (Kitab Durusul Lisy Syaikh Salman Al-Audah, Juz XVI, halaman 25)

التوقيف في نوع العبادة 
كذلك لابد أن تكون العبادة مشروعة في نوعها، وأعني بنوعها أن يكون جنس العبادة مشروعاً، فلا يجوز لأحد أن يتعبد بأمر لم يشرع أصلاً، مثل من يتعبدون بالوقوف في الشمس، أو يحفر لنفسه في الأرض ويدفن بعض جسده ويقولأريد أن أهذب وأربي وأروض نفسي مثلاً، فهذه بدعة! 
Tauqifi dalam macamnya ibadah

Begitu juga ibadah juga harus disyaratkan sesuai dengan syari'at..artinya termasuk dari jenis ibadah yang disyariatkan. maka tidak sah bagi orang yang menyembah sesuatu yang tidak disyariatkan, seperti menyembah matahari, atau memendam jasadnya sebagian sembari berkata : saya ingin melatih badanku misalkan, ini semua bid'ah. (Kitab Durusul Lisy Syaikh Salman Al-Audah, Juz XVI, halaman 26)

التوقيف في مكان العبادة 
كذلك مكان العبادة لابد أن يكون مشروعاً، فلا يجوز للإنسان أن يتعبد عبادة في غير مكانها، فلو وقف الإنسان -مثلاًيوم عرفة بالـمزدلفة فلا يكون حجاً أو وقف بـمنى، أو بات ليلة المزدلفة بـعرفة، أو بات ليالي منى بالـمزدلفة أو بـعرفة، فإنه لا يكون أدّى ما يجب عليه، بل يجب أن يلتزم بالمكان الذي حدده الشارع إلى غير ذلك.
Tauqifi dalam tempat ibadah

Demikian juga tempat ibadah juga harus masyru'. maka tidak boleh beribadah tidak pada tempat yang sudah disyari'atkan. seperti jika seseorang wukuf di  Muzdalifah, maka ini bukan haji. atau wuquf di Mina, atau bermalam (Muzdalifah) di Arafah, dan sebaliknya, maka ini semua bukanlah sesuatu yang masyru'. Kita wajib melaksanakan ibadah sesuai tempat yang sudah disyari'atkan oleh syari'. (Kitab Durusul Lisy Syaikh Salman Al-Audah, Juz XVI, halaman 27)

Perlu diketahui bahwa ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya

1. Ibadah Mahdhah

Ibadah mahdhah atau ibadah khusus, ialah ibadah  apa saja yang telah ditetapkan Allah baik tata cara dan perincian-perinciannya (sifat, waktu, tempat dll). Seperti shalat, wudhu, haji dll.

2. Ibadah Ghairu Mahdhah

Ibadah ghairu mahdhah atau umum ialah segala amalan yang diizinkan oleh Allah yang tata cara dan perincian-perinciannya tidak ditetapkan dengan jelas. Misalnya belajar, dzikir, dakwah, tolong menolong dll.

Dari penjelasan kitab Durusul Lisy Syaikh Salman Al-Audah diatas dapat ditangkap empat poin, dan bila diperhatikan maka di situ didapat kesimpulan bahwa ibadah yang sifatnya tauqifi itu adalah ibadah mahdah saja. Artinya ibadah dalam kaidah fiqih  :  "Hukum asal dalam beribadah adalah haram dan batal kecuali ada dalil yang memerintahkan", adalah ibadah yang sifatnya mahdhah saja, bukan semua ibadah

Untuk bisa membedakannya ibadah harus dilihat wasail (perantara) dan maqashid (tujuan) nya. Untuk ibadah yang sifatnya mahdhah cuma ada maqashid, sedangkan untuk ghairu mahdhah ada maqoshid dan juga ada wasail. 

Supaya lebih mudah difahami akan kami beri beberapa contoh :

Shalat, wudhu, puasa adalah ibadah yang sudah jelas dzatnya adalah ibadah, maka yang ada hanya maqashid (tujuan) tidak ada wasailnya.

Seperti menulis di Web, FB, WA dll (seperti yang kami lakukan di www.wongsantun.com ). Kegiatan menulis sendiri itu bukan ibadah maka hukumnya mubah. Tapi karena kita mengharapkan ridha Allah dalam rangka dakwah dengan jalan menulis di web, maka dalam Islam ini berpahala dan termasuk ibadah (wasailnya anda menulis di web, maqashidnya mengharapkan ridha Allah dalam rangka berdakwah). Tapi jika kita menganggap kegiatan menulis ini sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhah sudah pasti ini namanya bid’ah dhalalah. 

Begitu juga dengan maulid Nabi, maulid adalah wasail (perantara atau ada yang bilang sarana), maqashidnya adalah mengenal Rasul dan mengagungkannya. Bagaimanakah hukum awal dari Maulid? Jawabannya adalah mubah, boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan. Tapi kenapa menjadi sunnah? Menjadi sunnah dikarenakan hukum maqashidnya adalah sunnah (mengenal dan mengagungkan Rasul adalah sunnah) karena yang namanya hukum wasail itu mengikuti hukum maqashid, seperti kaidah fiqih :

لِلْوَسَائِلِ حُكْمُ اْلمَقَاصِدِ
Hukum sarana suatu perbuatan sama dengan hukum tujuan (perbuatannya)

Contoh gampangnya untuk (Lil Wasail hukmul Maqashid), kita membeli air hukumnya mubah, mau beli atau tidak, tak ada masalah. Tapi suatu saat tiba waktu shalat wajib sedangkan air sama sekali tidak ada kecuali harus membelinya dan anda punya kemampuan untuk itu maka hukum membeli air adalah wajib.

Oleh karena itu mohon jangan sedikit-sedikit bertanya "Mana Dalilmya?” , tanpa tahu sesuatu hal itu perlu dalil atau tidak. 


No comments:

Post a Comment