Wednesday, August 19, 2015

tradisi pesantren dan terorisme




Setigma pesantren sebagai 'produsen' teroris telah menggelinding ke seluruh penjuru nusantara. Masyarakatpun menangkap dan memaknai bola panas itu secara beragam. Sebagian membenarkan, sebagian ragu penuh tanya, dan sebagian besar  lainnya  menolak  tegas. Diskusi, artikel, dan komentar terus-menerus bermunculan diberbagai media, terkait isu besar ini. 

Pertanyaan besarnya: benarkah secara genetis pesantren terkait atau bahkan bermula dari doktrin-doktrin terorisme?

Geneologi Tradisi Pesantren

Dengan ujaran lain, tradisi, baik tradisi pemikiran maupun lelaku yang berkembang di pesantren, tak lain merupakan implementasi ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab klasik itu. Logika sederhananya, jika pesantren dianggap sebagai produsen teroris, maka ajaran-ajaran yang terhampar dalam kitab-kitab itu juga cerminan ajaran teroris. Betulkah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis berupaya menulusuri kitab-kitab klasik apa saja yang diajarkan di pesantren dan apakah ajaran kekerasan ala terorisme itu termuat di dalamnya.

Pertama, kitab-kitab fiqh. hampir semua pesantren di nusantara ini mengajarkan kitab-kitab fiqh yang berhaluan Mazhab al-Syafi'i. Itu menunjukkan, secara geneologi, pemahaman fiqh pesantren di nusantara ini tidak berujung pada bentuk fiqh yang kaku atau keras. Karena, Imam Muhammad bin Idris al-Syafi'i (w. 204 H) sebagai pencetusnya, dikenal sebagai pemikir moderat. Ia berhasil memoderasi pemikiran fiqh Abu Hanifah (w. 150 H) yang cenderung rasional-kontektual dan pemikiran fiqh Malik bin Anas (w. 179 H) yang cenderung kaku dan rigid. al-Syafi'i juga dikenal sebagai sosok penuh toleransi atas perbedaan. 

Wasiatnya yang paling terkenal misalnya: ra'yuna shawab yahtamil al-khata' wa ra'y ghairina khata' yahtamil al-shawab (pandangan yang kami yakini benar, mungkin salah; dan pandangan orang lain yang kami yakini salah, mungkin benar).

Ini menunjukkan, betapa al-Syafi'i berupaya menghindari klaim 'ini salah' dan 'ini benar'. Padahal klaim inilah yang banyak digaungkan para teroris itu, jika berhadapan dengan kelompok yang berseberangan.

Untuk itu, jika runutan genetika pemikiran fiqh pesantren berujung pada al-Syafi'i, bisa dipastikan pemikiran fiqh moderatlah yang dikembangkan pesantren. Lebih tegas lagi, kitab-kitab acuan pesantren yang berhaluan Mazhab al-Syafi'i seperti Fath al-Mu’in, I’anah al-Thalibin, Taqrib, Kifayah, Muhaddzab, dan sebagainya, tak ada satupun yang mendorong munculnya aksi kekerasan. Andaipun kitab-kitab itu memaparkan jihad misalnya, yang pertama kali ditekankan bukanlah jihad dalam pengertian sempit mengangkat senjata. 

Kedua, kitab-kitab tasawuf. Dalam tradisi pesantren nusan-tara, secara umum kitab-kitab tasawuf yang diajarkan adalah karya-karya Muhammad al-Ghazali (w. 505 H), seperti Ihya ’Ulum al-Din atau Bidayah al-Hidayah. Di sana juga tak terdapat satupun ajaran yang menghendaki tindak kekerasan semisal terorisme. Bahkan, kelembutan muslim Indonesia lebih banyak diwarnai ajaran tasawuf itu.

Malah, Damarjati Supadjar, kala memberi pengantar buku Islam Jawa karya Mark R Woodward menulis, Islam yang pertama kali datang ke Indonesia berhaluan Syiah Batiniyyah yang bercorak sufistik. Dan sepanjang sejarah, tidak ada aksi terorisme yang diawali ajaran tasawuf, karena tasawuf cenderung diam menyikapi gejolak kehidupan. Martin van Bruinessen juga mengakui, pada mulanya tradisi pesantren lebih bernafaskan sufistik. (h. 20). 

Ketiga, kitab-kitab tauhid (teologi). Diketahui, mayoritas pesantren di nusantara cende-rung mengajarkan kitab-kitab tauhid berhaluan Asy’ariyyah atau Maturidiyyah, seperti Umm al-Barahin, Sanusi, Dasuqi, Kifayah al-’Awwam, Tijan al-Darari, dan sebagainya. Mereka juga terkenal moderat, karena berhasil memoderasi tauhid ala Muktazilah yang menonjolkan nalar dan Khawarij yang gampang melontarkan tuduhan kafir pada kelompok lain. 

Bahkan kelompok Khawarij ini tak canggung melakukan kekerasan fisik (pembunuhan) pada kelompok yang tak sepaham. Jika secara genetis tradisi pesantren berakar dari Khawarij, maka bisa dimaklumi pesantren identik dengan aksi-aksi terorisme. Tapi nyatanya tidak demikian, karena tradisi pesantren tidak bersumber dari Khawarij. 

Berdasarkan fakta-fakta di atas, dapat disimpulkan, secara genetika pesantren tidak terkait sedikitpun dengan kelompok yang mengedepankan kekerasan atau terorisme. Karena itu, jika terbukti ada segelintir alumni pesantren yang terseret arus terorisme, bisa dipastikan mereka telah termakan ajaran-ajaran yang berkembang di luar tradisi pesantren.

Sebagai bukti, dalam karyanya Aku Melawan Terorisme, Imam Samudra yang alumni pesantren mengaku, dirinya bertindak demikian karena terilhami buku Ayat al-Rahman fi Jihad al-Afghan karya Abdullah Azzam. Buku ini tidak pernah dijadikan acuan dalam tradisi pesantren. Selain itu, jika pesantren diklaim sebagai produsen teroris, padahal pesantren hanya mengamalkan ajaran-ajaran yang tertuang dalam kitab klasik. Jadi harusnya tidak semua pesantren di Indonesia yang harus dicurigai dan dikait-kaitkan dengan teroris.

BACA JUGA :

No comments:

Post a Comment