Friday, June 14, 2019

Urutan Yang Berhak Jadi Wali Nikah




Keberadaan wali merupakan satu dari rukun nikah. Wali sendiri ialah sebutan untuk pihak lelaki dalam keluarga atau lainnya yang bertugas mengawasi keadaan atau kondisi seorang perempuan, khususnya dalam bab nikah

Yang dianggap sah untuk menjadi wali mempelai perempuan adalah menurut susunan di bawah ini.

Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi dalam kitabnya menegaskan :

(وَأَوْلَى الْوُلَاةِ) أَيْ أَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ بِالتَّزْوِيْجِ : (اَلْأَبُ ثُمَّ أَبُو اْلأَبِ) ثُمَّ أَبُوْهُ وَهَكَذَا. وَيُقَدَّمُ الْأَقْرَبُ مِنَ الْأَجْدَادِ عَلَى الْأَبْعَدِ. (ثُمَّ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ) وَلَوْ عَبَّرَ بِالشَّقِيْقِ لَكَانَ أَحْصَرَ. (ثُمَّ الْأَخُ  لِلْأَبِ ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ وَالْأًمِّ) وَإِنْ سَفُلَ. (ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ) وَإِنْ سَفُلَ. (ثُمَّ الْعَمُّ) الشَّقِيْقُ. ثُمَّ الْعَمُّ لِلْأَبِ. (ثُمَّ ابْنُهُ) أَيْ اِبْنُ كُلٍّ مِنْهُمَا وَإِنْ سَفُلَ (عَلَى هَذَا التَّرْتِيْبِ). فَيُقَدَّمُ ابْنُ الْعَمِّ الشَّقِيْقِ عَلَى ابْنِ الْعَمِّ لِلْأَبِ  ....
(ثُمَّ الْحَاكِمُ) يُزَوِّجُ عِنْدَ فَقْدِ الْأَوْلِيَاءِ مِنَ النَّسَبِ وَالْوَلآءِ
Dan seutama-utama wali, artinya yang lebih berhak dari beberapa wali dalam menikahkan adalah :

1. Ayah
2. Kakek (ayahnya ayah)
3. Ayahnya kakek dan seterusnya

Dalam hal ini hendaknya didahulukan wali yang lebih dekat dari beberapa kakek atas yang lebih jauh

4. Saudara laki-laki yang seayah seibu. Dan pengarang membuat ibarat dengan kata syaqiq adalah lebih ringkas
5. Saudara laki-laki seayah saja
6. Anak laki-lakinya saudara laki-laki yang seayah seibu, terus ke bawah
7. Anak laki-lakinya saudara laki-laki seayah saja, terus ke bawah
8. Paman yang seayah seibu
9. Paman yang seayah saja
10. Anak laki-lakinya paman, artinya anak laki-laki dari masing-masing keduanya terus ke bawah menurut tertib ini.

Maka hendaknya didahulukan si anak laki-lakinya paman yang seayah seibu atas anak laki-lakinya paman yang seayah saja ....

Kemudian wali hakim, maka bolek menikahkan ketika memang sudah tidak ada wali nasab (keturunan) dan wali wala’ (kekerabatan karena memerdekakan budak). (Kitab Fathul qarib, halaman 44)

No comments:

Post a Comment