Friday, November 30, 2018

Hukum Menyentuh Kemaluan Setelah Berwudhu




Seseorang yang menyentuh kemaluan (farji), baik kepunyaannya sendiri maupun kepunyaan orang lain, maka wudhunya menjadi batal. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مَسَّ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ وَأَيُّمَا امْرَأَةٍ مَسَّتْ فَرْجَهَا فَلْتَتَوَضَّأْ
Dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi saw, berliau bersabda : Laki-laki manapun yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah berwudhu. Dan perempuan manapun yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah berwudhu. (H. R. Daruquthni no. 544, Baihaqi no. 652, Ahmad no. 7275)

Sesungguhnya yang membatalkan wudhu itu adalah jika tersentuh oleh telapak tangan bagian dalam. Tapi jika tersentuhnya oleh punggung (bagian luar)  telapak tangan atau tersentuh oleh kemaluan binatang, maka wudhunya tidaklah batal.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya menegaskan :

يَنْتَقِضُ الْوُضُوْءُ بِمَسِّ فَرْجِ الْأَدَمِيِّ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ، صَغِيْرًا أَوْ كَبِيْرًا، حَيًّا أَوْ مَيِّتًا، بِشَرْطِ كَوْنِهِ بِبَاطِنِ الْكَفِّ، فَلَا يَنْقُضُ بِظَاهِرِ الْكَفِّ، لِأَنَّ ظَاهِرَ الْكَفِّ لَيْسَ بِآلَةِ اللَّمْسِ، فَأَشْبَهَ مَا لَوْ مَسَّهُ بِفَخْذِهِ
Wudhu menjadi batal dengan sebab menyentuh kemaluan manusia, baik kepunyaannya sendiri ataupun kepunyaan orang lain, masih kecil ataupun sudah besar, masih hidup ataupun telah mati, dengan syarat tersentuhnya oleh telapak tangan bagian dalam. Maka tidak menjadi batal wudhu jika tersentuh oleh telapak tangan bagian belakang (luar), karena telapak tangan bagian belakang (luar) itu bukanlah alat untuk menyentuh, sama saja dengan kalau ia menyentuhnya dengan paha. (Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Juz I, halaman 278-279).

Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya menegaskan :

(وَ) ثَالِثُهَا (مَسُّ فَرْجِ آدَمِيٍّ) أَوْ مَحَلِّ قَطْعِهِ، وَلَوْ لِمَيِّتٍ أَوْ صَغِيْرٍ، قُبُلًا كَانَ الْفَرْجُ أَوْ دُبُرًا، مُتَّصِلًا أَوْ مَقْطُوْعًا، إِلَّا مَا قُطِعَ فِي الْخِتَانِ
Dan yang ketiga (yang membatalkan wudhu) adalah menyentuh kemaluan manusia atau tempatnya jika kemaluan itu putus, baik kemaluan orang mati, anak-anak, qubul, dubur, masih menempel maupun sudah lepas selain potongan khitan. (Kitab Fathul Mu'in, halaman 9)

وَخَرَجَ بِآدَمِيٍّ فَرْجُ الْبَهِيْمَةِ إِذْ لَا يُشْتَهَى، وَمِنْ ثَمَّ جَازَ النَّظَرُ إِلَيْهِ. (بِبَطْنِ كَفٍّ) لِقَوْلِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ، وَفِي رِوَايَةٍ : مَنْ مَسَّ ذَكَرًا فَلْيَتَوَضَّأْ.
Dengan ditentukannya kemaluan manusia, maka kemaluan binatang tidak termasuk, dan karena itu pula tidak berdosa jika melihatnya. (Menyentuh itu dengan telapak tangan). Berdasarkan sabda Nabi saw : Barang siapa telah menyentuh kemaluannya - dalam riwayat lain : Barang siapa menyentuh penis - maka hendaklah berwudhu kembali. (Kitab Fathul Mu'in, halaman 9)

No comments:

Post a Comment