Sabtu, 20 Oktober 2018

Menghindari Perdebatan dan Bicaralah yang Lemah Lembut




Debat adalah Pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Debat semacam ini masih positif selama kedua belah pihak masih bisa beragumentasi dengan baik. Dalam Al-Qur'an disebutkan :

وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Q.S. 16 An-Nahl 125).

Allah memerintahkan kita bila berdebat maka kita lakukan dengan baik, meskipun itu dengan orang kafir, bahkan kepada musuh kita. Sebagaimana nabi Musa dan nabi Harun diperintah untuk berkata yang lemah lembut kepada Fir'aun.

وَلاَ تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dzalim di antara mereka. (Q.S. 29 Al 'Ankabuut 46)

فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Q.S. 20 Thaahaa 44)

Akan tetapi ketika keduanya sudah dikuasai dalam keadaan emosi dan bahkan saling serang pribadi masing-masing, maka perdebatan semacam ini bisa berkepanjangan dan berpotensi menimbulkan madharat. Maka lebih baik kita hindari dan kita tinggalkan.

Sayyid Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad dalam kitabnya menegaskan :

وَعَلَيْكَ بِالْحَذَرِ مِنَ الْمِرَاءِ وَالْجِدَالِ فَإِنَّهُمَا يُوْغِرَانِ الصُّدُوْرَ وَيُوْحِشَانِ الْقُلُوْبَ وَيُوْلِدَانِ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ. فَإِنْ مَارَّكَ أَوْ جَادَلَكَ مُحِقٌّ فَعَلَيْكَ بِقَبُوْلِ مِنْهُ فَإِنَّ الْحَقَّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَوْ مُبْطِلٌ فَعَلَيْكَ بِالْإِعْرَاضِ عَنْهُ لِأَنَّهُ جَاهِلٌ وَاللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجاَهِلِيْنَ
Dan kamu harus takut senang bersitegang atau membantah (berdebat), karena keduanya akan menyulut api emosi dalam hati, menjadikan hati bengis (galak), serta akan melahirkan permusuhan dan saling membenci. Jika saja ada seseorang membantah sesuatu dari kamu atau dia memperdebat kamu sebagai pihak yang benar, maka kamu harus menerima kebenaran darinya, akan tetapi jika dia pada pihak yang salah, maka kamu harus berpaling darinya, karena dia termasuk orang yang bodoh. Allah swt berfitman : Berpalinglah kamu dari orang-orang yang bodoh. (Kitab Risalatul Mu'awanah, halaman 147).

Mengalah dari debat kusir itu jauh lebih baik, karena kita tidak akan bisa menang debat melawan orang yang bodoh dan tidak beradab. Sebagaimana dalam sebuah ungkapan Imam Syafi'i :

 قَالَ اَلْإِمَامُ الشَّافِعِي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي

Berkata Imam Syafi'i : Setiap kali aku berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tanpa daya

Jika kita mau meninggalkan perdebatan itu, maka Allah akan memberi balasan dengan balasan yang baik. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menegaskan sebuah hadits :

قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيْثٍ أَنَسِ مَعَ اِخْتِلَافِ قَالَ التِّرْمِذِيُّ حَسَنٌ
Beliau saw bersabda : Barang siapa yang meninggalkan perdebatan sedangkan  dia dipihak yang salah, maka Allah akan membangunkan rumah di pinggir surga. Dan barang siapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia dipihak yang benar, maka Allah membangunkan rumah di surga yang paling tinggi. Hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas, Tirmidzi mengatakan hadits hasan. (Kitab ihya' ulumuddin, Juz I, halaman 47)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar