Wednesday, July 4, 2018

Memuliakan dan Menghormati Tamu




Memuliakan dan menghormati tamu adalah perintah agama, hal ini disebutkan dalam suatu hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. (H. R. Bukhari no. 6019 dan Muslim no. 182) 

Cara memuliakan dan menghormati tamu, di antaranya adalah :

1. Mengucapkan selamat datang kepada tamu yang datang
2. Menjawab salam ketika tamu mengucapkan salam
3. Berjabat tangan dengan tamu yang datang
4. Menyambut tamu dengan wajah yang ceria dan suka cita
5. Mempersilahkan tamu untuk menganggap di rumahnya sendiri
6. Menyuguhkan hidangan dengan pelayanan yang baik
7. Mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan tamu
8. Bertutur kata yang halus terhadap tamu
9. Mengantarkan tamu sampai di pintu gerbang ketika tamu pulang

Tamu yang datang ke rumah seseorang akan membawa manfaat bagi penghuni rumah itu, di antaranya adalah :

Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya'rani dalam kitabnya menegaskan :

يَا عَلِيُّ : اُطْلُبِ الْخَيْرِ عِنْدَ صَبَاحِ الْوُجُوْهِ وَاَكْرِمِ الضَّيْفَ فَإِنَّهُ اِذَا نَزَلَ بِقَوْمٍ نَزَلَ مَعَهُ رِزْقُهُ وَاِذَا ارْتَحَلَ اِرْتَحَلَ بِذُنُوْبِ اَهْلِ الْمَنْزِلِ وَيُلْقِيْهَا فِى الْبَحْرِ
Wahai Ali : Carilah kebaikan di samping orang yang baik wajahnya dan muliakanlah setiap tamu, karena tamu itu jika datang ke suatu kaum, maka  ia membawa rezekinya, dan apabila ia pergi maka ia pergi dengan membawa dosa-dosa penghuni rumah yang didatangi, lalu membuangnya di laut. (Kitab Washiyatul Mushthafa lil Imam Ali, halaman 8)

As-Sayyid Ahmad Al-Hasyimi dalam kitabnya menegaskan :

إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى الْقَوْمٍ دَخَلَ بِرِزْقِهِ وَإِذَا خَرَجَ خَرَجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوْبِهِمْ ( رواه الديلمى عن أنس)
Apabila seorang tamu memasuki kaum, ia masuk dengan membawa rezekinya, dan apabila ia keluar maka ia keluar dengan membawa ampunan bagi mereka (kaum itu). (H. R. Ad-Dailami dari Anas). (Kitab Mukhtarul Ahaadits An-Nabawiyyah, halaman 11)

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menegaskan :

وَقَالَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُلُّ بَيْتٍ لَا يَدْخُلُهُ ضَيْفٌ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ
Dan Anas ra berkata : Setiap rumah yang tidak dimasuki tamu maka rumah itu tidak dimasuki malaikat. (Kitab ihya' ulumuddin, Juz II, halaman 13)


No comments:

Post a Comment