Thursday, May 3, 2018

Membuat Kubah dan Memasang Kain di Batu Nisan Para Wali Allah




Ketika kita ziarah ke makam para Nabi, wali, ulama dan makam-makam orang shalih, biasanya kita lihat di atas makam tersebut di bangun sebuah kubah/cungkup, serta batu nisannya juga diselimuti sebuah kain. Termasuk makam Nabi Muhammad saw, Abu Bakar dan umar yang ada di komplek masjid Nabawi di Madinah

Menganai hal ini, terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Semuanya bertujuan untuk mengagungkan dan mensucikan Allah swt, walaupun dalam penerapannya berbeda. Yang satu melarang dan yang lain memperbolehkannya.

Di antara ulama yang melarangnya adalah Syaikh Dr. Mustafa Al-Khin, Syaikh Dr. Mustafa Dib Al-Bugha dan Syaikh Dr. Ali Al-Syarbaji dalam kitabnya menegaskan :
يكره كراهة تحريم تسنيم القبور والبناء عليها على نحو الذي يفعله كثيرمن الناس اليوم.
Makruh tahrim hukumnya membentuk kuburan seperti punuk dan membangun cungkup di atasnya seperti yang sering dilakukan banyak orang akhir-akhir ini. (Kitab Al-Fiqh Al-Manhaji ala Al-Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i , Juz I, halaman 172)

Hal ini beliau berdasarkan pada sebuah hadits:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah saw telah melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan mendirikan bangunan di atasnya. (H. R. Muslim no. 2289)

Dan ulama-ulama yang lain memperbolehkan jika bertujuan supaya masyarakat bisa menghormati para Nabi, wali, ulama dan makam-makam orang shaleh tersebut.

Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi dalam kitabnya menegaskan :

وَقَالَ الْبُجَيْرِمِيُّ: وَاسْتَثْنَى بَعْضُهُمْ قُبُوْرَ الْاَنْبِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَنَحْوِهِمْ. بَرْمَاوِي. وَعِبَارَةُ الرَّحْمَانِيِّ. نَعَمْ، قُبُوْرَ الصَّالِحِيْنَ يُجُوْزُ بِنَاؤُهَا وَلَوْ بِقُبَّةٍ لِاِحْيَاءِ الزِّيَارَةِ وَالتَّبَرُّكِ. قَالَ الْحَلَبِيُّ: وَلَوْ فِي مُسَبَّلَةٍ، وَأَفْتَى بِهِ، وَقَدْ أَمَرَ بِهِ الشَّيْخُ الزَّيَادِيُّ مَعَ وِلَايَتِهِ
Dan berkata Imam Al-Bujayrimiy : Sebagian ulama mengecualikan keberadaan bangunan kuburan pada kuburan para Nabi, orang-orang yang mati syahid, orang-orang shalih, dan semisalnya. Demikian ungkapan imam Barmawi. Sedangkan keterangan yang dikemukakan oleh imam Rahmani bunyinya : Ya benar. Kuburan orang-orang shalih, hukumnya boleh mendirikan bangunan di atasnya walaupun dengan kubah, untuk menghidupkan ziarah kubur dan mendapatkan berkah. Imam Halabi berkata : Sekalipun di tanah milik umum, dan ia telah menfatwakan. Syaikh Zayadi memerintahkannya, padahal beliau seorang ulama yang telah mencapai derajat wali. (kitab I'anatuth Thalibin, Juz II, halaman 137)

Syaikh Zakariya Al-Anshari dalam kitabnya menegaskan :

وَتَصِحُّ مِنْ مُسْلِمٍ وَكَافِرٍ بِعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ لِمَا فِيْهَا مِنْ إقَامَةِ الشَّعَائِرِ وَقُبُوْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ لِمَا فِيْهَا مِنْ إحْيَاءِ الزِّيَارَةِ وَالتَّبَرُّكِ بِهَا.  قَالَ صَاحِبُ الذَّخَائِر وَلَعَلَّ الْمُرَادَ أَنْ يُبْنَى عَلَى قُبُوْرِهِمِ الْقِبَابُ وَالْقَنَاطِرُ كَمَا يُفْعَلُ في الْمَشَاهِدِ إذَا كَانَ فِي الدَّفْنِ فِي مَوَاضِعَ مَمْلُوْكَةٍ لَهُمْ أَوْ لِمَنْ دَفَنَهُمْ فِيْهَا لَا بِنَاءُ الْقُبُوْرِ نَفْسِهَا لِلنَّهْيِ عَنْهُ وَلَا فِعْلُهُ فِي الْمَقَابِرِ الْمُسَبَّلَةِ فَإِنَّ فَيْهِ تَضْيِيْقًا عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ
Sah wasiat membangun masjid baik dari orang muslim atau kafir karena termasuk dari bagian untuk menjunjung syiar-syiar Islam. Termasuk juga makam para nabi, wali dan orang-orang shalih karena termasuk menghidupkan ziarah dan tabarruk di kuburan tersebut. Pengarang kitab Dzakha’ir berkomentar : Mungkin maksudnya boleh membangun kubah, bangunan tinggi seperti yang dilakukan di tempat-tempat terhormat dan bersejarah itu baik adalah jika mayit dikuburkan di tanah milik pribadi dan bukan kuburan musabbal (yaitu sebidang tanah yang disediakan oleh penduduk suatu negeri untuk mengubur mayat). Sebab, hal tersebut dapat menjadikan sempit bagi muslim yang akan dimakamkan di situ. (Kitab Asna Al-Mathalib Syarh Rawdh Al-Thalib, Juz III, halaman 30)

Syaikh Ismail Haqqi Al-Barausawi dalam kitabnya menegaskan :

قال الشيخ عبد الغنى النابلسى فى كشف النور عن اصحاب القبور ما خلاصته  ان البدعة الحسنة الموافقة لمقصود الشرع تسمى سنة فبناء القباب على قبور العلماء والاولياء والصلحاء ووضع الستور والعمائم والثياب على قبورهم امر جائز اذا كان القصد بذلك التعظيم فى اعين العامة حتى لا يحتقروا صاحب هذا القبر كذا يقاد القناديل والشمع عند قبور الاولياء والصلحاء من باب التعظيم والاجلال ايضا للاولياء فالمقصد فيها مقصد حسن
Syaikh Abdul Ghani An-Nabulusi berkata dalam kitab Kasyf An-Nur 'An Ashhab Al-Qubur Sesungguhnya bid’ah hasanah yang sesuai dengan tujuan syara’ dinamakan sunnah. Oleh sebab itu, membangun cungkup diatas kuburan para ulama, auliya dan orang-orang sholih, juga memasang tabir, surban, dan pakaian di atas kuburan mereka adalah diperbolehkan, jika bermaksud untuk penghormatan di mata orang-orang awam. Demikian juga boleh menyalakan lampu dan lilin (atau listrik di zaman ini) di dekat kuburan auliya dan orang-orang sholih. Sebab hal ini merupakan penghormatan dan pengagungan terhadap para wali Allah swt. Maka tujuan tersebut adalah baik. (Kitab Tafsir Haqqi (Ruh Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an),  juz V, halaman 6)

Dalam Al-Qur'an disebutkan :

ذٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Q.S. 22 Al Hajj 32)

Sayyid Abdul Ghani An-Nabulusi menafsirkan ayat di atas dalam kitabnya :

وشعا ئرالله هي الاشياء الّتي تعشر أن تعلم به تعالى كالعلماء والصّالحين احياء وامواتا ونحوهم.
Yang dimaksud dengan syi’ar Allah swt adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai tanda atau penunjuk kebesaran Allah swt. Seperti ulama, orang shoih, di waktu hidupnya ataupun ketika telah meninggal dunia, dan semisal mereka. (Kitab Kasyf An-Nur 'An Ashhab Al-Qubur, halaman 13)

Ternyata membangun kubah sudah menjadi kebiasaan dan sudah ada sejak masa para sahabat Nabi saw sendiri (salafush shaih). Yang pertama kali membangun kubah di atas kuburan adalah Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik.

Syaikh Ibnu Baththal Al-Qurthubi dalam kitabnya menegaskan :

قَالَ مَالِكٌ: أَوَّلُ مَنْ ضَرَبَ عَلَى قَبْرٍ فُسْطَاطًا عُمَرُ، ضَرَبَ عَلَى قَبْرِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ زَوْجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Imam) Malik berkata : Orang yang pertama kali membangun kubah di atas kuburan adalah Umar. Ia membangun kubah di atas makam Zainab binti Jahsy, istri Nabi Saw. (Kitab Syarh Shahih Al-Bukhari li Ibni Bathtal, Juz V, halaman 346)

Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam mushanaf Abdur Razaq, Muhammad bin Ibrahim bin Harits At-Taimi, salah seorang ulama Madinah berkata :
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْحاَرِثِ التَّيْمِيِّ قَالَ أَوَّلَ فُسْطَاطٍ ضُرِبَ عَلَى قَبْرِ أَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ لَعَلَي قَبْرِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ وَكَانَ يَوْمًا حَارًّا
Dari Muhammad bin Ibrahim bin Harits At-Taimi ia berkata : Kubah yang pertama kali dibangun di atas kubur salah seorang kaum muslimin adalah dibangun di atas kubur Zainab binti Jahsyi, pada musim panas. (H. R. Abdur Razaq no. 6207)

Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa memasang kain di batu nisan atau membuat kubah di kuburan, khususnya pada makam para Nabi, wali, ulama dan makam-makam orang shaleh tidak dilarang. Apalagi kubah/cungkup tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdo’a kepada Allah swt  menghidupkan ziarah kubur dan tabarruk di kuburan tersebut. tentu semua itu sangat dianjurkan.

BACA JUGA :


No comments:

Post a Comment