Friday, August 18, 2017

Bolehkan memotong Kuku dan Rambut Bagi Orang yang Akan Berkurban


عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw bersabda : Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun. (H. R.Muslim no. 5232)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ تَرْفَعُهُ قَالَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيْدُ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلاَ يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا
Dari Ummu Salamah dan dimarfu'kan kepada Nabi saw, beliau bersabda : Jika (Salah seorang) telah masuk sepuluh (Dzul Hijjah), sedangkan ia memiliki hewan kurban yang hendak dikurbankan, maka jangan sekali-kali ia mencukur rambut atau memotong kuku. (H. R.Muslim no. 5233).

Mengenai hukum  memotong kuku dan rambut bagi orang yang akan berkurban para ulama masih berselisih pendapat.

Imam Nawawi mengatakan dalam kitabnya :

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِيمَنْ دَخَلَتْ عَلَيْهِ عَشْرُ ذِي الْحِجَّة وَأَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ فَقَالَ سَعِيْدُ بْنُ الْمُسَيِّب وَرَبِيِعَةَ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَدَاوُدُ وَبَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيّ : إِنَّهُ يَحْرُم عَلَيْهِ أَخْذ شَيْء مِنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ فِي وَقْتِ الْأُضْحِيَّةِ ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ : هُوَ مَكْرُوْهُ كَرَاهَة تَنْزِيه وَلَيْسَ بِحَرَامٍ ، وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَة : لَا يُكْرَه ، وَقَالَ مَالِك فِي رِوَايَة : لَا يُكْرَه ، وَفِي رِوَايَة : يُكْرَه ، وَفِي رِوَايَةٍ : يَحْرُمُ فِي التَّطَوُّعِ دُوْنَ الْوَاجِبِ . وَاحْتَجَّ مَنْ حَرَّمَ بِهَذِهِ الْأَحَادِيْثِ . وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيّ وَالْآخَرُوْنَ بِحَدِيْثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كُنْتُ أَفْتِل قَلَائِد هَدْي رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُقَلِّدهُ ، وَيَبْعَث بِهِ وَلَا يَحْرُم عَلَيْهِ شَيْء أَحَلَّهُ اللهُ حَتَّى يَنْحَر هَدْيه " رَوَاهُ الْبُخَارِيّ وَمُسْلِم . قَالَ الشَّافِعِيُّ : الْبَعْث بِالْهَدْيِ أَكْثَر مِنْ إِرَادَة التَّضْحِيَة ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْرُم ذَلِكَ وَحَمَلَ أَحَادِيث النَّهْي عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه . قَالَ أَصْحَابنَا : وَالْمُرَاد بِالنَّهْيِ عَنْ أَخْذ الظُّفْر وَالشَّعْر النَّهْي عَنْ إِزَالَة الظُّفْر بِقَلَمٍ أَوْ كَسْر أَوْ غَيْره ، وَالْمَنْع مِنْ إِزَالَة الشَّعْر بِحَلْقٍ أَوْ تَقْصِير أَوْ نَتْف أَوْ إِحْرَاق أَوْ أَخْذه بِنَوْرَةٍ أَوْ غَيْر ذَلِكَ ، وَسَوَاء شَعْر الْإِبْط وَالشَّارِب وَالْعَانَة وَالرَّأْس ، وَغَيْر ذَلِكَ مِنْ شُعُور بَدَنه ، قَالَ إِبْرَاهِيم الْمَرْوَزِيُّ وَغَيْره مِنْ أَصْحَابنَا : حُكْم أَجْزَاء الْبَدَن كُلّهَا حُكْم الشَّعْر وَالظُّفْر ، وَدَلِيله الرِّوَايَة السَّابِقَة : ( فَلَا يَمَسّ مِنْ شَعْره وَبَشَره شَيْئًا ) قَالَ أَصْحَابنَا : وَالْحِكْمَة فِي النَّهْي أَنْ يَبْقَى كَامِل الْأَجْزَاء لِيُعْتِق مِنْ النَّار ، وَقِيلَ : التَّشَبُّه بِالْمُحْرِمِ ، قَالَ أَصْحَابنَا : هَذَا غَلَط ؛ لِأَنَّهُ لَا يَعْتَزِل النِّسَاء وَلَا يَتْرُك الطِّيب وَاللِّبَاس وَغَيْر ذَلِكَ مِمَّا يَتْرُكهُ الْمُحْرِم

Dalam hal ini, para Ulama berbeda pendapat tentang orang yang memasuki tanggal 10 bulan Dzulhijjah dan ingin berkurban. Sa’id bin Musayyab , Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian kecil dari sahabat-sahabat Imam Syafi’i berpendapat : Hukumnya Haram memotong sesuatu dari rambut dan kukunya sehingga datang waktu berkurban. Imam Syafi'i sendiri dan mayoritas Sahabat-sahabatnya berpendapat hal itu hukumnya dimakruhkan dengan makruh tanjih tidak sampai pada batas hukum haram. Dan Imam Abu Hanifah berpendapat tidak makruh. Imam Malik dalam salah satu riwayat berpendapat tidak makruh. Tetapi dalam riwayat lain berpendapat makruh. Dan dalam salah satu riwayat lain berpendapat haram namun dalam hal Qurban sunnah dan tidak haram dalam qurban wajib. Imam Syafi'i dan yang lainnya berargumentasi dengan hadis Aisyah rah beliau berkata : Aisyah rah berkata : Aku mengikatkan tali pada hewan qurban Rasulullah saw kemudian beliau mengikatnya kembali dengan tangan beliau lalu mengirimnya . Maka sejak itu tidak ada yang diharamkan lagi bagi beliau dari apa-apa yang Allah halalkan hingga hewan qurban disembelih. diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Imam Syafi'i berkata : Mengirim hewan Qurban lebih banyak dari pada ingin berqurban, maka ini menunjukan bahwa hal itu tidak diharamkan dan hadis-hadis tentang larangan diatas itu membawa pengertian hukum makruh tanzih. Sahabat-sahabat kami ( As-Syafi’i) berkata : Yang dikehendaki dengan larangan mengambil kuku dan rambut yaitu larangan memotong kuku atau membelah atau dengan cara lainya, dan larangan menghilangkan rambut adalah menghilangkan rambut dengan cara cukur, memotong, mencabut, membakar, mengambilnya dengan kapur atau dengan cara yang lainnya. Apakah itu rambut ketiak, jenggot, rambut kemaluan, kepala dan rambut-rambut lain yang terdapat di badan. Sahabat-sahabat kami, Ibrahim Al-Marjawi dan yang lainnya berkata : Hukum seluruh angota badan adalah hukumnya rambut dan kuku, dan dalilnya adalah riwayat diatas : Lalu hendaknya ia tidak menyentuhkan sesuatupun akan rambut dan kulit. Sahabat-sahabat dari kalangan Madzhab Syafi'i berkata : Hikmah dalam larangan itu adalah supaya semua anggota badan tetap dibebaskan dari neraka. Dan ada yg mengatakan :  Menyerupakan dengan orang yang sedang ihram. Sahabat-sahabat dari kalangan madzhab Syafi'i berkata : Tapi pendapat terakhir ini salah (karena orang yang berkurban) tidak perlu menghindari istri, tidak perlu meninggalkan wewangian, pakaian dan yang lainnya berupa larangan-larangan ihram. (Kitab Syarah Shahih Muslim,Juz VI, halaman 472)

No comments:

Post a Comment