Friday, June 23, 2017

Makna Takbir



Takbir itu adalah membesarkan Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Maha Besar dari apa? dari alam semesta ini, dari segalanya, termasuk dari berbagai problem yang kita hadapi, dari segala ucapan yang menghina, dari segala pembangkangan makhluk.

Tiba-tiba ucapan Takbir menjadi menakutkan. Dipakai untuk melibas yang berbeda, digunakan untuk membenarkan tindakan apapun termasuk membully atau memfitnah pihak lain. Takbir seolah mewakili kemurkaan Allah, padahal Allah gak ada urusannya dengan kemarahan dan ketersinggungan kita.

Allah Maha Besar itu tidak menakutkan. Allah Maha Besar itu mengayomi semuanya di dalam kemahabesaran-Nya. Allah Maha Besar itu memberi hak hidup dan rejeki bahkan kepada mereka yang menentang-Nya. Allah Maha Besar itu tidak terhina sedikitpun jikalau semua penduduk dunia melecehkan-Nya. Tidak berkurang kadar keagungan-Nya sedikitpun kalau tak satupun mau menyembah-Nya.

Maka siapapun yang mengucap takbir, sejatinya dia akan merunduk dan merendahkan dirinya di depan kemahabesaran Allah, akan merangkul semua makhluk ciptaan Allah, akan mengakui bukan kita yang menentukan nasib sesama tapi hanya Allahlah yang menentukan.

Mengenai takbir di hari raya Syaikh Mukammad bin Qasim Al-Ghazzi menulis dalam kitabnya :

وَالتَّكْبِيْرُ عَلَى قِسْمَيْنِ: مُرْسَلٌ وَهُوَ مَا لَا يَكُوْنُ عَقِبَ صَلَاةٍ. وَمُقَيَّدٌ وَهُوَ مَا يَكُوْنُ عَقِبَهَا ... (وَيُكَبِّرُ) ... (مِنْ غُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْعِيْدِ) أَيْ عِيْدِ الْفِطْرِ. وَيَسْتَمْرُّ هَذَا التَّكْبِيْرِ (إِلَى أَنْ يَدْخُلَ الْإِمَامَ فِي الصَّلَاةِ) ... ثُمَّ شَرَعَ فِي التَّكْبِيْرِ الْمُقَيَّدِ فَقَالَ (وَ) يُكَبِّرُ (فِي) عِيْدِ (الْأَضْحَى خَلْفَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوْضَاتِ) مِنْ مُؤَدَّاةٍ وَفَائِتَةٍ وَكَذَا خَلْفَ رَاتِبَةٍ، وَنَفْلِ مُطْلَقٍ وَصَلَاةِ جَنَازَةٍ (مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ)
Takbir (hari raya) ada dua macam, yaitu takbir Mursal yaitu takbir yang tidak mengiringi shalat (fardhu), dan kedua takbir muqayyad yaitu takbir yang mengiringi shalat ... Takbir Mursal ... dimulai sejak terbenamnya matahari pada malam hari raya Idul Fithri, dan mengulang-ngulang takbir ini sampai masuknya (mulainya) imam melakukan shalat Idul Fithri... Kemudian juga disyariatkan takbir muqayyad, melakukan takbir pada Idul Adlhaa mengiringi shalat-shalat fardlu (shalat yang dikerjakan tepat waktu atau yang telah habis waktunya), demikian juga shalat sunnah rawatib, shalat muthlaq dan shalat jenazah, dimulai sejak waktu shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai waktu Ashar pada akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). (KItab Fathul Qarib,Juz I,halaman 47)

Disunnahkan membaca takbir dari rumah sampai tempat shalat idul fitri atau idul adha,dalam hadits disebutkan :

عَنْ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ فِى الْعِيْدَيْنِ مَعَ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ، وَعَبْدِ اللهِ، وَالْعَبَّاسِ، وَعَلِىٍّ، وَجَعْفَرٍ، وَالْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ، وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، وَزَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ، وَأَيْمَنَ ابْنِ أُمِّ أَيْمَنَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ فَيَأْخُذُ طَرِيْقَ الْجَدَّادِيْنَ حَتَّى يَأْتِىَ الْمُصَلَّى. وَإِذَا فَرَغَ رَجَعَ عَلَى الْحَذَّائِيْنَ حَتَّى يَأْتِىَ مَنْزِلَهُ

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah saw berangkat pada hari raya beserta Al-Fadll bin Abbas, Abdullah, Abbas, Ali, Ja’far, Al-Hasan, Al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, Ayman Ibn Ummu Aiman rahm, mereka meninggikan suaranya (mengeraskan suara) dengan membaca tahlil dan takbir, mengambil rute satu jalan hingga tiba di mushalla (tempat shalat), dan ketika mereka selesai shalat, mereka pulang melewati rute yang lainnya hingga tiba di kediamannya. (H. R. Baihaqi no. 6349)

No comments:

Post a Comment