Selasa, 13 Juni 2017

Amalan dan Doa di Malam Lailatul Qadar




Rasulullah saw menganjurkan untuk menghidupkan malam lailatul Qadar dengan banyak ibadah karena Allah, dalam hadits diterangkan

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda : Barang siapa yang melakukan ibadah di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang melakukan ibadah di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H. R.Bukhari no. 1901, Baihaqi no. 8786)

Salah satu amalan yang dilakukan Rasulullah saw adalah i'tikaf di dalam masjid

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Dari Aisyah rah istri Nabi saw, bahwasanya Nabi saw beri'tikaf pada sepuluh hari yang terahir dari bula Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sepeninggalnya. (H. R. Bukhari no. 2026, Muslim no. 2841)

Untuk memdapatkan Lailatul Qadar hendaknya beri'tikaf di masjid jami'


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتِ السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لاَ يَعُوْدَ مَرِيْضًا وَلاَ يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلاَ يَمَسَّ امْرَأَةً وَلاَ يُبَاشِرَهَا وَلاَ يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلاَّ لِمَا لاَ بُدَّ مِنْهُ وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ بِصَوْمٍ وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فِى مَسْجِدٍ جَامِعٍ.
Dari Aisyah bahwasanya ia berkata : Disunnahkan bagi orang yang beri'tikaf untuk tidak menjenguk orang sakit, tidak melawat jenazah, tidak menyentuh perempuan dan tidak keluar masjid kecuali untuk hajat yang tidak dapat ditinggalkan. Tidak boileh i'tikaf kecuali dengan berpuasa dan tidak boleh i'tikaf kecuali di dalam masjid jami' (H. R. Abu Daud no. 2475, Baihaqi no. 8856)

Dalam terminologi fiqh, masjid adalah tempat waqaf yang digunakan oleh umat Islam (masyarakat) untuk shalat lima waktu berjamaah. Adapun masjid yang juga digunakan untuk shalat Jum‘at selain shalat lima waktu berjamaah disebut masjid Jami‘.

Selain memperbanyak shalat malam dan membaca Al-Qur'an, maka juga dianjurkan memperbanyak membaca doa seperti yang pernah diajarkan Rasulullah saw kepada Aisyah  

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari Aisyah ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw : Bagaimana seandainya aku tahu terjadinya malam Lailatul Qadar, apa yang aku baca pada malam itu? Beliau bersabda : Bacalah : ALLOHUMMA INNAKA 'AFUWWUN KARIIM TUHIBBUL 'AFWA FA'FU 'ANNII (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengampun lagi Mulya, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku). (H. R. Tirmidzi no. 3855, Ibnu Majah no. 3982 dan lainnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar