Selasa, 09 Mei 2017

Shalat pada malam nishfu Sya'ban



Jumhur ulama berpendapat bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban hukumnya adalah sunnah baik dengan cara beribadah secara bersama-sama atau sendiri-sendiri dan kita boleh mengisinya dengan bermacam-macam ibadah seperti puasa, shalat dan lain sebagainya. Dan itulah yang dilakukan para Ulama dalam menghidupkan malam nishfu Sya’ban

Hukum melakukan shalat sunnah mutlak pada malam nishfu Sya’ban adalah mustahab (disunnahkan) karena Rasulullah saw pernah melaksanakan shalat tersebut. Sementara jika shalat tersebut diniati nishfu Sya’ban maka hukumnya haram, karena tidak ada tuntunan ibadah shalat nishfu Sya’ban. Bentuk shalat sunnah yang boleh dikerjakan pada malam nishfu Sya’ban adalah shalat sunnah mutlak, shalat hajat, shalat tasbih, dan shalat apapun yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Dalam hadits nabi diterangkan :

عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا يَوْمَهَا. فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Dari Ali bin Abi Thalib ia berkata,  Rasulullah saw bersabda : Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya. Karena sesungghnya (rahmat) Allah turun di saat tenggelamnya matahari ke langit yang paling bawah, lalu berfirman : Adakah yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, Adakah yang meminta rezeki kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya rezeki, Adakah yang sakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, Adakah yang demikian (maksudnya Allah akan mengkabulkan hajat hambanya yang memohon pada waktu itu) adakah yang demikian sampai terbit fajar. (H. R.Ibnu Majah no 1451)

Syaikh Abu Al-‘Ula Muhammad Abdurrahman dalam kitabnya mengatakan :

عَائِشَةَ قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُوْدَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُوْدِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِكِ؟ قُلْتُ: لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنْ قُبِضْتَ طُوْلَ سُجُوْدِكَ، قَالَ: أَتَدْرِيْ أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْتُ: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِيْنَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ
Aisyah berkata : Rasulullah saw  bangun di tengan malam kemudian beliau shalat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki beliau dan ternyata masih bergerak. Kemudian beliau bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Beliau berkata : Wahai Aisyah atau wahai yang kemerah-merahan, apakah kamu mengira aku berkhianat padamu?, saya berkata : Demi Allah, tidak, wahai Rasul Allah, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama. Beliau bersabda : Tahukauh kamu malam apa sekang ini? Saya menjawab : Allah dan Rasulnya yang tahu. Beliau bersabda : ini adalah malam nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam, diriwayatkan Baihaqi (Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan Al-Tirmidzi, Juz II, halaman 277)

Syaikh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya berkata :

وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ؟ (اَلْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنَ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ. كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ.
Ibnu Taimiyah ditanyai soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunnah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti shalat seratus raka’at dengan membaca surat Al-Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama. Dan Allah lebih mengetahui. (Majmu' Fatawa Juz XXIII, halaman 131)

Syaikh Muhammad Abdurrauf Al-Munawi dalam kitabnya mengatakan :

(تَنْبِيْهٌ) قَالَ اْلمَجْدُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ لَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ رُوِىَ فِى فَضْلِهَا مِنَ اْلأَخْبَارِ وَاْلأثَارِ مَا يَقْتَضِى أنَّهَا مُفَضَّلَةٌ وَمِنَ السَّلَفِ مَنْ خَصَّهَا بِالصَّلاَةِ فِيْهَا
Ibnu Taimiyah berkata tentang malam nishfu Sya'ban : Dari beberapa hadis dan pandapat para sahabat menunjukkan bahwa malam nishfu Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri. Sebagian ulama salaf melaksanakan shalat sunah secara khusus di malam tersebut. (Kitab Faidh Al-Qadir 'ala Al-Jami' Al-Shaghir, Juz II halaman 402)


Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam kitabnya mengatakan :
وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ التَّابِعُوْنَ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ  ....  يُعَظِّمُوْنَهَا وَيَجْتَهِدُوْنَ فِيْهَا فِي الْعِبَادَةِ ....  وَكَانَ خَالِدُ بْنِ مَعْدَانَ وَلُقْمَانُ بْنِ عَامِرٍ وَغَيْرُهُمَا  ....  وَ يَقُوْمُوْنَ فِي الْمَسْجِدِ لَيْلَتِهِمْ تِلْكَ، وَوَافَقَهُمُ اْلإِمَامُ إِسْحَاقُ ابْنُ رَاهَوَيْهُ عَلىَ ذَلِكَ، وَقَالَ فِيْ قِيَامِهَا فِي الْمَسَاجِدِ جَمَاعَةً : لَيْسَ ذَلِكَ بِبِدْعَةٍ.

Dan malam nishfu Sya’ban, kaum Tabi’in dari penduduk Syam ....  mengagungkannya dan bersungguh-sungguh menunaikan ibadah pada malam tersebut. ....  Khalid bin Ma’dan, Luqman bin Amir dan lain-lainnya ....  mendirikan shalat di dalam Masjid pada malam nishfu Sya’ban itu. Perbuatan mereka disetujui oleh Al-Imam Ishaq Ibnu Rahawaih. Ibnu Rahawaih berkata mengenai shalat sunnah pada malam nishfu Sya’ban di Masjid-masjid secara berjamaah : Hal tersebut tidak termasuk bid’ah. (Kitab Fatawa Ibnu Baz, Juz I, halaman 188)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar