Wednesday, March 8, 2017

Hukum hormat pada bendera



Penghormatan terhadap bendera itu bukan karena zat bendera itu sendiri, tetapi lebih pada mengenang mereka yang berkorban untuk kedaulatan suatu tanah air. Jadi bentuk penghormatan kepada bendera sama sekali berbeda dengan penghormatan dalam arti penyembahan. Penghormatan bendera ini sama persis dengan kita menghormati orang alim, orang saleh dan orang tua atau benda yang dianggap mulya.

Sebagaimana dalam hadits nabi saw :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيْبَ، ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيْبَ، ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيْبَ  وَإِنَّ عَيْنَىْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَذْرِفَانِ  ثُمَّ أَخَذَهَا خَالِدُ بْنُ الْوَلِيْدِ مِنْ غَيْرِ إِمْرَةٍ فَفُتِحَ لَهُ
Dari Anas bin Malik ra ia berkata, Nabi saw menerangkan (dari bagian perang Mu'tah) : Bendera perang dipegang oleh Zaid lalu dia terbunuh, kemudian dipegang oleh Ja'far lalu dia terbunuh, kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah namun diapun terbunuh, dan nampak kedua mata Rasulullah saw berlinang. Akhirnya bendera dipegang oleh Khalid bin  Walid tanpa menunggu perintah, namun akhirnya kemenangan diraihnya. (H. R. Bukhari no. 1246).

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَبَّلَ الْحَجَرَ وَقَالَ لَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ
Dari Zaid bin Aslam dari bapaknya berkata : Aku melihat Umar bin Khathtab ra mencium Hajar Aswad lalu (Umar) berkata : Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah saw menciummu tentu aku tidak akan menciummu. (H. R. Bukhari no. 1610)

Penghormatan tidak selalu berdimensi syirik, karena syirik itu adalah penghormatan atau pengultusan yang berdimensi pemujaan atau menyembahan kepada selain Allah. Bagaimana disebut syirik kalau hanya sekedar kalimat dan posisi hormat saja, sedang Allah yang amat tidak ridha disekutukan saja menyuruh Malaikat dan Iblis bersujud kepada Adam. Banyak ayat tentang ini, antara lain :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰئِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوْا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat : Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Q.S. 2 Al Baqarah 34)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلٰى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهُ سُجَّدًا
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. (Q.S. 12 Yusuf 100)


Kalau Allah saja menggunakan kata sujud untuk sesama hamba, dan kalau Rasulullah saw saja mencium Hajar Aswad dan diikuti oleh para sahabat dan umat Islam seluruh dunia, walaupun ada komentar Sayidina Umar tersebut, maka mengapa kita mempersoalkan hormat pada bendera, yang pasti tidak ada pengultusan, apalagi pemujaan atau penyembahan terhadapnya.

No comments:

Post a Comment