Sabtu, 18 Februari 2017

Imam berdoa tidak menghadap kiblat



Sebaiknya bahkan dipandang sunnah dan lebih utama (afdhal) seorang imam ketika memimpin doa tetap menghadap ke arah makmum, atau menjadikan kiblat di arah kirinya dan makmum di arah kanannya. Hal ini berdasarkan beberapa fatwa para ulama, di antaranya adalah :

1. Imam Nawawi dalam kitabnya :

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْبِلَ عَلَي النَّاسِ فَيَدْعُوَ
Dan disunnahkan (bagi imam) agar menghadap ke arah makmum, lalu berdoa (Kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz III, halaman 488) 

2. Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya :

وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ إِنْ كَانَ مُنْفَرِدًا أَوْ مَأْمُوْمًا أَمَّا اْلإِماَمُ فَيَسْتَقْبِلُ اْلمَأْمُوْمِيْنَ بِوَجْهِهِ فِى الدُّعَاءِ
Dan menghadap ke arah kiblat jika ia shalat sendirian atau makmum. Sedangkan imam tetap menghadap ke arah makmum dengan wajahnya saat berdoa. (Kitab Irsyadul 'Ibad, halaman 21)

فَالْأَفْضَلُ جَعْلُ يَمِيْنِهِ إِلَى الْمَأْمُوْمِيْنَ وَيَسَارِهِ إِلَى اْلقِبْلَةِ. قَالَ شَيْخَنَا: وَلَوْ فِي الدُّعَاءِ.
Utamanya (imam itu) menjadikan sebelah kanannya ke arah makmum dan sebelah kirinya ke arah kiblat. Guru kami (Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami), telah mengatakan bahwa sekalipun yang demikian itu saat berdoa. (Kitab Fathul Mu'in, halaman 24)

3. DR. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya :

وَيَسْتَقْبِلُ الدَاعِيْ غَيْرَ اْلإِمَامِ اْلقِبْلَةَ لِأَنَّ خَيْرَ الْمَجَالِسِ مَا اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَيُكْرَهُ لِلْإِمَامِ اسْتِقْبَالُ اْلقِبْلَةِ، بَلْ يَسْتَقْبِلُ الْإِمَامُ الْمَأْمُوْمِيْنَ لِلْحَدِيْثِ السَّابِقِ : أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْحَرِفُ إِلَيْهِمْ إِذَا سَلَّمَ
Dan selain imam hendaknya berdoa menghadap ke arah kiblat, karena tempat yang terbaik adalah tempat yang menghadap ke arah kiblat. Namun imam dimakruhkan menghadap kiblat, oleh karena itu imam harus tetap menghadap kepada para makmum, berdasarkan hadits yang telah lalu yakni beliau (Nabi) saw berpaling kepada mereka (para makmum) setelah beliau memberi salam. (Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Juz I, halaman 805)

Fatwa para ulama tersebut berdasarkan hadits nabi, di antaranya adalah :

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ
Dari Samurah bin Jundub, ia berkata : Adalah Nabi saw jika telah selesai dari shalatnya beliau menghadap kepada kami (para makmum) dengan wajahnya. (H. R. Bukhari no. 845)

عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُوْنَ عَنْ يَمِيْنِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

Dari Al-Barra` katanya; Jika kami shalat di belakang Rasulullah saw, maka kami menyukai jika berada di sebelah kanan beliau, sehingga beliau menghadap kami dengan wajahnya.  (H. R. Muslim no. 1676)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar