Monday, February 22, 2016

Sikap seorang makmum ketika mengetahui shalat imam batal



Apabila makmum mengetahui bahwa imam batal shalatnya, maka makmum tidak boleh mengikuti imam dan tidak boleh pula menghentikan shalatnya, teruskan saja shalat dengan niat memisahkan diri dari imam (niat mufaraqah)

Sayid Abdurrahman Ba'alawi dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin, halaman 74, telah mengutup fatwa pengarang kitab Kasyfun Niqab sebagai berikut :

وَالْحَاصِلُ أَنَّ قَطْعَ اْلقُدْوَةِ تَعْتَرِيْهِ اْلأَحْكَامُ الْخَمْسَةُ، وَاجِبًا كَانَ رَأَى إِمَامَهُ مُتَلَبِّسًا بِمُبْطِلٍ
Kesimpulannya, bahwa dalam niat berpisah dari imam itu terdapat lima hukum. Ada kalanya wajib, seperti bila makmum melihat imam melakukan hal-hal yang membatalkan shalatnya.

Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fathul Mu'in, halaman 35 beliau  mengatakan :

وَقَدْ تَجِبُ الْمُفَارَقَةُ كَأَنْ عَرَضَ مُبْطِلٌ لِصَلَاةِ إمَامِهِ وَقَدْ عَلِمَهُ فَيَلْزَمُهُ نِيَّتُهَا فَوْرًا وَإِلَّا بَطَلَتْ ، وَإِنْ لَمْ يُتَابِعْهُ اتِّفَاقًا كَمَا فِي الْمَجْمُوْعِ
Niat mufaraqah itu terkadang wajib, seperti makmum mengetahui ada ha-hal yang membatalkan shalat imam, maka seketika itu pula ia wajib niat mufaraqah. Jika tidak niat mufaraqah, maka shalatnya batal sekalipun tidak mengikuti imam. Keputusan hukum ini telah desepakati oleh para ulama, sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Al-Majmu'

Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Jus IV, halaman 256, beliau mengatakan :

فَإِنْ صَلَّى خَلْفَ الْمُحْدِثِ بِجَنَابَةٍ أَوْ بَوْلٍ وَغَيْرِهِ وَالْمَأْمُوْمُ عَالِمٌ بِحَدَثِ اْلإِمَامِ أَثِمَ بِذَلِكَ وَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ بِالْإِجْمَاع،  وَإِنْ كَانَ جَاهِلًا بِحَدَثِ الْإِمَامِ فَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِ الْجُمْعَةِ إِنْعَقَدَتْ صَلَاتُهُ فَإِنْ عَلِمَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ حَدَثَ اْلإِمَامِ لَزِمَهُ مُفَارَقَتُهُ وَأَتَمَّ صَلَاتَهُ مُنْفَرِدًا بَانِيًا عَلَى مَا صَلَّى مَعَهُ فَإِنِ اسْتَمَرَّ عَلَى الْمُتَابَعَةِ لَحْظَةً أَوْ لَمْ يَنْوِ اْلمُفَارَقَةَ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ بِالْإِتِّفَاقِ
Jika makmum shalat di belakang imam yang berhadas dengan sebab junub atau buang air seni dan lainnya, sedangkan makmum mengetahui bahwa imamnya berhadas, maka ia berdosa karena perbuatannya itu, dan batal shalatnya menurut ijma'. Jika ia tidak mengetahui imamnya barhadas selain dari shalat Jum'at, maka sah shalatnya, Akan tetapi bila ia mengetahui bahwa imamnya itu berhadas di tengah-tengah shalat, maka wajib baginya niat mufaraqah dengan imam dan menyempurnakan shalatnya secara munfarid (sendirian) melanjutkan rakaat shalatnya. Seandainya ia terus saja mengikuti imam sekalipun hanya sebentar atau tidak berniat mufaraqah, maka shalatnya dinyatakan batal menurut kesepakatan ulama.

No comments:

Post a Comment