Wednesday, August 12, 2015

Subhat-subhat pengikut nabi baru



SUBHAT-SUBHAT PENGIKUT NABI BARU

            Ada segelintir pengikut nabi baru yang berfaham bahwa masih ada nabi sesudah Nabi Muhammad saw. mencoba mengajukan dalil dengan Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Mirza Gulam Ahmad itu benar-benar nabi yang sah, yang diakui oleh Al-Qur’an, mereka mengajukan dalil :

Subhat pertama.

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ ياَبَنِى اِسْرَائِيْلَ اِنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَابَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُوْلٍ يَأْتِى مِنْ بَعْدِى اسْمُهُ اَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَ هُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوْا هَذَا سِحْرٌ مُبِيْنَ.
“Dan (ingatlah) ketika Isa Purta Maryam berkata : Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yaitu namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : Ini adalah sihir yang nyata.” (Q.S. Ash-Shaaf : 6)

            Lihatlah ayat ini, kata kaum nabi baru. Tuhan menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an, dengan perantaraan lidah Isa ‘alaihissalam, bahwa akan ada seorang rasul yang bernama Ahmad. Ayat ini nyata dan benar mengakui kerasulan Mirza Gulam Ahmad, kata mereka.

Jawabnya :

1.  Di dalam ayat itu hanya dikatakan bahwa akan lahir seorang rasul yang bernama Ahmad, bukan Mirza Gulam Ahmad.
2.  Kalau begitu cara mengambil dalil maka setiap orang yang bernama Ahmad tentu berhak menjadi nabi. Alangkah akan banyaknya nabi di dunia, karena yang bernama Ahmad bukan sedikit.
3. Kalau kita lihat dan telaah seluruh kitab tafsir yang mu’tamad maka seluruhnya menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan kalimat Ahmad dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad saw. Karena Nabi Muhammad saw. Itu bernama Ahmad  juga. Jadi Nabi Isa ‘alaihissalam mengakui akan lahir seorang rasul, yaitu Nabi Muhammad saw. Yang bernama Ahmad juga.

            Dapat kita perhatikan kitab-kitab tafsir di bawah ini :

a.  Dalam tafsir Ibnu Katsir, pada jilid IV :  Nabi Isa menyatakan kepada kaumnya, bahwa beliau memberi kabar gembira dengan seorang rasul nabi yang ummi, berbangsa Arab di Mekkah, namanya Ahmad, terang bahwa Ibnu Katsir menafsirkan kalimat Ahmad dengan Muhammad.
b. Dalam tafsir Thabari, pada jilid XXVIII : Dinyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. mengatakan : Inilah kabar gembira dari Isa atas kedatangan saya.
c.  Dalam tafisr Al-Qasimi, pada jilid XVI : Bahwa Nabi Muhammad saw. Dinamai juga dengan Ahmad, jadi arti Ahmad dalam ayat ini adalah Muhammad.
d. Dalam tafsir Khazin, pada jilid VII :  diterangkan, bahwa dalam suatu hadits yang dirawikan Abu Daud, bahwasanya Raja Najasyi di Habasyah yang pada mulanya beragama Nashrani, sesudah mendengan hal ihwal Nabi Muhammad saw. Lantas mengatakan, bahwa ia mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu rasul-Nya, karena beliau inilah yang sudah dikabarkan oleh Isa bahwa ia akan datang kemudian.
e.  Dan banyak lagi kitab-kitab tafsir yang menyatakan begitu.

         Teranglah bahwa kaum nabi baru adalah tafsir isapan jempol yang dibuatnya sendiri untuk mengukuhkan da’wahnya.

Subhat kedua.

            Kaum nabi baru, mengatakan bahwa arti “Khataman Nabiyyin” dalam surat Al-Ahzab ayat 40 bukanlah kesudah-sudahan nabi, tetapi “cincin nabi”, Nabi Muhammad saw. adalah cincin nabi yakni perhiasan nabi, karena itu “khatam” bukan saja kesudahan tetapi juga “cincin”. Jadi ayat ini tidak menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. itu kesudahan nabi.

Jawabnya.

            Kalau diperhatikan kitab-kitab kamus tentang arti “Khatam” dalam bahasa Arab memang banyak, di antaranya :

a.      Khatama dengan arti paling akhir.
b.      Khatama dengan arti cincin.
c.      Khatama dengan arti stempel.
d.      Khatama dengan arti menyudahi bacaan.
e.      Khatama dengan arti menutup mata hati.
f.        Khatama dengan arti kesudahan umur.
g.      Khatama dengan arti pasal penutup.
h.     Khatama dengan arti akhirnya.
i.        Dan lain-lain.

           Maka untuk mengartikan perkataan “khatama” dengan tepat kita harus melihat sambungan-sambungan perkataan itu.
Umpamanya :

a. “Labisal Khatam” mka artinya ia “memakai cincin”.
b.  Kalau dikatakan “Khatamullahu” maka artinya “menutup Allah”.
c.  Kalau dikatakan “Khatamal Kitab” artinya “menamatkan membaca kitab”.
d.  Kalau  dikatakan “Khusnul  Khatimah” maka artinya “mendapat untung yang baik pada kesudahan umurnya”.
e. Kalau  dikatakan  “Khataman Nabiyyiin”  maka artinya tidak lain adalah “Kesudah-sudahan nabi”.

            Adalah janggal sekali kalau dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw. itu adalah “cincin nabi-nabi”.

            Dapatlah diambil kesimpulan dari uraian yang di atas semuanya, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi paling akhir, tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Barang siapa yang mengiktikadkan ada nabi sesudah Nabi Muhammad saw. maka ia sudah di luar lingkungan Islam dan umat Nabi Muhammad saw.

No comments:

Post a Comment