Wednesday, August 12, 2015

Daftar nama nabi palsu



ORANG-ORANG YANG MENGAKU NABI SESUDAH NABI MUHAMMAD SAW.

            Dalam hadits tersebut di atas ( dalil keenam) diterangkan bahwa ada 30 orang pendusta yang akan mengaku sebagai nabi baru, sesudah Nabi Muhammad saw. Di antara orang-orangnya itu, daftar nama nabi palsu sejauh yang kami ketahui, adalah :

1.  Musailimah Al-Kadzdzab

            Dia keturunan Bani Hanifah di Yamamah, mengaku menjadi nabi dan menganggap dirinya sebagai sekutu Rasulullah saw. dalam kenabian.
            Pada tahun 10 H dia menulis sepucuk surat kepada Rasulullah saw. minta agar bumi ini dibagi dua, sebagian untuk Nabi Muhammad saw. dan sebagian lagi untuknya karena sama-sama nabi, katanya.
            Adapun sebabnya dia dijuluki Al-Kadzdzab (pembohong) ialah ketika dia merasa pengaruhnya terancam pudar karena banyak di antara penduduk kampungnya yang tertarik kepada akhlak Nabi saw. dan kepada keindahan uslub (gaya bahasa) Al-Qur’an, terbetiklah dalam benaknya hasrat untuk mengadakan persaingan terhadap Al-Qur’an. Lalu dia mencoba menggubah beberapa kalimat, meniru ayat-ayat Al-Qur’an, antara lain ketika dia bermaksud menandingi surat Al-Kautsar, ia mengungkapkan gubahannya sebagai berikut :

اِنَّا اَعْطَيْنَاكَ الْجَوَا هِرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَجَاهِرْ، اِنَّ شَا نِئَكَ هُوَالْكَافِرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu beberapa mutiara. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berserulah dengan suara yang keras. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang kafir.”

            Ketika dia bermaksud menandingi surat Al-Fiil, ia mengungkapkan gubahan berikut ini :

اَلْفِيْلُ، مَااْلفِيْلُ، وَمَااَدْرَاكَ مَااْلفِيْلُ، اَلْفِيْلُ حَيَوَانٌ لَهُ ذَنْبٌ وَثِيْلٌ، وَخُرْطُوْمٌ طَوِيْلٌ، اِنَّ ذَلِكَ مِنْ خَلْقِ رَبِّنَا لَقَلِيْلٌ
“Gajah. Apakah gajah itu? Tahukah kamu apakah gajah itu? Gajah itu adalah binatang yang memiliki ekor yang tebal dan belalai yang panjang. Yang demikian itu sungguh termasuk ciptaan Tuhan yang langka.”

            Dia mengatakan, inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang diterimanya dari Allah swt. Sebagai wahyu yabg diturunkan kepadanya.
            Seluruh penduduk kampung Yamamah gempar tatkala mendengar seorang mubalig kenamaan bernama Nahar Rajjal menerangkan isi Al-Qur’an yang sebenarnya kepada penduduk Yamamah dan mendustakan apa yang diucapkan oleh Musailimah. Sejak saat itulah dia diberi gelar dan dijuluki Musailimah Al-Kadzdzab, Musailimah pembohong.
            Musailimah Al-Kadzdzab mati terbunuh oleh lasykar Khalid bin Walid yang diutus oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. pada tahun 11 H.

2.  Aswad Al-‘Insi

            Dia mengaku menjadi nabi di Yaman. Nama aslinya adalah Abhalah bin Ka’ab, namun dia juga popular dengan julukan Dzul Khimar (pemakai kerudung) karena dia pernah barkata bahwa pada suatu hari dia kedatangan seseorang yang mengantarkan wahyu kepadanya sambil memakai kerudung.
            Aswad Al-‘Insi adalah seorang ahli syair terkenal, ahli pidato, dan pembuat sajak yang ulung, terkenal di Yaman sebagai dukun yang masyhur. Kemasyhurannya jatuh tatkala dia mengaku telah menerima wahyu, dan mengemukakan beberapa gubahan sebagai wahyu yang diturunkan kepadanya.
            Konon setiap hendak menerima wahyu, dia menelungkup, dan sewaktu mengangkat kepalanya dia berkata : “Aku telah kedatangan wahyu ….”
        Nabi palsu ini terbunuh di Yaman kira-kira pada waktu sehari sebelum Nabi Muhammad saw. wafat.

3.  Thalhah Bin Khuwailid Al-Asadi

            Dalam sejarah hidupnya, sebelum dia mengaku menjadi nabi, dia terkenal sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa, pernah mempersiapkan barisan berkuda beberapa ribu banyaknya.
            Kemudian dia mengaku menjadi nabi dan menerangkan bahwa dia kedatangan Zannun. Menurutnya Zannun itu adalah Malaikat Jibril as. yang membawa wahyu kepadanya.
            Pengarang kamus Al-Buldan menyebutkan bahwa Thalhah mempunyai beberapa kalimat yang diduganya sebagai wahyu yang turun dari langit, yaitu :
اِنَّ اللهَ لاَ يُضِيْعُ بِتَعْفِيْرِ وُجُوْهِكُمْ وَقُبْحِ اَدْباَرِكُمْ شَيْئًا فَاذْكُرُوااللهَ قِيَامًا، فَاِنَّ الرَّغْوَةَ فَوْقَ الصَّرِيْحِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan dengan menutupi wajahmu dan sedikit pun tidak memburukkan belakangmu, maka sebutlah Allah sambil berdiri, sesungguhnya buih itu tempatnya di atas, kelihatan secara jelas.”

            Untuk memerangi Thalhah, si nabi palsu ini, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Ketika dua pasukan ini bertemu, banyak pengikut Thalhah yang tewas, sementara dia sendiri tidak ikut terbunuh, dan dia senantiasa menunggu turunnya wahyu dengan berselimut menggunakan pakaian yang tebal. Di antara pengikutnya ada seorang yang bernama Uyainah, Uyainah bertanya kepadanya ; “Sudahkan wahyu turun kepadamu?” Dia menjawab dari dalam selimut “Belum, demi Allah belum turun.” Uyainah berkata kepadanya, “Allah telah membiarkanmu pada saat orang-orang sedang sangat membutuhkan bantuanmu.” Kemudian Uyainah berseru dengan suara lantang, “Hai, Bani Fazarah (para pengikut Thalhah), orang yang bernama Thalhah itu pembohong, aku dan dia tidak diberkahi dalam hal yang diminta.” Lalu Thalhah melarikan diri hingga sampai di negeri Syam.
            Diceritakan bahwa setelah kejadian itu Thalhah bertobat dan masuk agama Islam.

4.  Mukhtar Bin Abi Ubeid

            Dia dari keturunan Bani Tsaqif, mendakwakan dirinya menjadi nabi, bahkan menjadi rasul. Ia beranggapan bahwa wahyu dari Allah swt. telah turun kepadanya. Hal tersebut sebenarnya bukan wahyu dari Allah swt. melainkan kata-kata setan yang telah dibisikkan ke telinganya.

            Allah swt. telah berfirman dalam Al-Qur’an :

وَاِنَّ الشَّيَطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ اِلىَ اَوْلِيَائِهِمْ. 

“Sesungguhnya   setan  itu  membisikkan  kepada  kawan-kawanya.” (Q.S. Al-An’aam : 121)

5.  Sajah Binti Haris Suwaid

            Dia seorang pakar dalam bahasa Arab, dan pada mulanya adalah seorang yang beragama Nasrani. Dia adalah seorang wanita yang berambisi dan berani mengaku sebagai nabi pada zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. dan menjadi saingan berat bagi Musailimah Al-Kadzdzab, nabi palsu nari Yamamah.
            Namun sejarah kenabiannya pudar setelah dia mengaku menerima wahyu yang menyuruh agar dia bersuami dengan Musailimah Al-Kadzdzab itu.
            Pada akhirnya, setelah kenabian dan kebenaran wahyunya itu gagal, dia masuk Islam dan menjadi seorang muslimah yang baik.

6.  Abdul Hasan Ahmad Bin Yahya

            Dia seorang dari golongan Mu’tazilah. Sebelum masuk agama Islam, ayahnya adalah seorang yang beragama Yahudi. Dia telah mengarang tidak kurang dari 114 buah kitab, antara lain At-Taj, Al-Marjan, Az-Zumurrudah, dan Na’tul Hikmah. Dia meninggal pada tahun 915 M / 3030 H.

7.  Al-Mutanabbi

            Nama aslinya adalah Abu Thayyib Ahmad bin Al-Husain, lahir di Kufah pada tahun 915 M / 3030 H, dan dia mati terbunuh dalam bulan Agustus tahun 955 M / 354 H.
            Kokon kabarnya dia pernah mengaku menjadi nabi di Badiyah Samawah (antara Kufah dan Syam), dan pengikutnya banyak terdiri atas Bani Kalb.

8. Abul ‘Ala Al-Ma’arri

            Dia dituduh telah mengaku menjadi nabi dan menentang mukjizat keindahan Al-Qur’an dalam kitab karangannya yang terkenal, yaitu Al-Fusul wal Khayat fii Majarrati Suwari wal-Ayat.
Akan tetapi pada akhirnya, dalam gubahannya yang ditujukan kepada Ibnu Rawandi, diapun mengakui kelemahannya untuk dapat menyamai keindahan uslub (gaya bahasa) Al-Qur’an. Dia meninggal di desa Ma’arrah, Syam pada tahun 1061 M / 449 H.

9.  Mirza Ghulam Ahmad

            Dilahirkan di desa Qodiyan, sebuah desa di Punjab, India (sekarang Pakistan) pada tahun 1836. Dia memulai masa mudanya dengan membaca beberapa buku berbahasa Persia dan sedikit tentang Nahwu dan Sharaf. Ia juga membaca sedikit tentang kedokteran, hanya saja penyakit yang dideritanya sejak kecil, antara lain penyakit melancholy (semacam gila), sebagaimana dikatakan dalam ensiklopedia  Qodiyani, tidak memungkinkannya untuk meneruskan pelajarannya.
            Mirza Ghulam Ahmad pada mulanya adalah golongan Syi’ah Isma’iliyah yang berfaham bahwa Imam Isma’il yang gaib, yaitu keturunan yang ke 7 dari Saidina ‘Ali akan lahir pada akhir zaman sebagai Imam Mahdi.
            Tetapi setelah usia ia berusia 54 tahun, maka pada tahun 1890 ia mendakwakan diri Mujadid (pembaharu agama), Imam Mahdi, Isa Al-Muntazhar (Isa yang ditunggu), Masih Al-Mau’ud, juru selamat, dan sekaligus mendakwakan dirinya nabi dan rasul akhir zaman.
            Dalam bukunya yang berjudul Tuhfat Nadwah, dia berkata dengan cukup jelas sebagai berikut : “Sebagaimana yang sering ku terangkan, bahwa uraian-uraian yang keluar dari mulutku itu adalah firman Allah dengan penuh keyakinan, seperti Taurat dan Qur’an. Dan aku adalah nabi dan jelmaan dari para nabi Allah, dan wajib atas setiap muslim untuk mentaatiku dalam segala urusan agama. Juga wajib mengimani aku sebagai  masih  yang dijanjikan. Allah telah menurunkan atas aku dari langit lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) ayat. Langit dan bumi dan segala nabi telah menyaksikan kenabianku.”
            Dia berkata pula dalam buku Al-Khutbah Al-Ilhamiyah, sebagai berikut : “Pengakuanku ialah , aku ini rasul dan nabi.”
            Pengakuan Mirza Ghulam Ahmad ini ditentang dan didustakan oleh seorang ulama terkenal di daerahnya, bernama Maulana Tsanaullah, sehingga terjadilah polemik dan perdebatan yang seru di antara keduanya, dan dinyatakan bahwa yang berdusta di antara dua orang itu (Maulana Tsanaullah atau Mirza Ghulam Ahmad) akan mati lebih dahulu, bahkan Mirza Ghulam Ahmad mendoakan di hadapan umum agar Allah membinasakan pendusta di antara dua orang itu dengan penyakit kolera.
            Tiba-tiba dalam bulan Mei 1908 Mirza Ghulam Ahmad terserang penyakit kolera di Lahore. Para dokter waktu itu tidak berhasil menolongnya. Maka meninggallah dia pada pukul 10.30 pagi, tanggal 26 Mei 1908. Sedangkan Maulana Tsanaullah, teman berpolemik dan berdebatnya, masih hidup 40 tahun kemudian setelah Mirza Ghulam Ahmad meninggal. Jenazahnya dipindahkan ke Qodiyan untuk dimakamkan di sebuah pekuburan yang diberi nama Bhasti Maghbarah (kuburan surga).
            Ajaran Mirza Ghulam Ahmad yang mengatakan ada nabi sesudah Nabi Muhammad saw. bukan saja ditentang oleh ulama Islam kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga  ditentang oleh kaum Syi’ah, baik Syi’ah Imamiyah, Syi’ah Zadiyah ataupun Syi’ah Isma’iliyah, karena bagi kaum Syi’ah Imam Mahdi itu adalah dari keturunan Saidina Ali, sedang Mirza Ghulam Ahmag bukan dari keturunan Saidina Ali.
      Gerakan Ahmadiyah itu kemudian terbagi dua, yaitu Ahmadiyah Qodiyan dan Ahmadiyah Lahore yang dipimpin oleh Khwaja Kamaluddin
            Ahmadiyah Lahore banyak menerbitkan buku-buku dalam bahasa Inggris, juga ada sebuah tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang dikarang oleh Maulawi Muhammad Ali tahun 1920. Buku-buku ini tersiar juga dalam kalangan kaum intelektual bangsa Indonesia.
            Namun sesuai dengan kata pepatah bahasa Arab “ Likulli saqith laqith”setiap yang jatuh ada saja pemungutnya. Di Indonesia tidak sedikit orang yang mengikuti faham Ahmadiyah ini.

10.  Ahmad Moshaddeg

            Ahmad Moshaddeg yang bernama asli Abdussalam adalah pelatih bulu tangkis antara tahun 1971 sampai dengan tahun 1982, setelah tidak melatih, dia mempelajari Al-Qur’an secara otodidak. Setelah itu dia punya pemahaman  dan keyakinan sendiri, sehingga akhirnya mengaku telah menerima wahyu kerasulan melalui mimpi saat berada di Bogor sekitar 6 tahun silam. Dia mengaku menerima wahyu setelah berpuasa siang malam selama 40 hari.
            Selanjutnya dia mendirikan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, berpusat di kampung Gunung Sari desa Gunung Bunder Cibungbulan, Bogor dan mengaku sebagai rasul dengan gelar Al-Masih Al-Mau’ud.

            Diantara ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah :

1.  Mereka mempunyai keyakinan bahwa sejak tahun 1400 H kenabian Nabi Muhammad saw. telah berakhir dan sebagai gantinya Allah mengutus Ahmad Moshaddeg Al-Masih Al-Mau’ud sebagai gantinya.
2.  Adanya sahadat baru yang berbunyi : “Asyhadu alla illaha illa Allah wa asyhadu anna Masih Al-Mau’ud rasul Allah”.
3.  Mereka beranggapan , ibadah yang tidak mengikuti Ahmad Moshaddeg maka ibadahnya tidak diterima Allah.
4.   Melarang makan daging
5.  Menganggap orang lain kafir bila tidak mengikuti alirannya yaitu Al-Qiyadah Al-Islamiyah
6. Tidak mengakui shalat lima waktu sebagai kuajiban, puasa, Nabi Muhammad saw. sebagai rasul dan nabi terakhir. Mereka mengerjakan shalat hanya sekali setiap malam dengan jumlah rakaat sebelas. Puasapun tidak seperti ajaran puasa pada umumnya, meski puasa tapi masih tetap boleh makan dan minum, yang diutamakan dalam puasa ini adalah perilaku batinnya, misalnya tidak boleh berdusta, berzina, mencuri dan lainnya.

            Ajaran ini juga mengatakan bahwa saat ini adalah zaman kegelapan atau jahiliyah, karena saat ini tidak ada Khalifah (pemimpin), hukum Allah atau hukum Islam tidak berlaku, dan ke mana arah umat Islam dibawa juga tidak jelas, seperti halnya di zaman jahiliyah. Pada kondisi semacam ini, umat Islam tidak wajib shalat lima waktu. Shalat lima waktu baru wajib dilaksanakan setelah zaman kegelapan berlalu.

No comments:

Post a Comment