Jumat, 09 April 2021

Jika Lelaki telah Menggaulinya, Maka Wajib Membayar Maskawin

 


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَهُ

Dari Aisyah,bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Wanita mana saja yang menikah dengan tanpa wali, maka nikahnya batil. Jika lelaki telah menggaulinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya. Maka apabila mereka bersengketa, penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali. (H. R. Titmidzi no. 1125, Abu Daud no. 2025 dan lainnya)

Kamis, 08 April 2021

Jangan Mencaci-maki Jokowi

 


Maaf judul di atas itu terlalu pendek, sebenarnya judul yang ingin kami buat  adalah jangan mencaci-maki, mencari-cari isu (kesalahan/kejelekan), meng-ghibah pak Joko Widodo, Habib Rizieq Sihab, pak Susilo Bambang Yudoyo (SBY), pak Yusuf Kala (JK), Ibu Mega Wati, KH. Aqiel Sirodj, Pak Machfud MD, dan para pejabat serta ulama lainnya secara khusus dan siapa saja secara umum.

Kenapa, karena dalam Al-Qur'an disebutkan :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوْا وَلاَ يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. 49 Al Hujuraat 12)

Dalam hadits disebuthan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلَا تَحَسَّسُوْا وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw beliau bersabda: Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu (mencari-cari kesalahan orang lain), saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. (H. R. Bukhari no. 6064)

وَأَخْرَجَ اْلبَيْهَقْيُّ وَالطَّبَرَانْيُّ وَأَبُوْ الشَّيْخُ وَابْنُ أَبِي الدُّنْيَا عَنْ جَابِرِ وَأَبِيْ سَعِيْدٍ قَالَا : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَاْلغِيْبَةَ فَإِنَّ اْلغِيْبَةَ أَشّدُّ مِنَ الزِّنَا قِيْلَ لَهُ وَكَيْفَ قَالَ إِنَّ الرَّجُلَ قَدْ يَزْنِى وَيَتُوْبُ فَيَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِ وَإِنَّ صَاحِبَ اْلغِيْبَةَ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ

Diriwayatkan Baihaqi, Thabrani, Abu Syaikh dan Ibnu Abi Dunya dari Jabir dan Abi Sa'id, keduanya berkata, Rasulullah saw bersabda : Berhati-hatikah kamu, jangan sampai menyebut kejelekan orang lain. Sebab sesungguhnya menyebut kejelekan orang lain lebih sulit diampuni dosanya dari pada zina. Ada orang bertanya kepada beliau : Mengapa demikian? Beliau menjawab : Sesungguhnya seorang lelaki terkadang berzina, lantas dia bertaubat dan Allah menerima taubatnya. dan sesungguhnya orang yang menyebut kejelekan orang lain tidak akan diampuni dosanya sehingga orang yang disebut kejelekannya mengampuni pada orang yang menyebarkan kejelekan itu. (Kitab Irsyadul Ibad Ila Sabilir Rosyad, Syaikh Zainuddin Al-Malibari, halaman 143)

Maaf-maaf, apa orang yang  mencaci-maki, mencari-cari isu (kesalahan/kejelekan), meng-ghibah beliau-beliau yang kami sebutkan di atas pernah bertemu dengan beliaunya, tentunya sangat sulit kita menemuinya, berarti kita juga kesulitan untuk meminta maaf kepada beliau-beliau itu. Dengan tidak ada kehalalan atau pemaafan dari beliau-beliau itu maka kita akan menyesal seumur hidup, sebab nanti di akhirat kita tetap dimintai pertanggungan jawab, dan kita digolongkan oleh Rasulullah saw sebagai orang yang bangkrut atau pailit. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْا الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat : Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut atau pailit itu? Para sahabat menjawab : Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan. Maka beliau bersabda : Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka. (H. R. Muslim no. 6744, Tirmidzi no. 2603 dan lainnya)

Lebih menakutkan lagi kalau kita dianggap orang yang tidak beriman, karena sebagai orang mukmin, tentu sangat tidak layak berbicara kasar, mencela dan melaknat kepada siapapun, kapanpun dan di mana pun, baik di dunia nyata maupun dunia maya, dalam hadits disebutkan :

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ وَلاَ الطَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ

Dari Abdullah ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya orang mukmin itu orang yang tidak suka melaknat, mencela, berkata keji atau jorok, dan kotor. (H. R. Ahmad no. 4027)

Hal ini tidak saja bagi orang yang membuat berita, tapi orang yang ikut menyebarkan berita juga dihukumi sama, oleh karena itu berhati-hatilah dalam menerima dan menyampaikan berita yang kita peroleh, sekiranya berita itu tidak baik apalagi terdapat kebohongan lebih baik kita hentikan di HP kita saja, jangan sampai kita bagikan kepada lainnya, apalagi saat membagikan itu disertai rasa bangga. naudzu billah min dzalik

Rabu, 07 April 2021

Sebaik-baik Sedekah adalah Setelah Kecukupan Terpenuhi



 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : Sebaik-baik sedekah adalah setelah kecukupan terpenuhi. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. (H. R. Bukhari no. 5356)

Senin, 29 Maret 2021

Tempat Kematian Seseorang

 


Imam Abdurrohim bin Ahmad Al-Qadhi menjelaskan dalam kitabnya :

Disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa Allah swt telah menciptakan malaikat yang bertugas mengurus setiap bayi yang lahir, yang disebut malaikat Al-Arham

Ketika Allah swt menciptakan seorang anak, maka Allah memerintahkan malaikat Al-Arham memasukkan ke dalam nuthfah di dalam rahim sang ibu sebuah tanah bumi tempat dia bakal meninggal. Setelah lahir dia akan berkeliling ke mana saja dia mau, kemudian pada akhirnya dia kembali ke tempat pengambilan tanah bumi yang dimasukkan ke dalam nuthfah tersebut, lalu dia mati di tempat itu

Dalam Al-Qur'an disebutkan :

قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ

Katakanlah : Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh. (Q.S. 3 Ali 'Imran 154)

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. 31 Luqman 34).

Jadi siapa saja tidak ada yang mengetahui di bumi mana dia akan meninggal,

Ada kisah antara Nabi Sulaiman, seorang pemuda dan malaikat maut :

Pada suatu hari, malaikat maut menjumpai Nabi Sulaimana yang kebetulan di ruang beliau ada tamu seorang pemuda. Malaikat maut senantiasa memandang pemuda tersebut. Pemuda tersebut gemetar kerena ketakutan. Ketika malaikat maut yang menjelma sebagai manusia itu pergi, si pemuda itu bertanya kepada Nabi Sulaiman : Siapakah gerangan tamu yang baru keluar tadi ? Nabi Sulaiman menjawab : Dia itu adalah malaikat maut. Pemuda itu semakin ketakutan. Kemudian dia berkata : Hai Nabi Allah, sesungguhnya saya memohon kepada tuan agar tuan berkenan memerintahkan angin untuk membawa saya ke Cina atau India. Nabi Sulaiman lalu memerintahkan angin dan segera membawanya ke Cina. Sesudah itu malaikat maut kembali ke Nabi Sulaiman dan beliau bertanya kepadanya tentang sikapnya yang memandang terus-menerus kepada pemuda tadi. Malaikat maut menjawab : Sesungguhnya aku diperintahkan mencabut nyawa pemuda itu hari ini di Cina, tetapi dia masih berada di sini dan saya heran. Nabi Sulaiman lalu menceritakan kisah pemuda itu yang meminta dikirim ke Cina melalui angin dan aku segera memerintahkan angin untuk segera membawanya ke Cina. Malaikat maut itu berkata kepada Nabi Sulaiman : Aku telah mencabut nyawa pemuda itu pada saat itu pula setibanya di Cina. (Kitab Daqoiqul Akhbar, halaman 18-19)

Larangan Buang Hajat Menghadap Kiblat di Tempet Terbuka

 


عَنْ مَرْوَانَ الْأَصْفَرِ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ثُمَّ جَلَسَ يَبُوْلُ إِلَيْهَا فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ قَدْ نُهِىَ عَنْ هَذَا قَالَ بَلَى إِنَّمَا نُهِىَ عَنْ ذَلِكَ فِى الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَىْءٌ يَسْتُرُكَ فَلاَ بَأْسَ

Dari Marwan Al-Ashfar dia berkata : Saya pernah melihat Ibnu Umar menderumkan untanya menghadap kiblat, lalu dia duduk dan buang air kecil dalam keadaan menghadapnya, lalu saya bertanya : Wahai Abu Abdurrahman, bukankah hal ini telah dilarang? Dia menjawab : Benar, akan tetapi hal itu dilarang jika dilakukan di tempat terbuka, apabila antara dirimu dan kiblat ada sesuatu yang menutupimu, maka itu tidaklah mengapa. (H. R. Abu Daud no. 11)

Penyakit Pikun Tiada Obatnya

 

عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الشِّخِّيْرِ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ ابْنِ آدَمَ وَإِلَى جَنْبِهِ تِسْعٌ وَتِسْعُوْنَ مَنِيَّةً إِنْ أَخْطَأَتْهُ الْمَنَايَا وَقَعَ فِى الْهَرَمِ حَتَّى يَمُوْتَ.

Dari Mutharrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir dari bapaknya dari Nabi saw, beliau bersabda : Anak keturunan adam diciptakan sementara di sisinya (menghadang) sembilan puluh sembilan Maniyyah (sebab sebab kematian), jika selamat dari Maniyyah itu, maka dia akan terkena pada penyakit pikun sampai meninggal. (H. R. Tirmidzi no. 2303)

Sabtu, 20 Maret 2021

Cata Malaikat Maut Mengetahui Ajal

 


Dalam Al-Qur'an disebutkan :

قُل لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُوْنَ أَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (Q.S. 27 An Naml 65)

Dalam hadita disebutkan :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ وَهُوَ يَقُوْلُ ( لاَ تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ ) وَمَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ يَعْلَمُ الْغَيْبَ فَقَدْ كَذَبَ ، وَهُوَ يَقُوْلُ لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Dari Aisyah rah ia berkata : Barang siapa menceritakan kepadamu bahwa Muhammad saw melihat Tuhannya berarti ia telah dusta, karena Allah berfirman : (Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata), (Qs. Al-An'am: 103), dan barang siapa menceritakan kepadamu bahwa ia tahu yang ghaib, berarti ia telah dusta, sebab Muhammad bersabda: Tidak ada yang tahu yang ghaib selain Allah.  (H. R. Bukhari no.7380)

Imam Abdurrohim bin Ahmad Al-Qadhi menjelaskan dalam kitabnya :

Untuk mengetahui akhir ajal makhluk, maka Malaikat maut ini selalu mendapatkan naskah kematian atau kesakitan seorang hamba secara tiba-tiba. Ketika itu malaikat maut berkata : Wahai Tuhanku, aku harus mencabut nyawanya, dan dalam keadaan seperti apa aku herus mencabutnya?

Lalu Allah berfirman : Hai malaikat maut, masalah ini adalah masalah ghaib-Ku, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Aku, tetapi Aku akan memberitahukan kepadamu waktu datangnya, dan aku akan memberika tanda-tandanya kepadamu yang dapat kau jadikan pegangan. Yaitu malaikat yang bertugas mengurus nafas-nafas akan datang jkepadamu, bahwa nafas fulan bin fulan akan berakhir. Malaikat yang bertugas mengurus rezeki dan amal akan datang kepadamu, bahwa rezeki fulan bin fulan sudah habis jatahnya. Apabila orang atau fulan yang diberitahukan akan berakhir ajalnya itu termasuk orang yang baik, maka namanya yang tercatat dalam lembaran malaikat maut itu nampak jelas cahaya putih memancar. Dan apabila orang tersebut termasuk orang yang jelek, maka namanya tampak hitam kelam.

Malaikat itu tidak mengetahui secara pasti, kecuali ada sebuah daun pohon di bawah Arsy jatuh padanya. Dalam daun tersebut terdapat tulisan nama orang yang telah tiba ajalnya, saat itulah malaikat maut mencabut nyawa orang tersebut.

Ka'ab bin Akhbar meriwayatkan : Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan sebuah pohon di bawah Arsy yang jumlah daunnya sebanyak makhluk hidup. Apabila ajal seseorang makhluk berakhir kurang 40 hari, maka daun atas nama hamba tersebut jatuh di tempat malaikat maut. Dengan itu dia mengetahui, bahwa dia diperintah mencabut nyawa hamba tersebut, sesudah itu para malaikat dilangit menganggapnya sebagai hamba yang telah mati. Hamba tersebut akan hidup di bumi tidak lebih kurang dari 40 hari.

Ada suatu riwayat menyebutkan,bahwa malaikat Mikail turun kepada malaikat maut dengan membawa lembaran dari Allah swt yang di dalam lembaran itu tertulis nama hamba yang akan di cabut nyawanya, tempat pencabutan nyawa dan sebab pencabutan nyawanya. (Kitab Daqoiqul Akhbar, halaman 17-18)