Senin, 23 November 2020

Khilafah itu Selama Tigapuluh Tahun

 


عَنُ سَفِيْنَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخِلاَفَةُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُوْنَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ

Dari Safinah berkata, Rasulullah saw bersabda : Khilafah di ummatku selama tigapuluh tahun kemudian setelah itu kerajaan. (H. R. Tirmidzi no. 2390)

Haram Mengatakan Sesuatu yang Tidak Jelas Sumbernya

 


عَنْ وَرَّادٍ قَالَ كَتَبَ الْمُغِيْرَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ اللهَ حَرَّمَ ثَلاَثًا وَنَهَى عَنْ ثَلاَثٍ حَرَّمَ عُقُوْقَ الْوَالِدِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَلاَ وَهَاتِ. وَنَهَى عَنْ ثَلاَثٍ قِيْلٍ وَقَالٍ وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

Dari Warrad dia berkata, Mughirah pernah berkirim surat kepada Mu'wiyah, Semoga engkau mendapat keselamatan. Amma ba'du, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah mengharamkan tiga perkara dan melarang dari tiga perkara. Allah mengharamkan durhaka terhadap orang tua, mengubur anak perempuan hidup-hidup dan tidak mau memberi. Dan Allah melarang dari tiga perkara; mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. (H. R. Muslim no. 4583)

Selasa, 17 November 2020

Yang Termasuk Orang Tua

 


Menurut para ulama, yang termasuk orang tua itu adalah :

 

Pertama, orang tua yang melahirkan kita.  Mereka adalah ayah dan ibu yang paling besar jasanya menghantarkan kita menjalani kehidupan. Terutama ibu yang mengandung dan melahirkan bersimbah darah bertaruh nyawa. Sekiranya, kita dapat meraih kemegahan dunia dan seisinya untuk membalas jasa mereka, tentulah tak sepadan menggantikannya. Apalagi, mereka tak pernah menghitung dan mengharapkan balasan material dari anaknya, kecuali sekadar bakti (birrul walidain) yang tulus semasa hidupnya dan kiriman doa setelah kematiannya

 

Kedua, orang tua yang menikahkan. merupakan orang tua kandung dari pasangan kita (mertua). Kita wajib menghormati mertua kita selayaknya orang tua kita sendiri

 

Ketiga, orang tua yang mengajarkan. Mereka adalah guru-guru yang mengajar dan mendidik kita baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan di bangku sekolah atau perantren. Guru menumbuhkan segala potensi dan bakat agar berkembang dengan baik. Sungguh, seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemuliaan, mengembangkan keahlian dan kemandirian, dan mengajarkan kearifan. Murid yang hebat lahir dari sentuhan dan goresan tangan seorang guru yang hebat.

 

Ketiga jenis orang tua itulah paling berjasa membesarkan dan membentuk kita. Berbuat baiklah kepada ketiganya, dan jangan sekali-kali mendurhakainya. Dan jangan lupa, selalu memanjatkan doa-doa terbaik untuk ketiganya, baik di waktu hidupnya ataupun setelah kematiannya

 

Jenis orang tua yang pertama dan kedua merupakan mahram muabbad (permanen) yaitu seseorang yang haram dinikahi selama-lamanya, bagaimana pun situasi dan keadaannya,

 

Dalam Al-Qur'an disebutkan :

 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua). (Q.S. 4 An Nisaa' 23)


Kematian dan Kebutuhan kita Ada di Negeri Itu

 


عَنْ مَطَرِ بْنِ عُكَامِسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَضَى اللهُ لِعَبْدٍ أَنْ يَمُوْتَ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَةً

Dari Mathar bin 'Ukamis dia berkata, Rasulullah saw bersabda : Apabila Allah telah menetapkan kematian seseorang bertempat di suatu negeri, maka Allah akan menjadikan ia memiliki kebutuhan di negeri itu. (H. R. Tirmidzi no. 2297)

Pagi Beriman Sore Menjadi Kafir

 


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا وَيُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ أَحَدُهُمْ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Dari Abu Huraiah, Rasulullah saw bersabda : Segeralah melakukan berbagai amal sebelum datangnya berbagai fitnah seperti bagian malam gelap, di pagi hari seseorang beriman dan di sore hari menjadi kafir, sore hari beriman dan di pagi hari menjadi kafir, salah seorang dari mereka menjual agamanya dengan barang dunia. (H. R. Tirmidzi no.2355)

Cara Menghadapi Orang Egois

 


عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً وَأُمُوْرًا تُنْكِرُوْنَهَا. قَالُوْا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ أَدُّوْا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللهَ الَّذِى لَكُمْ.

Dari Abdullah dari nabi saw bersabda :  Kalian akan melihat sikap mementingkan diri (egois) dan hal-hal yang kalian ingkari. Mereka bertanya  : Apa yang anda perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah? Beliau menjawab : Tunaikan hak mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah. (H. R. Tirmidzi no.2349)

Selasa, 10 November 2020

Dosa Ghibah Lebih Berat dari Dosa Zina

 


Imam Ghazali dalam kitabnya menulis sebuah hadits :

 عَنْ جَابِرٍ وَأَبِيْ سَعِيْدٍ قَالَا: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِيَّاكُمْ وَالْغِيْبَةْ فَإِنَّ اْلغِيْبَةَ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا، فَإِنَّ الرَّجُلَ يَزْنِيَ وَيَتُوْبُ فَيَتُوْبُ اللهُ سُبْحَانَهُ عَلَيْهِ وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيْبَةِ لَا يَغْفِرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ

Dari Jabir dan Abu Said, keduanya berkata, Rasulullah saw bersabda : Janganlah kamu mengerjakan ghibah (mengumpat), karena sesungguhnya ghibah itu (dosanya) lebih berat dari pada zina. Sesungghnya seseorang terkadang melalukan zina lalu bertaubat, maka Allah menerima taubatnya. Tetapi orang yang melakukan ghibah. Allah tidak akan mengampuninya sebelum orang yang diumpatnya memaafkannya. (H. R. Abu Syaikh dan Abi Dunya). (Kitab Ihya' Ulumuddin, Juz II, halaman 337)

Ghibah adalah membicarakan seseorang, lalu orang itu tidak menyukai pembicaraan itu, dalam hadits disebutkan :

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ. قَالُوْا اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيْلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Apakah kamu tahu apakah arti ghibah (mengumpat) itu? Para sahabat menjawab : Allah dan Rasulnya lebih mengetahui. Beliau bersabda : Mengumpat adalah kamu menyebut sesuatu yang tidak disenangi oleh saudaramu. Ada yang bertanya : Bagaimana pendapat paduka jika betul apa yang saya katakan itu terdapat pada saudaraku? Beliau bersabda : Jika betul apa yang kamu katakan itu terdapat padanya maka kamu mengumpatnya. Bila apa yang kamu katakan itu tidak terdapat padanya maka kamu berbuat kebohongan padanya. (H. R. Muslim no. 6758 dan Ibnu Hibban no. 12)

Dosa itu ada dua jenis, yaitu dosa yang berkaitan dengan hak Allah dan dosa yang berkaitan dengan hak anak Adam.

Dosa yang berkaitan dengan hak Allah dapat ditebus dengan cara memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Sedangkan dosa yang berkaitan dengan anak Adam  ialah dengan cara meminta maaf kepada orang yang disakitinya sebelum memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Dengan demikian, berarti dosa yang berkaitan dengan hak anak Adam lebih berat dari pada dosa yang berkaitan dengan hak Allah, karena orang yang bersangkutan diharuskan meminta maaf terlebih dahulu kepada orang yang disakitinya. Allah tidak akan mengampuninya sebelum orang yang dianiaya olehnya memaafkan perbuatannya.