Sunday, January 19, 2020

Umat Islam Akan Mendahului Umat lainnya


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، بَيْدَ كُلُّ أُمَّةٍ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَأُوْتِيْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ ، فَهَذَا الْيَوْمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا ، فَغَدًا لِلْيَهُوْدِ وَبَعْدَ غَدٍ لِلنَّصَارَى
Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw besabda : Kita adalah orang belakangan yang akan mendahului umat lain pada hari qiyamat. Hanya memang setiap ummat telah diberi Kitab sebelum kita dan kita diberikan Kitab setelah mereka. Dan (perintah mengagungkan hari Jum'at) ini adalah hari yang mereka menyelisihinya. Maka hari esok untuk Yahudi dan lusa untuk Nashrani.(H. R. Bukhari no. 3486)

Nabi Memintakan Ampun Bagi Orang Yang Menganiayanya


عن عَبْدِ االلهِ قَالَ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِى نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ، وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ، وَيَقُولُ اَللهم اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Dari Abdullah berkata, Sepertinya aku melihat Nabi saw sedang bercerita tetang seorang Nabi diantara para nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah-darah sambil beliau mengusap darah yang mengalir dari wajah beliau lalu bersabda : Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka orang-orang yang belum mengerti. (H. R.Bukhari no. 3477)

Thursday, January 9, 2020

Allah Itu Baik, Tidak Menerima Kecuali Yang Baik


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى :  يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً وَقاَلَ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ  ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ. 
Dari Abu Hurairah ra dia berkata : Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan. (H. R.  Muslim no. 2393 ).

Persaksian Orang Beriman Adalah Saksi Allah di Bumi


عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مُرَّ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ وَجَبَتْ. ثُمَّ مُرَّ بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا - أَوْ قَالَ غَيْرَ ذَلِكَ - فَقَالَ وَجَبَتْ. فَقِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْتَ لِهَذَا وَجَبَتْ، وَلِهَذَا وَجَبَتْ، قَالَ شَهَادَةُ الْقَوْمِ، الْمُؤْمِنُوْنَ شُهَدَاءُ اللهِ فِى الأَرْضِ
Dari Anas ra berkata : Ada jenazah yang diusung lewat di hadapan Nabi saw lalu orang-orang memuji jenazah tersebut dengan kebaikan lalu beliau berkata : Pasti. Kemudian lewat jenazah yang lain dan orang-orang mengatakan keburukan kepadanya atau lain dari yang pertama tadi lalu beliau berkata : Pasti. Maka ditanya : Wahai Rasulullah (apa maksudnya) baginda mengatakan untuk yang ini pasti dan untuk yang itu pasti? Beliau bersabda : Persaksian orang-orang beriman adalah saksi-saksinya Allah di muka bumi. (H. R. Bukhari no.2642).

Boleh Berbekam Dalam Keadaan Puasa


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : أَوَّلُ مَا كُرِهَتِ الْحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ أَنَّ جَعْفَرَ بْنَ أَبِى طَالِبٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ فَمَرَّ بِهِ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَفْطَرَ هَذَانِ. ثُمَّ رَخَّصَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ فِى الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ وَكَانَ أَنَسٌ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ.
Dari Anas bin Malik ia berkata : Pertama kali dimakruhkan berbekam bagi orang yang berpuasa adalah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berbekam dalam keadaan puasa dan Nabi saw melewatinya, maka beliau bersabda : Dua orang ini berbuka puasa. Kemudian Nabi saw memberi keringanan berbekam bagi orang yang sedang berpuasa sesudah itu, dan Anas pernah berbekam dalam keadaan puasa. (H. R. Baihaqi no. 8561, Daruquthni no. 2283 dan lainnya)

Siapa Wali Dari Anak Hasil Zina



Definisa anak zina menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya beliau menegaskan :

أما ولد الزنا: فهو الولد الذي أتت به أمه من طريق غير شرعي، أو هو ثمرة العلاقة المحرمة
Adapun anak zina adalah anak yang dilahirkan oleh ibunya melalui jalan yang tidak syar’i atau anak dari hasil hubungan yang diharamkan. (Kitab  Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Juz VIII halaman 430)

Ibnu Rusyd dalam kitabnya menegaskan :

وَاتَّفَقَ الْجُمْهُوْرُ عَلَى أَنَّ أَوْلَادَ الزِّنَا لَا يُلْحَقُوْنَ بِآبَائِهِمْ إِلَّا فِي الْجَاهِلِيَّةِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَلَى اخْتِلَافٍ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الصَّحَابَةِ
Mayoritas ulama sepakat bahwa anak zina tidak dinasabkan kepada bapak mereka  kecuali anak-anak yang lahir pada masa jahiliyah sebagaimana yang diriwayatkan dari sayyidina Umar bin al-Khaththab ra, dan dalam hal ini terjadi perbedaan di antara shahabat” (IKitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid,  Juz II, halaman 358)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa anak zina dinasabkan kepada ibunya. Konsekwensi dari penasaban anak zina ke ibunya mengakibatkan si anak tidak memilik wali. Sedangkan orang yang tidak memilik wali, maka walinya adalah penguasa/sulthan. Atau dengan kata lain, walinya adalah wali hakim. Dalam hadits diasebutkan :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَهُ
Dari Aisyah,bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Wanita mana saja yang menikah dengan tanpa wali, maka nikahnya batil. Jika lelaki telah menggaulinya,maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya. Maka apabila mereka bersengketa, penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali. (H. R. Titmidzi no. 1125, Abu Daud no. 2025 dan lainnya)

Hasil Keputusan forum Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Lombok pada tahun 2017 mengenai status perwalian, nasab, nafkah, dan hak waris bagi anak yang dilahirkan dari hasil zina :

Pertama, jika perempuan yang hamil itu dinikahi secara syar’i, yakni dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syarat dan rukunnya, maka berlaku hukum nasab, wali, dan nafkah

Kedua, jika perempuan yang hamil itu tidak dinikahi secara syar’i, maka ada perinciaannya:

1. Jika anak tersebut lahir pada saat ibunya belum dinikahi siapapun, maka anak itu bernasab kepada ibunya saja

2. Jika anak tersebut lahir setelah ibunya dinikahi baik oleh ayah biologisnya atau orang lain, di sini ada tafshil (rincian) :

a) jika (janin) lahir lebih dari 6 bulan (dari akad nikah), maka nasab anak itu jatuh kepada suami ibunya.

b) tetapi, jika lahir kurang dari 6 bulan (dari akad nikah), maka anak itu tidak bisa bernasab kepada suami ibunya.

para Ulama yang mengikuti acara tersebut mengutip salah satunya keterangan Imam Al-Mawardi yang mengangkat perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih, sebagai berikut:

Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi menegaskan dalam kitabnya :

فَأَمَّا إِنْ كَانَتِ الزَّانِيَةُ خَلِيَّةً وَلَيْسَتْ فِرَاشًا لِأَحَدٍ يَلْحَقُهَا وَلَدُهَا ، فَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْوَلَدَ لَا يَلْحَقُ بِالزَّانِي وَإِنِ ادَّعَاهُ ، وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ : يَلْحَقُهُ الْوَلَدُ إِذَا ادَّعَاهُ بَعْدَ قِيَامِ الْبِيِّنَةِ ، وَبِهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ ، وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ : يَلْحَقُهُ الْوَلَدُ إِذَا ادَّعَاهُ بَعْدَ الْحَدِّ وَيَلْحَقُهُ إِذَا مَلَكَ الْمَوْطُوءَةَ وَإِنْ لَمْ يَدِّعِهِ ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ : إِنْ تَزَوَّجَهَا قَبْلَ وَضْعِهَا وَلَوْ بِيَوْمٍ لَحِقَ بِهِ الْوَلَدُ ، وَإِنْ لَمْ يَتَزَوَّجْهَا لَمْ يَلْحَقْ بِهِ
Jika perempuan itu kosong, yakni tidak menikah sampai persalinan, maka anak itu dinisbahkan kepadanya (ibu). Menurut Mazhab Syafi’i, anak itu tidak dinisbahkan kepada lelaki yang berzina meskipun ia mengakuinya. Menurut Al-Hasan Al-Bashri, hal itu dimungkinkan jika lelaki tersebut mengakuinya disertai bukti. Pendapat ini dipakai oleh Ibnu Sirin dan Ibnu Rahawaih. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, anak itu dinisbahkan kepada seorang lelaki bila ia mengakuinya setelah sangsi had dan anak itu dinisbahkan kepada seorang lelaki bila ia memiliki budak perempuan meskipun ia tak mengakui bayi itu sebagai anaknya. Imam Hanafi mengatakan, anak itu dinisbahkan kepada seorang lelaki yang menikahi ibunya meskipun sehari sebelum pesalinan, tetapi jika lelaki itu tidak menikahi ibunya, maka anak itu tidak bisa dinisbahkan kepadanya. (Kitab Al-Hawi Al-Kabir, Juz VIII, halaman 162).

Jadi sebagai kesimpulan status wali bagi anak dari hasil zina masih ada perbedaan antar ulama seperti yang dijelaskan di atas. Semoga kita bisa menyikapi perbedaan ini dengan bijak


BACA JUGA :


Saturday, January 4, 2020

Memulai Setiap perkara Yang Baik Dengan Menyebut Nama |Allah


وَفِي رِوَايَةٍ كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ  لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِْ أَقْطَعُ
Dalam riwayat yang lain, setiap perkara yang baik bila tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, maka terputus (dari rahmat Allah). (Imam Nawawi - Kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz I, halaman 73)