Wednesday, January 16, 2019

Hukum Membakar Kemenyan atau Dupa Dalam Acara Islami




Hukum membakar kemenyan atau dupa pada malam Jum’at atau pada event-event tertentu dalam acara Islam seperti majelis dzikir dan lain sebagainya adalah boleh bahkan dianjurkan. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا اسْتَجْمَرَ اسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ غَيْرِ مُطَرَّاةٍ وَبِكَافُوْرٍ يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
Dari Nafi' dia berkata : Bahwa Ibnu Umar beristijmar (membakar dupa) dengan kayu garu tanpa campuran, atau dengan kafur yang dicampur dengan kayu garu, kemudian beliau berkata : Demikian Rasulullah saw beristijmar. (H. R. Muslim no. 6021, Nasa'i no. 5150)

Imam Nawawi dalam kitabnya menegaskan :
  
قَوْله ( كَانَ اِبْنُ عُمَرَ إِذَا اِسْتَجْمَرَ اِسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ غَيْر مُطَرَّاةٍ ، أَوْ بِكَافُوْرٍ يَطْرَحهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ . ثُمَّ قَالَ : هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِر رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ). الِاسْتِجْمَار هُنَا اِسْتِعْمَال الطِّيب وَالتَّبَخُّر بِهِ مَأْخُوذ مِنْ الْمِجْمَر ، وَهُوَ الْبَخُور . وَأَمَّا ( الْأَلُوَّة ) فَقَالَ الْأَصْمَعِيّ وَأَبُو عُبَيْد وَسَائِر أَهْل اللُّغَة وَالْغَرِيب هِيَ الْعُود يَتَبَخَّر بِهِ
Imam Nawawi menyebutkan sebuah hadits (Bahwa Ibnu Umar beristijmar (membakar dupa) dengan kayu garu tanpa campuran, atau dengan kafur yang dicampur dengan kayu garu, kemudian beliau berkata : Demikian Rasulullah saw beristijmar). Yang di maksud dengan istijmar di sini ialah memakai wewangian dan berbukhur (berdupa) dengannya. Lafadz istijmar itu di ambil dari kalimat Al-majmar yang bermakna Al-bukhur (dupa), adapun Uluwah itu menurut Al-Ashmu’i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa Arab bermakna kayu dupa yang di buat dupa. (Kitab Syarah Shahih Muslim, Juz VII, halaman 440)

فَفِي هَذَا الْحَدِيث اِسْتِحْبَاب الطِّيب لِلرِّجَالِ كَمَا هُوَ مُسْتَحَبّ لِلنِّسَاءِ، لَكِنْ يُسْتَحَبّ لِلرِّجَالِ مِنْ الطِّيب مَا ظَهَرَ رِيحه، وَخَفِيَ لَوْنه، وَأَمَّا الْمَرْأَة فَإِذَا أَرَادَتْ الْخُرُوج إِلَى الْمَسْجِد أَوْ غَيْره كُرِهَ لَهَا كُلّ طِيب لَهُ رِيح، وَيَتَأَكَّد اِسْتِحْبَابه لِلرِّجَالِ يَوْم الْجُمُعَة وَالْعِيد عِنْد حُضُور مَجَامِع الْمُسْلِمِينَ وَمَجَالِس الذِّكْر وَالْعِلْم وَعِنْد إِرَادَته مُعَاشَرَة زَوْجَته وَنَحْوَ ذَلِكَ . وَاللهُ أَعْلَم
Beliau juga menyatakan bahwa hadits tersebut mengindikasikan anjuran memakai wewangian bagi laki-laki sebagaimana dianjurkan bagi perempuan, namun anjuran bagi lak-laki untuk memakainnya adalah sesuatu yang dapat memunculkan aroma dan tidak menampakkan warna. Sedang ketika perempuan hendak keluar menuju masjid atau yang lain, maka makruh baginya memakai setiap wewangian. Anjuran lebih ditekankan bagi laki-laki untuk memakainya pada hari Jum’at dan hari raya ketika hendak menghadiri perkumpulan orang-orang muslim, majelis dzikir, (majelis) ilmu, dan ketika hendak bersama istri. Dan Allah lebih mengetahui. (Kitab Syarah Shahih Muslim, Juz VII, halaman 440)

Imam Nawawi dalam kitabnya menegaskan :

قال بعض أصحابنا ويستحب أن يبخر عند الميت من حين يموت لانه ربما ظهر منه شئ فيغلبه رائحة البخور
Sahabat-sahabat kami (dari Imam Syafi'i) berkata : Disunnahkan membakar kemenyan (dupa) di dekat mayat, karena terkadang ada sesuatu yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa mengalahkan/menghalanginya. (Kitab Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz V, halaman 160)

إخراق البخور عند ذكر الله تعالى ونحوه كقراءة القرأن ومجلس العلم له أصل في السنة من حيث أن النبي صلى الله عليه وسلم يحب الريح الطيب الحسن ويحب الطيب ويستعملها كثيرا ويخض عليهما ويقول أحب إلي من دنياكم النساء والطيب وجعلت قرة عين في الصلاة
Membakar kemenyan atau dupa ketika berdzikir kepada Allah ta'ala dan lain sebagainya, seperti membaca Al-Qur’an, dan manjelis ilmu adalah mendapatkan legitimasi dari hadits Nabi saw yang menyatakan bahwa Nabi saw mencintai aroma wangi dan wewangian, dan beliau sering memakainya, beliau juga bersabda : Yang aku suka dari dunia kalian adalah wanita dan wewangian, dan aku menjadikannya sebagai penenang (penyejuk hati) di dalam shalat. (Kitab Bulghat Ath-Thulab, halaman 53-54)

Hadits yang dimaksud adalah :

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ
Dari Anas,bahwa Nabi saw bersabda : Yang aku sukai dari dunia ini adalah wanita dan wewangian, dan aku menjadikannya sebagai penenang (penyejuk hati) di dalam shalat. (H. R. Ahmad no. 12627, Nasa'i no. 3949 dan lainnya)

Puasa Dilarang Berdusta


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda :  Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak peduli (membutuhkan) ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R. Bikhari no. 1903)

Yang Membatalkan Pahala Puasa


عَنْ أَنَسٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمِ الْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ
Dari Anas, dari Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda : Lima perkara yang membatalkan (pahala) orang yang berpuasa, yaitu berdusta, ghibah (menyebut kejelekan orang lain), adu domba (menfitnah), sumpah palsu dan melihat dengan syahwat. (Kitab ihya' ulumuddin, Juz I, halaman 454)

Sunday, January 13, 2019

Dasar Membaca Sami'allahuliman Hamidah




Dalam shalat dikenal istilah takbir intiqal, yakni kesunnahan mengucapkan kalimat takbir (Allahu Akbar)  setiap kali perpindahan gerak. Ada satu yang berbeda, yakni ketika bangun dari ruku’, bukanlah kalimat takbir yang sunnah diucapkan, melainkan kalimat tasmi’ (sami’allahu liman hamidah)

Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar Al-Bujairami dalam kitabnya menegaskan :

وَالسَّبَبُ فِي سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ { أَنَّ الصِّدِّيْقَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا فَاتَتْهُ صَلَاةٌ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ، فَجَاءَ يَوْمًا وَقْتَ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَظَنَّ أَنَّهَا فَاتَتْهُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَمَّ بِذَلِكَ وَهَرْوَلَ وَدَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَوَجَدَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُكَبِّرًا فِي الرُّكُوْعِ فَقَالَ : الَْحَمْدُ لِله،ِ وَكَبَّرَ خَلْفَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ جِبْرِيلُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرُّكُوْعِ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُلْ : سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ }. وَفِي رِوَايَةٍ { اِجْعَلُوْهَا فِي صَلَاتِكُمْ }. فَقَالَهَا عِنْدَ الرَّفْعِ مِنَ الرُّكُوْعِ ، وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ يَرْكَعُ بِالتَّكْبِيْرِ وَيَرْفَعُ بِهِ فَصَارَتْ سُنَّةً مِنْ ذَلِكَ الْوَقْتِ بِبَرَكَةِ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Dan sebab pada perkataan sami’allahu liman hamidah adalah sesungguhnya Abu Bakar Ash-Shiddiq ra tidak pernah ketinggalan shalat di belakang Rasulullah. saw. Pada suatu hari ketika hendak shalat  Ashar beliau terlambat dan menyangka tidak sempat shalat di belakang Rasulullah saw, beliau sangat menginginkan agar bisa shalat bersama Rasulullah saw, beliau berlari dan memasuki masjid rupanya meliau mendapatkan Rasulullah saw sedang membaca takbir dalam ruku’ maka belaiu memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah dan bertakbir salat mengikuti Rasulullah saw.  Maka datanglah malaikat Jibril kepada Nabi saw yang sedang ruku’ dan mengatakan : wahai Muhammad Allah telah mendengar orang yang  memuji-Nya, maka ucapkan : sami’allahu liman hamidah. Dalam riwayat lain disebutkan : Jadikanlah kalimat itu sebagai bacaan shalat kalian. Maka beliau membacanya ketika bangkit dari ruku'. Padahal sebelum itu beliau turun ke ruku' dan bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan : Allahu Akbar. Maka itu menjadi sunnah dari semenjak itu dengan berkat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. (Kitab Hasyiyah Al-Bujairami 'Alal Khathib, Juz IV, halaman 382)

Dari kisah di atas bisa dipahami bahwa kesunahan tasmi’ saat bangun dari ruku‘ merupakan jawaban atas pujian yang disampaikan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra karena ia masih tetap bisa menjaga keistiqamahan shalat berjama’ah bersama Rasulullah saw.

Bacaan tasmi' (sami’allahu liman hamidah) ini bukan hanya bagi imam saja tetapi juga bagi makmum, dan bagi yang shalat munfarid (sendirian)

BACA JUGA :

Tidak Semua Undian Itu Haram Dan Dilarang


عَنْ عَائِشَةَ  رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ، فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ، وَكَانَ يَقْسِمُ لِكُلِّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا، غَيْرَ أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا وَلَيْلَتَهَا، لِعَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ تَبْتَغِى بِذَلِكَ رِضَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
Dari Aisyah rah berkata : Adalah Rasulullah saw apabila hendak mengadakan suatu perjalanan, beliau melakukan undian siapa diantara isteri-isteri beliau yang keluar namanya untuk turut serta bersama beliau. Dan juga beliau selalu menggilir isteri-isteri beliau untuk setiap hari dan malamnya kecuali Saudah binti Zam'ah yang dia telah menghibahkan jatah giliran hari dan malamnya kepada  Aisyah isteri Nabi saw, dengan tujuan mencari ridho Rasulullah saw. (H. R. Bukhari no. 2593)

Nabi Pernah Menyuruh Meminum Air Kencing Unta


عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَدِمَ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفَرٌ مِنْ عُكْلٍ، فَأَسْلَمُوْا فَاجْتَوَوُا الْمَدِيْنَةَ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَأْتُوْا إِبِلَ الصَّدَقَةِ، فَيَشْرَبُوْا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا، فَفَعَلُوْا فَصَحُّوْا، فَارْتَدُّوْا وَقَتَلُوْا رُعَاتَهَا وَاسْتَاقُوْا، فَبَعَثَ فِى آثَارِهِمْ فَأُتِىَ بِهِمْ ، فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسَمَلَ أَعْيُنَهُمْ، ثُمَّ لَمْ يَحْسِمْهُمْ حَتَّى مَاتُوْا
Dari Anas ra mengatakan, beberapa orang dari kabilah Ukli (menurut riwayat Muslim : atau Urainah) menemui Nabi saw menyatakan ke-Islamannya, tetapi mereka tidak cocok dengan iklim Madinah sehingga Nabi memerintahkan mereka untuk mendatangi unta-unta sedekah untuk meminum air kencingnya dan susunya. Mereka melakukan perintah tersebut dan mereka pun sembuh. Namun mereka murtad dan membunuh penggembalanya, merampok unta-untanya. Maka Nabi mengutus (pasukan) untuk meyusuri jejak mereka sehingga mereka bisa ditangkap. Kemudian Nabi memotong tangan dan kaki mereka serta mencongkel mata mereka, dan Nabi tidak menghentikan penghukuman terhadap mereka hingga mereka tewas. (H. R. Bukhari no. 6802, Muslim no. 4447)

Monday, December 31, 2018

Yang Membatalkan Puasa




Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi dalam kitabnya menegaskan :

Hal-hal yang membatalkan puasa itu ada sepuluh :

أَحَدُهَا وَثَانِيْهَا (مَا وَصَلَ عَمْدًا إِلَى الْجَوْفِ) اَلْمُنْفَتِحِ (أَوْ) غَيْرَ الْمُنْفَتِحِ كَالْوُصُوْلِ مِنْ مَأْمُوْمَةٍ إِلَى (الرَّأْسِ). وَالْمُرَادُ إِمْسَاكُ الصَّائِمِ عَنْ وُصُوْلِ عَيْنٍ إِلَى مَا يُسَمَّى جَوْفًا
Pertama dan kedua : Masuknya sesuatu benda dengan sengaja sampai ke lubang terbuka (mulut, hidung, dan lain-lain), atau melalui jalan yang tertutup, seperti melalui luka-luka yang ada pada kepala sampai kebagian dalamnya. Yang dikehendaki dalam hal ini adalah bahwa orang yang berpuasa mencegah sesuatu yang bisa masuk kedalam anggota tubuh (lubang)

(وَ) الثَّالِثُ (الْحُقْنَةُ فِي إِحْدَ السَّبِيْلَيْنِ) وَهُوَ دَوَاءٌ يُحْقَنُ بِهِ الْمَرِيْضُ فِي قُبُلٍ أَوْ دُبُرِ الْمُعَبَّرِ عَنْهُمَا فِي الْمَتْنِ بِالسَّبِيْلَيْنِ
Ketiga : Mengobati melalui salah satu dari kedua jalan yakni mengobati orang sakit melalui qubul (jalan muka atau alat kelamin) atau dubur (jalan belakang). Di dalam kitab Matan qubul dan dubur dipergunakan istilah kata "dua jalan"

(وَ) الرَّابِعُ (اَلْقَيْءُ عَمْدًا) فَإِنْ لَمْ يَتَعَمَّدْ لَمْ يَبْطُلْ صَوْمُهُ كَمَا سَبَقَ.
Keempat : Sengaja muntah-muntah, jika tidak sengaja maka tidak batal puasanya, sebagaimana keterangan terdahulu.

(وَ) الْخَامِسُ (اْلوَطْءُ عَامْدًا) فِي الْفَرْجِ فَلَا يُفْطِرُ الصَّائِمُ بِالْجِمَاعِ نَاسِيًا كَمَا سَبَقَ
Kelima : Sengaja wathi (bersetubuh dalam farji), maka tidak membatalkan puasa bila bersetubuh dalam keadaan lupa (berpuasa), sebagaimana keterangan terdahulu.

(وَ) السَّادِسُ (اْلإِنْزَالُ) وَهُوَ خُرُوْجُ اْلمَنِيِّ (عَنْ مُبَاشَرَةٍ) بِلَا جِمَاعٍ مُحَرَّمًا كَانَ كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِهِ أَوْ غَيْرَ مُحَرَّمٍ كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِ زَوْجَتِهِ أَوْ جَارِيَتِهِ.
Keenam : Keluar mani, artinya keluar mani sebab bersentuhan (dengan kulit) tidak dengan bersetubuh, baik keluarnya itu diharamkan, seperti mengeluarkan dengan tangannya sendiri, atau tidak diharamkan seperti keluarnya dengan tangan istrinya atau tangan budak perempuannya.

وَاحْتَرَزَ بِمُبَاشَرَةِ عَنْ خُرُوْجِ الْمَنِيِّ بِالْاِحْتِلَامِ فَلَا إِفْطَارَ بِهِ
Pengarang kitab (mushannif) mengecualikan keluarnya air mani apabila disebabkan karena mimpi maka itu tidaklah batal.

(وَ) السَّابِعُ إِلَى آخِرِ الْعَشَرَةِ (الْحَيْضُ وَالنِّفَاسُ وَاْلجُنُوْنُ وَالرِّدَّةُ) فَمَتَى طَرَأَ شَيْءٌ مِنْهَا فِي أَثْنَاءِ الصَّوْمِ أَبْطَلَهُ
Ketujuh sampai kesepuluh : Haidh, nifas, gila dan murtad. Maka sewaktu-waktu orang yang berpuasa itu kedatangan satu dari haidh, nifas, gila dan murtad di tengah-tengah puasanya, maka batallah puasanya. (Kitab Fathul qarib, halaman 26)

BACA JUGA :
http://www.wongsantun.com/2018/12/yang-membatalkan-menggugurkan-pahala.html