Monday, March 23, 2020

Bacaan Qunut Nazilah Bila Terkena Bencana dan Wabah




Doa qunut tidak hanya disunahkan pada shalat subuh, tetapi juga dianjurkan membacanya saat shalat witir di separuh akhir Ramadhan. Tidak hanya itu, doa qunut juga disunahkan ketika ditimpa musibah atau bencana, meskipun kita tidak berada langsung di lokasi kejadian. Qunut nazilah biasanya dibaca pada raka’at terakhir setelah ruku’.

Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al-Kaf dalam kitabnya menjelaskan :

قنوت نازلة يسن في جميع المكتوبات إذا نزلت نازلة بالمسلمين في أي مكان، ولا يشترط أن يكون في محل النازلة
Qunut nazilah disunahkan di seluruh shalat fardhu ketika umat Islam ditimpa musibah di manapun berada dan tidak disyaratkan mesti berada di lokasi kejadian. (Kitab Al-Taqrirat Al-Sadidah fi Al-Masail Al-Mufidah) 

Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya menjelaskan :

والقنوت هو ذكر مخصوص مشتمل على دعاء وثناء ويحصل بكل لفظ اشتمل عليهما بأي صيغة شاء........... ولم يصرح العلماء عن لفظ قنوت النازلة وهو مشعر بأنه كقنوت الصبح لكن الذي يظهر كما قال ابن حجر إنه يدعو في كل نازلة بما يناسبها وهو حسن قاله الباجوري
Qunut adalah dzikir tertentu yang mengandung doa dan pujian. Dan dibolehkan dengan membaca lafald apapun selama mengandung doa dan pujian .... Para ulama juga tidak menentukan lafald qunut nazilah yang spesifik. Ini menunjukan bahwa lafald qunut nazilah itu seperti halnya qunut subuh. Tetapi, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa doa qunut yang dibaca disesuaikan dengan musibah yang terjadi. Ini lebih baik sebagaimana dikatakan Al-Bajuri. (Kitab Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Najah)

Di bawah ini contoh bacaan qunut nazilah bila terkena bencana dan wabah :

اَللهم اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ بِرَحْمَتِكَ شَرَّمَا قَضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلىٰ مَا قَضَيْتَ، اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ،
 اَللهم ادْفَعْ عَنَّا الْغَلآءَ وَالْبَلآءَ وَالْوَبآءَ وَالْفَحْشآءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةُ وَمِنْ سَائِرٍ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍنِالنَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَ عَلىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah kesehatan kepadaku sebagaimana orang yang  telah Engkau beri kesehatan, pimpinlah aku sebagaimana orang yang telah Engkau pimpin, berilah berkah kepadaku terhadap apa yang telah Engkau berikan, dan jagalah aku dengan rahmat Engkau terhadap kejahatan yang telah Engkau tentukan, karena sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan tiada yang menentukan terhadap Engkau, dan sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau beri kekuasaan, dan tidak akan mulia orang yang telah Engkau musuhi. Maha Berkah Engkau Tuhan kami dan Maha Mulia Engkau, Maka bagi Engkau segala puji terhadap apa yang telah Engkau tentukan, aku mohon ampun kepada Engkau dan bertaubat kepada Engkau.  

Ya Allah, jauhkanlah kami dari kesulitan ekonomi, bencana dan wabah, perbuatan keji dan munkar, kedzoliman, serangan dan ancaman yang beraneka ragam, keganasan dan segala ujian, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dari negara kami Indonesia khususnya, dan negara-negara Islam pada umumnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu. Semoga rahmat ta’dhim Allah selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad sebagai Nabi yang ummi dan kepada keluarganya serta para sahabatnya  dan semoga Allah memberi keselamatan.

Larangan Membuat Hamparan Kulit Binatang Buas


عَنْ أَبِى الْمَلِيْحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ جُلُوْدِ السِّبَاعِ
Dari Abu Al-Malih bin Usamah dari ayahnya bahwasanya Rasulullah saw melarang membuat hamparan kulit binatang buas. (H. R. Abu Daud no. 4134, Tirmidzi no. 1880 dan lainnya)

Anjuran Baca Dzikir dan Shalawat di Setiap Majelis


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهِ فِيْهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda : Tidaklah suatu kaum duduk disuatu majelis yang tidak ada dzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat pada nabinya, kecuali majelis tersebut menjadi penyesalan. Bila Allah berkehendak akan menyiksa mereka, dan bila dikehendaki, mereka akan diampunui. (H. R. Tirmidzi no. 3708)

Anjuran Mengucapkan Salam Bila Masuk Rumah


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ لِى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَىَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُوْنُ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ
Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw bersabda kepadaku : Wahai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu, maka ucapkanlah salam, niscaya kamu dan keluargamu mendapat berkah. (H. R. Tirmidzi no. 2915)

Thursday, March 19, 2020

Larangan Membuat Hamparan Kulit Binatang Buas


عَنْ أَبِى الْمَلِيْحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ جُلُوْدِ السِّبَاعِ
Dari Abu Al-Malih bin Usamah dari ayahnya bahwasanya Rasulullah saw melarang membuat hamparan kulit binatang buas. (H. R. Abu Daud no. 4134, Tirmidzi no. 1880 dan lainnya)

Keluar Masuk Majelis Ucapkanlah Salam


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ اْلأُوْلَى بِأَحَقَّ مِنَ اْلآخِرَةِ
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Bila salah seorang di antara kamu sampai ke suatu majelis, maka ucapkanlah salam. Dan bila berkehendak untuk meninggalkannya, maka ucapkanlah salam. Salam yang pertama tidak lebih berhak dari pada yang terakhir (keduanya disunnahkan).  (H. R. Abu Daud no. 5210)

Sunday, March 15, 2020

Anjuran Mencuci Tangan Ketika Bangun Tidur


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi saw bersabda : Apabila salah seorang di antara kalian bangun tidur, janganlah mencelupkan tangan ke dalam bejana sehingga mencucinya tiga kali, karena ia tidak mengerti ke manakah tangannya semalam itu? (H. R.Muslim no. 665)