Wednesday, October 16, 2019

Sulit Menghitung Kebaikan Nabi saw



Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya menjelaskan :

نقل عن الشيخ عبد المعطي السملاوي : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِجِبْرِيْلِ عَلَيْهِ السَّلَامُ : صِفْ لِيْ حَسَنَاتِ عُمَرَ. فَقَالَ : لَوْ كَانَتِ الْبَحْارُ مِدَادًا وَالشَّجَرُ أَقْلَامًا لَمَاحَصَرْتُهَا، فَقَالَ : صِفْ لِيْ حَسَنَاتِ أَبِيْ بَكْرٍ. فَقَالَ : عُمَرُ حَسَنَةُ مِنْ حَسَنَاتِ أَبِيْ بَكْرِ
Mengutip dari Syaikh Abdul Mu'thi As-Samlawi, bahwasanya Nabi saw bertanya kepada malaikat Jibril as : Kemukakan kepadaku tentang kebaikan Umar, lalu malaikat Jibril menjawab : Andaikan lautan menjadi tintanya dan pepohonan menjadi penanya niscaya aku tidak akan mampu menghitung kebaikan Umar. Lalu Nabi bertanya lagi : Kemukakan kepadaku tentang kebaikan Abu Bakar. Maka Jibril Menjawab : Umar adalah salah satu kebaikan dari beberapa kebaikan Abu Bakar.  (Kitab Nashaihul Ibad, halaman 10)

Dari keterangan di atas dijelaskan bahwa kebaikan Umar sangat jauh dibanding dengan kebaikan Abu Bakar, padahal kalau ditulis kebaikan Umar tidak akan habis meskipun air laut dijadikan tinta dan pepohonan di dunia ini dijadikan pena.

Nah bagaimana dengan kebaikan Nabi saw, tentu sangat sulit dihitung karena kebaikan Abu Bakar saja tidak ada apa-apanya dibanding dengan kebaikan Nabi saw.

Dalam hal ini Nabi saw melakukan kebaikan karena berlandaskan atau bermotivasi syukur kepada Allah bukan sekedar melaksanakan perintah atau memenuhi kewajiban. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُورًا. فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ ، فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ
Dari Aisyah rah bahwa Nabi saw melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata : Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau menjawab : Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur? Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak rukuk maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku. (H. R.Bukhari no. 4837)

Hasil Usaha Sendiri Lebih Baik Dari Meminta-Minta


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَتِ اْلأَنْصَارُ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْسِمْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ إِخْوَانِنَا النَّخِيْلَ . قَالَ لاَ . فَقَالُوْا تَكْفُوْنَا الْمَئُوْنَةَ وَنُشْرِكُكُمْ فِى الثَّمَرَةِ . قَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
Dari Abu Hurairah ra berkata, Orang-orang Anshar berkata kepada Nabi saw : Bagilah untuk kami dan saudara-saudara kami kebun kurma ini. Beliau menjawab : Tidak. Mereka (Kaum Muhajirin) berkata : Cukup kalian berikan kami pekerjaan untuk mengurus kebun kurma tersebut nanti kami mendapat bagian dari hasil buahnya. Mereka (Kaum Anshar) berkata : Kami dengar dan kami taat. (Bukhari no. 2325)

Orang Yang Bangkrut Atau Pailit


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْا الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat : Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut atau pailit itu? Para sahabat menjawab : Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan. Maka beliau bersabda : Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka. (H. R. Muslim no. 6744, Tirmidzi no. 2603 dan lainnya)

Sunday, October 13, 2019

Cara menasehati Pemimpin



Tidak ada yang tidak membutuhkan nasihat, tidak terkecuali bagi para pemimpin. Apabila seseorang melihat kesalahan dari seorang penguasa atau pemerintah maka hendaklah dia terlebih dahulu husnudzan, terlebih dahulu dia berbaik sangka kepada pemerintah tersebut

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمِ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ.
Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad-Daari ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Agama adalah nasehat, kami berkata : Kepada siapa ?  beliau bersabda : Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya. (H. R. Bukhori no. 42 dan Muslim no. 205 )

Imam Nawawi mengomentari makna ‘nasihat untuk pemimpin kaum muslimin dalam kitabnya :

وَأَمَّا النَّصِيْحَة لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ فَمُعَاوَنَتهمْ عَلَى الْحَقّ، وَطَاعَتُهُمْ فِيْهِ، وَأَمْرُهُمْ بِهِ، وَتَنْبِيْههمْ وَتَذْكِيرهمْ بِرِفْقٍ وَلُطْفٍ، وَإِعْلَامهمْ بِمَا غَفَلُوا عَنْهُ وَلَمْ يَبْلُغهُمْ مِنْ حُقُوْقِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَتَرْك الْخُرُوج عَلَيْهِمْ، وَتَأَلُّف قُلُوب النَّاس لِطَاعَتِهِمْ
Ada pun nasihat bagi para pemimpin kaum muslimin, adalah dengan menolong dan mentaati mereka di atas kebenaran, memerintahkan mereka dengannya, memperingatkan dan menegur mereka dengan santun dan lembut, memberi tahu mereka apa-apa yang mereka lalaikan, dan hak-hak kaum muslimin yang belum mereka sampaikan, tidak keluar dari kepemimpinan mereka, menyatukan hati manusia dengan mentaati mereka. (Kitab Syarah Shahih Muslim, Juz I, halaman 144)

Kemudian apabila dia ingin menasehati, maka hendaklah dia menasehati dengan baik dan bukan dengan cara yang kasar, Syaikh Ibnu Katsir dalam kitabnya menjelaskan :

{ اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى } أي: تمرّد وعتا وتَجَهْرم على الله وعصاه،
Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. (Q.S. 20 Thaahaa 43), yaitu membangkang, berlaku sewenang-wenang, dan melampaui batas terhadap Allah serta durhaka kepada-Nya. (Kitab Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Juz V, halaman 294)

{ فَقُوْلَا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى } هذه الآية فيها عبرة عظيمة، وهو أن فرعون في غاية العتو والاستكبار، وموسى صفوة الله من خلقه إذ ذاك، ومع هذا أمر ألا يخاطب فرعون إلا بالملاطفة واللين
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Q.S. 20 Thaahaa 43-44). Ayat ini mengandung pelajaran yang penting, yaitu sekalipun Fir'aun adalah orang yang sangat membangkang dan sangat takabur, sedangkan Musa adalah makhluk pilihan Allah saat itu, Musa tetap diperintahkan agar dalam menyampaikan risalah-Nya kepada Fir'aun memakai bahasa dan tutur kata yang lemah lembut dan sopan santun. (Kitab Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Juz V, halaman 294)

Jangan sampai kita menghinanya, dalam hadits disebutkan :

عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ الْعَدَوِىِّ قَالَ كُنْتُ مَعَ أَبِى بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ ابْنِ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَقَالَ أَبُوْ بِلاَلٍ انْظُرُوْا إِلَى أَمِيْرِنَا يَلْبَسُ ثِيَابَ الْفُسَّاقِ. فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِى اْلأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi berkata : Aku pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir saat ia berkhotbah, ia mengenakan baju tipis lalu Abu Bilal berkata : Lihatlah pemimpin kita mengenakan baju orang-orang fasik. Abu Bakrah berkata : Diam, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : Barang siapa menghina pemimpin Allah di bumi, Allah akan menghinakannya. (H. R. Tirmidzi no. 2388)

Demikian pula diusahakan supaya nasehat tersebut adalah nasehat yang rahasia, yang tidak mengetahui kecuali dia dan penguasa tersebut. dalam hadits disebutkan :

قَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍْ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاَنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ لَهُ
Iyadh bin Ghanm berkata : Wahai Hisyam bin Hakim, sungguh kami mendengar apa yang kamu dengar dan kami melihat apa yang kamu lihat, Tidakkah kamu dengar Rasulullah saw telah bersabda : Barang siapa yang hendak menasihati pemimpin terhadap suatu urusan, maka janganlah menampakkannya terang-terangan, tetapi hendaknya dia meraih tangannya lalu dia menasihatinya berduaan. Jika dia menerima nasihatnya, maka bagimu akan mendapat ganjaran, jika dia tidak menerima, maka dia telah menunaikan apa-apa yang layak bagi sultan tersebut. (H. R. Ahmad no. 15728)

Demikian pula diantara adab seorang rakyat, di dalam memperbaiki keadaan penguasa hendaklah dia berdoa kepada Allah. Kita dianjurkan saling mendoakan antara pemimpin dan yang dipimpin, dalam sebua hadits dijelaskan :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لاَ مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوْا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوْا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
Dari Auf bin Malik dari Rasulullah saw, beliau bersabda : Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka. Beliau ditanya : Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka? Maka beliau bersabda : Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka. (H. R.Muslim no. 4910)

Fudhail bin Iyadh ra berkata : Jikalau aku mempunyai doa yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin. Ia ditanya : Wahai Abu Ali jelaskan maksud ucapan tersebut? Beliau berkata : Apabila doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.

BACA JUGA :

Semua Perbuatan Pasti Dimintai Pertanggungjawaban


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوْقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : Semua hak itu pasti akan dipenuhi pada hari kiamat kelak, hingga kambing bertanduk pun akan dituntut untuk dibalas oleh kambing yang tidak bertanduk. (H. R. Muslim no. 6745)

Allah Benci Kepada Orang Yang Keras Kepala Lagi Suka Bermusuhan


عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ  
Dari Aisyah rah dia berkata, Rasulullah saw bersabda : Orang yang paling Allah benci adalah orang yang keras kepala lagi suka bermusuhan. (Bukhari no. 2457, Muslim no. 6951)

Boleh Bekerjasama Dengan Non Muslim


عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَى خَيْبَرَ الْيَهُودَ عَلَى أَنْ يَعْمَلُوْهَا وَيَزْرَعُوْهَا ، وَلَهُمْ شَطْرُ مَا خَرَجَ مِنْهَ
Dari Ibnu Umar ram bahwa Rasulullah saw memberikan tanah Khaibar kepada orang Yahudi untuk dimanfaatkan dan ditanami tumbuhan dan mereka mendapat separuh dari hasilnya. (Bukhari no.2331)