Kamis, 18 Februari 2021

Cara Memberi Salam Saat Selesai Shalat

 


عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ  السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ.

Dari Ammar bin Yasir ia berkata : Adalah Rasulullah saw memberi salam ke kanan dan ke kiri, sampai kelihatan putih pipi beliau, (dengan ucapan) : Assalamu'alaikum wa rahmatullah, assalamu'alaikum wa rarahmatullah. (H. R. Ibnu Majah no. 969,  Nasa'i no. 1318 dan lainnya)

Jangan Menghina Tuhan Agama Lain

 


Dalam Islam, menghina Tuhan agama lain merupakan suatu hal yang sangat dilarang. Karena dapat menimbulkan kerusakan yang besar. Bukan hanya bagi dirinya sendiri namun juga terhadap Allah swt

Al-Qur’an adalah cerminan akhlak Rasulullah. Salah satu di antara akhlak yang diajarkan Al-Qur’an dan diterapkan oleh Rasulullah adalah mengucapkan kata-kata yang baik dalam berhubungan sosial. Termasuk menghindari mencela agama lain terutama terhadap tuhan mereka ketika berdakwah. Tentu ini menjadi sebuah peringatan bagi kita semua khususnya dengan banyaknya dai-dai muda yang terkadang secara sengaja maupun tidak sengaja menjelekkan agama lain dalam ceramahnya

Tentunya, di era modern ini mencaci agama lain justru menyebabkan citra yang buruk bagi umat Islam. Karena itu, meskipun cacian atas agama lain tersebut sesuai dengan kenyataan, tetaplah tidak diperbolehkan. Karena hal itu, justru berdampak buruk pada citra agama Islam

Dalam Al-Qur'an disebutkan :

وَلاَ تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Q.S. 6 Al An'aam 108)

Dalam penghujung ayat di atas merupakan sebuah peringatan agar umat Islam memasrahkan urusan non-Muslim kepada Allah. Karena hanya Allah lah yang berhak memberikan hidayah kepada makhluknya. Sedangkan, dakwah para Dai hanyalah sebagai lantaran dalam masuknya hidayah ke dalam hati umat.

Syaikh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan :

يقول تعالى ناهي الرسوله صلى الله عليه وسلم والمؤمنين عن سب آلهة المشركين، وإن كان فيه مصلحة، إلا أنه يترتب عليه مفسدة أعظم منها، وهي مقابلة المشركين بسب إله المؤمنين، وهو الله لا إله إلا هو

Allah swt berfirman, melarang Rasul-Nya dan orang-orang mukmin memaki sesembahan orang-orang musyrik, sekalipun dalam makian itu terkandung maslahat, hanya saja akan mengakibatkan mafsadat (kerusakan) yang lebih besar dari pada itu. Kerusakan yang dimaksud adalah balasan makian yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap Tuhan kaum mukmin. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz III, halaman 314)

عن ابن عباس في هذه الآية: قالوا: يا محمد، لتنتهين عن سبك آلهتنا، أو لنهجون ربك، فنهاهم الله أن يسبوا أوثانهم،

Dari Ibnu Abbas sehubungan dengan asbabul nuzul ayat ini. Disebutkan bahwa orang-orang musyrik berkata : Hai Muhammad, berhentilah kamu dari mencaci tuhan-tuhan kami, atau kalau tidak berhenti kami akan balas mencaci maki Tuhanmu. Maka Allah melarang kaum mukmin mencaci berhala-berhala sesembahan kaun musyrik. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz III, halaman 314)

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan :

قال العلماء: حكمها باق في هذه الأمة على كل حال، فمتى كان الكافر في منعة وخيف أن يسب الإسلام أو النبي عليه السلام أو الله عز وجل، فلا يحل لمسلم أيسب صلبانهم ولا دينهم ولا كنائسهم، ولا يتعرض إلى ما يؤدي إلى ذلك، لأنه بمنزلة البعث على المعصية.

Ulama berkata : Hukum larangan mencaci agama lain adalah hukum pasti dan tidak bisa diubah dengan alasan apapun, selama dikhawatirkan kaum non-Muslim mencaci agama Islam atau Nabi saw atau Allah swt, maka selama itulah umat Islam tidak diperbolehkan mencaci agama lain baik itu mencaci salib mereka, agama mereka  ataupun mencaci gereja mereka, serta umat Islam tidak boleh melakukan hal-hal yang menjurus terhadap penghinaan terhadap agama Islam karena hal tersebut terhitung melakukan hal yang berpotensi buruk". (KItab Tafsir Al-Qurthubi, Juz VII, halaman 61)

Secara umum, bila seseorang itu dimaki atau dicaci, maka dia akan membalas caciannya, seperti dicontohkan dalam hadits :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ

Dari Abdullah bin Amru ra dia berkata; Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya termasuk dari dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri,  beliau ditanya: Kenapa hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah? beliau menjawab : Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu orang yang pertama. (H. R. Bukhari no. 5973) 

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa meninggalkan suatu maslahat demi mencegah terjadinya mafsadat (kerusakan) yang jauh lebih parah dari pada maslahat adalah hal yang diperintahkan.

 hal ini juga sesuai dengan kaidah fiqih :

دَرْءُ الْمَفَاسِدُ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

(mencegah timbulnya bahaya itu harus diprioritaskan dibanding mengupayakan adanya manfaat).

Berikut Video yang berkaitan dengan judul :



Shalatlah Kalian Seperti Kalian Melihat Aku Shalat

 


عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُوْنَ ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِيْنَ يَوْمًا وَلَيْلَةً ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِيْمًا رَفِيْقًا ، فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدِ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدِ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ فَأَقِيْمُوْا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوهُمْ - وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لاَ أَحْفَظُهَا - وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِى أُصَلِّى ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Dari Abu Qilabah berkata, telah menceritakan kepada kami Malik, Kami datang menemui Nabi saw, saat itu kami adalah para pemuda yang usianya sebaya. Maka kami tinggal bersama beliau selama dua puluh hari dua puluh malam. Beliau adalah seorang yang sangat penuh kasih dan lembut. Ketika beliau menganggap bahwa kami telah ingin, atau merindukan keluarga kami, beliau bertanya kepada kami tentang orang yang kami tinggalkan. Maka kami pun mengabarkannya kepada beliau. Kemudian beliau bersabda : Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan perintahkan (untuk shalat). Beliau lantas menyebutkan sesuatu yang aku pernah ingat lalu lupa. Beliau mengatakan : Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. Maka jika waktu shalat sudah tiba, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan hendaklah yang menjadi Imam adalah yang paling tua di antara kalian. (H. R. Bukhari no. 631)

Selasa, 09 Februari 2021

Jangan Mendzalimi Habaib

 


Dzalim Secara bahasa artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan secara istilah, dzalim artinya melakukan sesuatu yang keluar dari koridor kebenaran, baik karena kurang atau melebih batas

Syaikh Al-Hafidz Muhammad Abdur Rauf bin Ali Al-Munawi menegaskan dalam kitabnya :

هو لغة وضع الشيء في غير موضعه المختص به بنقص أو زيادة أو عدول عن وقته أو مكانه

Dzalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada posisinya yang tepat baginya, baik karena kurang maupun karena adanya tambahan, baik karena tidak sesuai dari segi waktunya ataupun dari segi tempatnya. (Kitab Faidhul Qadir Syarah Jami'us Shaghir  Juz I, halaman 134)

Larangan dan sekaligus ancaman bagi orang yang berbuat dzalim ini banyak disebutkan dalam Al-Qur'an, di antaranya adalah :

أَلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلٰى الظَّالِمِيْنَ

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang dzalim. (Q.S. 11 Huud 18)

وَنَقُوْلُ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ

Dan Kami katakan kepada orang-orang yang dzalim : Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu. (Q.S. 34 Saba' 42)

إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang aniaya (berbuat dzalim) itu tidak mendapat keberuntungan. (Q.S. 6 Al An'aam 21)

Kita dilarang berbuat dzalim itu kepada siapa saja, kepada sesama muslim, kepada orang kafir bahkan kepada binatangpun kita dilarang berbuat dzalim, dalam hadits disebutkan :

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَالِمًا أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ االلهُ فِى حَاجَتِهِ

Dari Ibnu Syihab, bahwa Salim mengabarinya, bahwasanya Abdullah bin Umar rah mengabarinya, bahwa Rasulullah saw bersabda : Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak mendzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. (H. Bukhari no. 6951)

عَنْ عِدَّةٍ مِنْ أَبْنَاءِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ آبَائِهِمْ دِنْيَةً عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلاَ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari beberapa putera sahabat Rasulullah saw, dari bapak-bapak mereka dari Rasulullah saw, beliau bersabda : Ketahuilah bahwa orang yang mendzalimi orang kafir yang menjalin perjanjian dengan Islam atau mengurangi haknya atau membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu  darinya tanpa perkenan darinya, maka akulah musuhnya di hari Kiamat.  (H. R. Abu Daud no. 3054)

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قال قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوِا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُوْنَهَا حِجَابٌ

Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Takutlah kamu akan doa orang yang didzalimi, sekalipun dia orang kafir karena ia tidak ada hijab (peghalang untuk Allah menerimanya). (H. R. Ahmad no. 12885)

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ غُفِرَ لَكُمْ مَا تَأْتُوْنَ إِلَى الْبَهَائِمِ لَغُفِرَ لَكُمْ كَثِيْرًا

Dari Abu Dardak dari Nabi saw bersabda : Andaikan perbuatan yang kalian lakukan terhadap binatang itu diampuni, maka ketika itu diampuni banyak dosa (H. R Ahmad no. 28248)

Apalagi kalau berbuat dzalim itu dilakukan kepada habaib yang notabenya adalah masih keturunan Nabi saw. Kenapa? karena kita disuruh oleh Nabi saw untuk mencintai anak keturunan beliau.  Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabnya menulis sebuah hadits :

عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَدِّبُوْا أَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ حُبُّ نَبِيِّكُمْ  وَحُبُّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فَإِنَّ حَمَلَةَ الْقُرْآنِ فِي ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ مَعَ أَنْبِيَائِهِ وَأَصْفِيَائِهِ

Dari Sayyidina Ali kr, bahwasanya Nabi saw bersabda : Didiklah anak-anakmu atas tiga hal, yaitu :  Mencintai nabimu, mencintai ahli baitnya dan membaca Al-Qur’an, karena orang mengamalkan Al-Qur’an nanti akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya bersama para nabi dan orang-orang yang suci. (Kitab Al-Fatawa Al-Haditsiyyah, Jus I, halaman 193)

Lalu terhadap orang yang berbuat dzalim, kita dianjurkan untuk menolongnya yaitu dengan jalan mencegah atau menahannya supaya tidak terlanjur berbuat dzalim. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا . فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُوْمًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Dari Anas ra mengatakan, Rasulullah saw bersabda : 'Tolonglah saudaramu baik ia dzalim atau didzalimi. Ada seorang laki-laki bertanya : ya Rasulullah, saya maklum jika ia didzalimi, namun bagaimana saya menolong padahal ia dzalim? Nabi menjawab : Engkau mencegahnya atau menahannya dari kedzaliman, itulah cara menolongnya. (H. R. Bukhari no.6952)

Untuk lebih jelasnya, silahkan di tonton video yang berkaitan dengan tema ini  :



Yang Paling Allah Cintai adalah Masjid-Masjidnya

 


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya , dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya. (H. R. Muslim no. 1560)

Sabtu, 06 Februari 2021

Gunung Berapi Banyak Mudharatnya ?

 


Akhir-akhir ini di Indonesia banyak mengalami bencana, mulai pesawat jatuh, banjir, longsong, gempa, sampai gunung meletus. semua ini pasti Allah punya tujuan yang kadang kala kita belum bahkan tidak mau tau hikmahnya.

Indonesia punya sekitar 127 gunung berapi yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Hampir setengah di antaranya berstatus aktif. Saat ini ada beberapa gunung meletus di berbagai daerah, baik itu mengeluarkan lahar panas maupun mengeluarkan lahar dingin, yang semua ini menjadikan manusia terdampak karenanya, seperti mengungsi, banyak harta benda yang musnah dan lain sebagainya, seakan-akan keberadaan gunung merapi ini tidak ada gunanya bahkan hanya membuat bencana saja.

Padahal Allah menjadikan sesuatu itu pasti ada manfaafnya, hanya kita saja yang belum faham. Dalam Al-Qur'an disebutkan :

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَىَ جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. 3 Ali 'Imran 191)

Lalu gunung-gunung yang diciptakan Allah itu punya beberapa manfaat, di antaranya disebutkan dalam Al-Qur'an :

وَأَلْقَى فِي اْلأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيْدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلاً لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (Q.S. 16 An-Nahl 15)

وَجَعَلْنَا فِي الْاَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيْدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلاً لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (Q.S. 21 Al Anbiyaa' 31)

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (Q.S. 79 An Naazi'aat 32)

Syaikh Ibnu Katsir menjelaskan dalkam kitab tafsirnya

عن قتادة، سمعت الحسن يقول: لما خُلقت الأرض كانت تميد، فقالوا ما هذه بمقرّة على ظهرها أحدًا فأصبحوا وقد خُلقت الجبال، لم (5) تدر الملائكة مِمّ خلقت الجبال

Dari Qatadah, ia pernah mendengar Al-Hasan mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan bumi, bumi itu terus berguncang, maka mereka (para malaikat) berkata : Bumi ini tidak layak menjadi tempat bagi seorang manusiapun. Kemudian pada keesokan harinya gunung-gunung itu diciptakan. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz IV, halaman 563(.

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا ( ) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak? (Q.S. 78 An Naba' 6-7)

Syaikh Ibnu Katsir menjelaskan dalkam kitab tafsirnya :

أي: ممهدة للخلائق ذَلُولا لهم، قارّةً ساكنة ثابتة ، جعلها لها أوتادًا أرساها بها وثبتها وقرّرها حتى سكنت ولم تضطرب بمن عليها.

Maksudnya, telah dihamparkan-Nya dan dijadikan-Nya layak dihuni makhluk-Nya, lagi tetap dan kokok. Dia menjadikan pada bumi pasak-pasak untuk menstabilkan dan mengokohkan serta memantapkannya sehingga bumi menjadi tenang dan tidak mengguncangkan orang-orang dan makhluk yang ada di atasnya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz VIII, halaman 302(.

Para ahli geologi telah lama meneliti fungsi gunung sebagai pondasi penguat permukaan bumi.  Di antaranya adalah Profesor Emeritus Frank Press dari Washington, Amerika Serikat. Beliau adalah salah seorang Geolog yang mengkaji tentang gunung sebagai sebagai pasak bumi.

Mengapa gunung diistilahkan sebagai pasak? Menurut Prof Press, sebenarnya, kerak bumi itu mengapung di atas cairan. Lapisan terluar bumi membentang 5 km dari permukaan. Kedalaman lapisan gunung itu menghujam sejauh 35 km. Dengan demikian, pegunungan adalah semacam pasak yang didorong ke dalam bumi. Jadi gunung inilah yang berfungsi sebagai pasak untuk menstabilkan kerak bumi.

Ilmu bumi moderen telah membuktikan bahwa gunung-gunung memiliki akar di dalam tanah dan akar ini dapat mencapai kedalaman yang berlipat dari ketinggian mereka di atas permukaan tanah. Jadi, kata yang paling tepat untuk menggambarkan gunung-gunung berdasarkan informasi ini adalah kata pasak, karena bagian terbesar dari sebuah pasak tersembunyi di dalam tanah.

Di sisi lain, letusan gunung berapi juga ternyata punya dampak positif bagi kelestarian bumi. Di antaranya adalah menyuburkan tanah. Tanah yang subur itu dihasilkan dari pencampuran  material vulkanik dengan tanah. Tanah yang tercampur materi vulkanik menyimpan banyak nutrisi yang diperlukan tumbuhan, dan bermanfaat untuk bidang pertanian. Juga akan menghasilkan bahan mentah seperti sulfur, emas, dan tembaga ini semua berkat adanya aktivitas vulkanik gunung berapi. Beberapa material yang biasa kita gunakan untuk bahan bangunan juga berasal dari gunung berapi, seperti pasir dan batu. Tentunya masih banyak lagi dampak positifnya.

Berikut video yang berkaitan dengan judul :



Saksi yang Baik

 


عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ الشُّهَدَاءِ الَّذِى يَأْتِى بِشَهَادَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسْأَلَهَا

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, bahwa Nabi saw bersabda : Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai saksi yang paling baik? Yaitu orang yang datang memberi kesaksian sebelum diminta (untuk bersaksi). (H. R. Muslim no. 4591)