Saturday, June 15, 2019

Anjuran Bekerja Keras


عَنْ أَبِى عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ
Dari Abu Ubaid budaknya Abdurrahman bin Auf bahwa dia mendengar Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda : Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya dari pada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya. (H. R. Bukhari no.2074).

Allah Merahmati Orang Yang Mempermudah Dalam Jual Beli


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى
Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah saw bersabda : Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli dan juga orang yang meminta haknya (menagih hutang).  (H. R. Bukhari no.2076)

Manfaat Dan Mudharat Reuni




Reuni adalah upaya mempertemukan kembali yang dulu pernah bersama, baik dalam suatu sekolah, kampus maupun tempat bekerja, upaya mencari eksistensi diri yang mulai pupus dari memori karena dimakan usia.

Ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil dengan adaanya reuniini,di antaranya adalah :

Reuni, selain untuk memutar memori lama di otak, juga untuk memperbaiki fungsi bagian otak yang mengurus kesenangan, memutar kembali memori adalah suatu upaya mencegah berbagai penyakit.

Kita akan bertemu kembali dengan teman-teman lama semasa sekolah. Hubungan dengan teman akrab semasa sekolah mungkin sempat terputus karena hilang komunikasi atau tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Reuni ini adalah wadah untuk merekatkan kembali persahabatan yang sempat putus.

Reuni juga ajang untuk silaturrahim, yang mana silaturrahim ini sangat dianjurkan oleh agama. Dalam sebuah hadits dijelaskan :

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa ingin lapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung hubungan kekerabatan atau silaturrahim . (H. R. Bukhari no. 5987 dan Muslim no. 6688)

Disamping itu reuni mempunyai beberapa kemudharatan di antaranya adalah :

Ajang pamer dan riya, menyebarkan fitnah, ghibah, yang semua itu sangat dilarang dalam agama, sebagaimana di jelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits di bawah ini :

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, (Q.S. 2 Al Baqarah 191)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَارْتَفَعَتْ رِيْحُ جِيْفَةٍ مُنْتِنَةٍ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُوْنَ مَا هَذِهِ الرِّيْحُ هَذِهِ رِيْحُ الَّذِيْنَ يَغْتَابُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Kami pernah bersama Nabi saw lantas ada bau busuk yang melambung ke angkasa . Lalu Nabi saw bersabda : Tahukah kamu bau busuk apakah ini? Ini adalah bau busuk orang-orang yang ghibah (mengumpat) orang-orang mukmin. (H. R. Ahmad no. 15164)

Dan juga tidak kalah mudharatnya yaitu bila ketemu mantan pacar sehingga menimbulkan debar-debar asmara yang sudah berlalu puluhan tahun lalu. Ini bisa menimbulkan selingkuh hati atau jalan menuju perselingkuhan dan perzinaan. Yang mana hal ini juga dilarang dalam agama, seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits dibawah ini :

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. 17 Al Israa' 32)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw, beliau bersabda : Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahromnya. Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, Wahai Rasulullah, isteriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini. Beliau bersabda : Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama isterimu. (H. R. Bukhari no. 5233)

Supaya acara reuni itu bisa membawa manfaat dan tidak menimbulkan kemudharatan maka kita lakukan bebera hal di bawah ini :

Kita hadir dalam reuni sebagai teman yang sederajat, seperti waktu kita masih bersama-sama dulu. Peserta reuni harus memiliki jiwa besar, toleran dan mau menahan diri. Bersedia menanggalkan semua atribut dalam dirinya seperti, jabatan, status sosial, maupun kekayaan

Jangan membuat teman lain rendah diri atau sakit hati, sebaiknya kita tidak menceritakan keberhasilan bisnis, jabatan, status sosial, kekayaan yang kita dimiliki, kehebatan anak atau istri kita, yang dapat menimbulkan kesan menyombongkan diri atau pamer keberhasilan.

Jangan cemburu, jika teman pria / wanita yang dulu pernah kita taksir tampak lebih dekat dan akrab dengan teman yang lain. Atau jangan cemburu lagi jika terungkap kisah cinta teman pria / wanita incaran kita, justru pada teman kita sendiri. Jadikan itu lelucon masa lalu saja jangan menjadikan suasana menjadi kaku gara-gara kisah asmara masa lalu. Misalnya, kita harus menjauhi mantan pacar yang kebetulan menikah dengan teman sekolah kita. Semua sudah berlalu, apalagi sekarang kita sudah memiliki keluarga masing-masing. Kisah asmara masa lalu biarlah menjadi kenangan masing-masing yang tidak perlu dibicarakan lagi

Friday, June 14, 2019

Manfaat Silaturrahim


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik ra berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Siapa yang ingin diluaskan rezeqinya atau meninggalkan nama sebagai orang baik setelah kematiannya hendaklah dia menyambung silaturrahim. (H. R. Bukhari no.2067)

Dalam Diri Manusia Terdapat Segumpal Daging


عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. 
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra dia berkata, Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati. (H. R. Bukhori no. 52 dan Muslim no. 4178 )

Urutan Yang Berhak Jadi Wali Nikah




Keberadaan wali merupakan satu dari rukun nikah. Wali sendiri ialah sebutan untuk pihak lelaki dalam keluarga atau lainnya yang bertugas mengawasi keadaan atau kondisi seorang perempuan, khususnya dalam bab nikah

Yang dianggap sah untuk menjadi wali mempelai perempuan adalah menurut susunan di bawah ini.

Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi dalam kitabnya menegaskan :

(وَأَوْلَى الْوُلَاةِ) أَيْ أَحَقُّ الْأَوْلِيَاءِ بِالتَّزْوِيْجِ : (اَلْأَبُ ثُمَّ أَبُو اْلأَبِ) ثُمَّ أَبُوْهُ وَهَكَذَا. وَيُقَدَّمُ الْأَقْرَبُ مِنَ الْأَجْدَادِ عَلَى الْأَبْعَدِ. (ثُمَّ الْأَخُ لِلْأَبِ وَالْأُمِّ) وَلَوْ عَبَّرَ بِالشَّقِيْقِ لَكَانَ أَحْصَرَ. (ثُمَّ الْأَخُ  لِلْأَبِ ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ وَالْأًمِّ) وَإِنْ سَفُلَ. (ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ لِلْأَبِ) وَإِنْ سَفُلَ. (ثُمَّ الْعَمُّ) الشَّقِيْقُ. ثُمَّ الْعَمُّ لِلْأَبِ. (ثُمَّ ابْنُهُ) أَيْ اِبْنُ كُلٍّ مِنْهُمَا وَإِنْ سَفُلَ (عَلَى هَذَا التَّرْتِيْبِ). فَيُقَدَّمُ ابْنُ الْعَمِّ الشَّقِيْقِ عَلَى ابْنِ الْعَمِّ لِلْأَبِ  ....
(ثُمَّ الْحَاكِمُ) يُزَوِّجُ عِنْدَ فَقْدِ الْأَوْلِيَاءِ مِنَ النَّسَبِ وَالْوَلآءِ
Dan seutama-utama wali, artinya yang lebih berhak dari beberapa wali dalam menikahkan adalah :

1. Ayah
2. Kakek (ayahnya ayah)
3. Ayahnya kakek dan seterusnya

Dalam hal ini hendaknya didahulukan wali yang lebih dekat dari beberapa kakek atas yang lebih jauh

4. Saudara laki-laki yang seayah seibu. Dan pengarang membuat ibarat dengan kata syaqiq adalah lebih ringkas
5. Saudara laki-laki seayah saja
6. Anak laki-lakinya saudara laki-laki yang seayah seibu, terus ke bawah
7. Anak laki-lakinya saudara laki-laki seayah saja, terus ke bawah
8. Paman yang seayah seibu
9. Paman yang seayah saja
10. Anak laki-lakinya paman, artinya anak laki-laki dari masing-masing keduanya terus ke bawah menurut tertib ini.

Maka hendaknya didahulukan si anak laki-lakinya paman yang seayah seibu atas anak laki-lakinya paman yang seayah saja ....

Kemudian wali hakim, maka bolek menikahkan ketika memang sudah tidak ada wali nasab (keturunan) dan wali wala’ (kekerabatan karena memerdekakan budak). (Kitab Fathul qarib, halaman 44)

Thursday, June 13, 2019

Memperlambat Adzan Dan Mempercepat Iqamah


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ يَا بِلاَلُ إِذَا أَذَّنْتَ فَتَرَسَّلْ فِى أَذَانِكَ وَإِذَا أَقَمْتَ فَاحْدُرْ وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ اْلآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ وَالشَّارِبُ مِنْ شُرْبِهِ وَالْمُعْتَصِرُ إِذَا دَخَلَ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ وَلاَ تَقُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْنِى
Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah saw berkata kepada Bilal : Wahai Bilal, jika engkau adzan maka lambatkanlah adzanmu, dan jika engkau iqamat maka percepatlah. Jadikanlah jarak antara adzan dan iqamatmu sekadar dengan seorang yang makan hingga selesai makannya, orang yang minum hingga selesai minummnya, orang yang buang hajat dapat menyelesaikan hajatnya, dan janganlah berdiri hingga kalian melihatku. (H. R. Tirmidzi no. 195, Baihaqi no. 2090 dan lainnya)