Sunday, March 10, 2019

Bolehkah Sedekah Ditampakkan atau Secara Terang-Terangan




Tidak dapat dipungkiri bahwa sedekah secara sembunyi-sembunyi adalah lebih utama, namun Allah tak pernah melarang hamba-Nya yang bersedekah secara terang-terangan, hal ini dinyatakan Allah dalam beberapa ayat dalam Al-Qur'an, di antaranya adalah :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَآءِ فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِّنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. 2 Al Baqarah 271)

Syaikh Ibnu Katsir dalam kitabnya menegaskan :

فيه دلالة على أن إسرار الصدقة أفضل من إظهارها؛ لأنه أبعد عن الرياء، إلا أن يترتب على الإظهار مصلحة راجحة، من اقتداء الناس به، فيكون أفضل من هذه الحيثية
Di dalam ayat ini terkandung makna yang menunjukkan bahwa menyembunyikan sedekah (melakukan dengan cara sembunyi-sembunyi) lebih utama dari pada menampakkannya, karena hal itu lebih jauh dari riya' (pamer). Terkecuali jika keadaan menuntut seseorang untuk menampakkan sedekahnya karena ada maslahat yang lebih penting, misalnya agar tindakannya diikuti oleh orang lain, bila dipandang dari sudut ini, cara demikian itu lebih utama. (KItab Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Juz I, halaman 701)

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. 2 Al Baqarah 274)

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَؤُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (Q.S. 13 Ar Ra'd 22)

Jadi apabila seorang muslim menginginkan agar amal baiknya tersebut diikuti dan dicontoh orang lain, maka ia boleh menampakkan amal tersebut dengan syarat ia sungguh-sungguh menundukkan jiwanya, karena syetan pasti akan berusaha memasukkan riya' ke dalam hatinya.

Orang Haidh dan Junub Dilarang Masuk Masjid


عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا تَقُوُلُ جَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُجُوْهُ بُيُوْتِ أَصْحَابِهِ شَارِعَةٌ فِى الْمَسْجِدِ فَقَالَ وَجِّهُوُا هَذِهِ الْبُيُوْتَ عَنِ الْمَسْجِدِ. ثُمَّ دَخَلَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَصْنَعِ الْقَوْمُ شَيْئًا رَجَاءَ أَنْ تَنْزِلَ فِيْهِمْ رُخْصَةٌ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ بَعْدُ فَقَالَ وَجِّهُوْا هَذِهِ الْبُيُوَتَ عَنِ الْمَسْجِدِ فَإِنِّى لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ.

Dari Aisyah rah berkata, Rasulullah saw datang, sementara pintu-pintu rumah sahabat beliau terbuka dan berhubungan dengan masjid. Maka beliau bersabda : Pindahkanlah pintu-pintu rumah kalian untuk tidak menghadap ke masjid. Lalu Nabi saw masuk ke masjid, dan para sahabat belum melakukan apa-apa dengan harapan ada wahyu turun yang memberi keringanan kepada mereka. Maka beliau keluar menemui mereka seraya bersabda : Pindahkanlah pintu-pintu rumah kalian untuk tidak menghadap dan berhubungan dengan masjid, karena saya tidak menghalalkan masuk Masjid untuk orang yang sedang haidh dan juga orang yang sedang junub. (H. R. Abu Daud no. 237, Ibnu Khuzaimah no. 136)

Mayit Mendengar Suara Sandal Orang Yang Mengantarkannya


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Bahwa sesungguhnya mayit itu mendengar suara sandal-sandal orang yang mengantarkanya ke kuburan apabila mereka beranjak pergi meninggalkan kuburan. (H. R. Ibnu Hibban no. 3183, Ahmad no. 9993, dan lainnya)

Monday, February 18, 2019

Hukum Memakai Sandal (Alas Kaki) di Area Pemakaman




Ada orang yang melarang memakai sandal (alas kaki) ketika kita memasuki area  pemakaman, hal ini berdasarkan hadits :

عَنْ بَشِيرٍ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ اسْمُهُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ زَحْمُ بْنُ مَعْبَدٍ فَهَاجَرَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا اسْمُكَ. قَالَ زَحْمٌ. قَالَ بَلْ أَنْتَ بَشِيرٌ. قَالَ بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيْرًا. ثَلاَثًا ثُمَّ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا. وَحَانَتْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظْرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِى فِى الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ. فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا.
Dari Basyir mantan budak Rasulullah saw yang pada masa jahiliyah bernama Zahm bin Ma'bad, kemudian ia berhijrah kepada Rasulullah saw, lalu beliau bertanya : Siapakah namamu? Ia menjawab : Zahm. Beliau berkata : Bahkan, engkau adalah Basyir. Ia berkata : Ketika aku berjalan bersama Rasulullah saw, beliau melewati kuburan orang-orang musyrik, lalu beliau baersabda : Sungguh mereka telah tertinggal untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau melalui kuburan orang-orang muslim, kemudian beliau bersabda : Sungguh mereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Dan beliau melihat seseorang yang berjalan diantara kuburan mengenakan dua sandal. Kemudian beliau bersabda : Wahai pemilik dua sandal, lepaskan dua sandalmu, kemudian orang tersebut melihat dan ia kenal dengan Rasulullah saw. Maka ia melepasnya dan meletakkannya. (H. R. Abu Daud no. 3232, Ahmad no. 21332 dan lainnya)

Tapi ada pula yang mengatakan tidak mengapa memakai sandal (alas kaki) ketika kita memasuki area  pemakaman, hal ini berdasarkan hadits :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ  
Dari Anas bin Malik ra bahwasabya menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya seorang hamba apabila telah meninggal dunia ketika diletakkan di dalam kuburnya dan orang-orang yang mengantarkannya telah pergi, sungguh hamba tadi mendengar suara sandal-sandal mereka. (H. R. Bukhari no. 1374, Muslim no. 7397)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Bahwa sesungguhnya mayit itu mendengar suara sandal-sandal orang yang mengantarkanya ke kuburan apabila mereka beranjak pergi meninggalkan kuburan. (H. R. Ibnu Hibban no. 3183, Ahmad no. 9993, dan lainnya)


Imam Nawawi dalam kitabnya menegaskan :

(فرع) المشهور في مذهبنا أنه لا يكره المشى في المقابر بالنعلين والخفين ونحوهما ممن صرح بذلك من اصحابنا الخطابى والعبد رى وآخرون ونقله العبدرى عن مذهبنا ومذهب اكثر العلماء قال احمد بن حنبل رحمه الله يكره وقال صاحب الحاوى يخلع نعليه لحديث بشير بن معبد الصحابي المعروف بابن الخصاصية قال " بينهما انا أماشى رسول الله صلي الله عليه وسلم نظر فإذا رجل يمشي في القبور عليه نعلان فقال يا صاحب السبتتين ويحك الق سبتتيك فنظر الرجل فلما عرف رسول الله صلي الله عليه وسلم خلعهما " رواه أبو داود والنسائي باسناد حسن * واحتج أصحابنا بحديث أنس رضى الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال " العبد إذا وضع في قبره وتولي وذهب أصحابه حتى إنه ليسمع قرع نعالهم اتاه ملكان فاقعداه إلي آخر الحديث " رواه البخاري ومسلم
(Suatu cabang) Yang masyhur dalam madhzab kami (madzhab Syafi’i) yaitu tidaklah makruh memakai sandal atau sepatu ketika memasuki area pemakaman. Yang menegaskan seperti ini adalah Imam Al-Khattabi dari ulama Syafi’iyah, juga disampaikan oleh Al-Abdari dan ulama Syafi’i lainnya. Hal ini dinukil oleh Al-Abdari dari pendapat Syafi’iyah dan mayoritas atau kebanyakan ulama. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa memakai sandal ketika itu dimakruhkan. Penulis kitab Al-Hawi mengatakan bahwa sandal mesti dilepas ketika masuk areal pemakaman mengingat hadits dari Basyir bin Ma’bad -sahabat yang telah ma’ruf dengan nama Ibnul Khasasiyah-, ia berkata : Pada suatu hari saya berjalan bersama Rasulullah saw, tiba-tiba beliau melihat orang yang berjalan di areal pemakaman dalam keadaan memakai sandal, maka beliau menegurnya : Wahai orang yang memakai sandal, celaka engkau, lepaskan sandalmu. Orang tersebut lantas melongok dan ketika ia tahu bahwa yang menegur adalah Rasulullah saw, ia mencopot sandalnya. Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan An-Nasai dengan sanad yang hasan. Sedangkan dalil bolehnya dari madzhab Syafi’i adalah hadits dari Anas ra, dari Nabi saw bersabda : Sesungguhnya seorang hamba apabila telah meninggal dunia ketika diletakkan di dalam kuburnya dan orang-orang yang mengantarkannya telah pergi, sungguh hamba tadi mendengar suara sandal-sandal mereka, lalu dua malaikat akan mendatanginya dan akan duduk di sampingnya. Kemudian disebutkan hingga akhir hadits, diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim. (Kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz V, halaman 312)

(وأجابوا) عن الحديث الاول بجوابين (أحدهما) وبه أجاب الخطابي انه يشبه انه كرههما المعنى فيهما لان النعال السبتية - بكسر السين - هي المدبوغة بالقرظ وهى لباس أهل الترفه والتنعم فنهي عنهما لما فيهما من الخيلاء فاحب صلي الله عليه وسلم أن يكون دخوله المقابر علي زي التواضع ولباس أهل الخشوع. (والثانى) لعله كان فيهما نجاسة قالوا وحملنا علي تأويله الجمع بين الحديثين
 Ulama Syafi’iyah untuk menyikapi hadits yang melarang yaitu hadits yang pertama memberikan dua jawaban : Pertamana Al-Khattabi mengatakan bahwa itu cuma tidak disukai oleh Nabi saw  karena sandal tersebut disamak dan sandal seperti itu digunakan oleh orang yang biasa bergaya dengan nikmat yang diberi. Nabi saw  melarangnya karena di dalamnya ada sifat sombong. Sedangkan beliau sangat suka jika seseorang memasuki areal pemakaman dengan sikap tawadhu' dan khusyu’. Kedua Boleh jadi di sandal tersebut terdapat najis . Dipahami demikian karena kompromi antara dua hadits yang ada. (Kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz V, halaman 313)

Jadi dapat disimpulkan berdasarkan kompromi dua dalil dan inilah yang jadi pegangan madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama, memasuki areal pemakaman dengan sandal (alas kaki) adalah tidaklah terlarang.


BACA JUGA :


Mayat Dalam Kubur Dapat Mendengarkan Sandal Pengantarnya


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ  
Dari Anas bin Malik ra bahwasabya menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya seorang hamba apabila telah meninggal dunia ketika diletakkan di dalam kuburnya dan orang-orang yang mengantarkannya telah pergi, sungguh hamba tadi mendengar suara sandal-sandal mereka. (H. R. Bukhari no. 1374, Muslim no. 7397)

Tidak Mencampur Pemakaman Orang Islam Dengan Non Islam


عَنْ بَشِيرٍ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ اسْمُهُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ زَحْمُ بْنُ مَعْبَدٍ فَهَاجَرَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا اسْمُكَ. قَالَ زَحْمٌ. قَالَ بَلْ أَنْتَ بَشِيرٌ. قَالَ بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيْرًا. ثَلاَثًا ثُمَّ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا. وَحَانَتْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظْرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِى فِى الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ. فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا.
Dari Basyir mantan budak Rasulullah saw yang pada masa jahiliyah bernama Zahm bin Ma'bad, kemudian ia berhijrah kepada Rasulullah saw, lalu beliau bertanya : Siapakah namamu? Ia menjawab : Zahm. Beliau berkata : Bahkan, engkau adalah Basyir. Ia berkata : Ketika aku berjalan bersama Rasulullah saw, beliau melewati kuburan orang-orang musyrik, lalu beliau baersabda : Sungguh mereka telah tertinggal untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau melalui kuburan orang-orang muslim, kemudian beliau bersabda : Sungguh mereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Dan beliau melihat seseorang yang berjalan diantara kuburan mengenakan dua sandal. Kemudian beliau bersabda : Wahai pemilik dua sandal, lepaskan dua sandalmu, kemudian orang tersebut melihat dan ia kenal dengan Rasulullah saw. Maka ia melepasnya dan meletakkannya. (H. R. Abu Daud no. 3232, Ahmad no. 21332 dan lainnya)

Bolehkah Makam Islam Dicampur Dengan Makam Non Islam




Selayaknya antara pemakaman Islam dengan pemakaman non Islam dipisahkan, tidak dicampur dalam satu area. Dalam hadits disebutkan :

عَنْ بَشِيرٍ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ اسْمُهُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ زَحْمُ بْنُ مَعْبَدٍ فَهَاجَرَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا اسْمُكَ. قَالَ زَحْمٌ. قَالَ بَلْ أَنْتَ بَشِيرٌ. قَالَ بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيْرًا. ثَلاَثًا ثُمَّ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلاَءِ خَيْرًا كَثِيرًا. وَحَانَتْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظْرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِى فِى الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ. فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا.
Dari Basyir mantan budak Rasulullah saw yang pada masa jahiliyah bernama Zahm bin Ma'bad, kemudian ia berhijrah kepada Rasulullah saw, lalu beliau bertanya : Siapakah namamu? Ia menjawab : Zahm. Beliau berkata : Bahkan, engkau adalah Basyir. Ia berkata : Ketika aku berjalan bersama Rasulullah saw, beliau melewati kuburan orang-orang musyrik, lalu beliau baersabda : Sungguh mereka telah tertinggal untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau melalui kuburan orang-orang muslim, kemudian beliau bersabda : Sungguh mereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Dan beliau melihat seseorang yang berjalan diantara kuburan mengenakan dua sandal. Kemudian beliau bersabda : Wahai pemilik dua sandal, lepaskan dua sandalmu, kemudian orang tersebut melihat dan ia kenal dengan Rasulullah saw. Maka ia melepasnya dan meletakkannya. (H. R. Abu Daud no. 3232, Ahmad no. 21332 dan lainnya)

Imam Nawawi dalam kitabnya menegaskan :

اتفق اصحابنا رحمهم الله علي انه لا يدفن مسلم في مقبرة كفار ولا كافر في مقبرة مسلمين
Ulama madzhab kami (syafi’iyah) – rahimahumullah – sepakat bahwa orang islam tidak boleh dimakamkan di kuburan orang kafir, dan juga orang kafir tidak boleh dimakamkan di kuburan kaum muslimin. (Kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz V, halaman 285)

Kementerian Waqaf dan Urusan Keislaman Kuwait dalam Ensiklopedi Fiqih menjelaskan :

اتّفق الفقهاء على أنّه يحرم دفن مسلمٍ في مقبرة الكفّار وعكسه إلاّ لضرورةٍ.
Ulama fiqih sepakat, haram memakamkan orang muslim di kuburan orang kafir dan sebaliknya, kecuali karena darurat. (Kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah,  Juz XXII, halaman 12)

Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusia dalam kitabnya menegaskan :

لِأَنَّ عَمَلَ أَهْلِ اْلإِسْلَامِ مِنْ عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا يُدْفَنَ مُسْلِمٌ مَعَ مُشْرِكٍ
Karena sesungguhnya kaum muslimin sejak zaman Rasulullah saw  mereka tidak memakamkan orang muslim bersama orang musyrik.  (Kitab Al-Muhalla, Juz V, halaman 142)

فَصَحَّ بِهَذَا تَفْرِيْقُ قُبُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ عَنْ قُبُوْرِ الْمُشْرِكِيْنَ
Berdasarkan hadis ini, sikap yang benar adalah memisahkan kuburan kaum muslimin dengan kuburan orang musyrik. (Kitab Al-Muhalla, Juz V, halaman 142)

Sebagai kesimpulan bahwa berdasarkan hadis di atas, ulama sepakat bahwa pemakaman kaum muslimin dan non-muslim harus dipisahkan. Kecuali jika dalam kondisi darurat. Bahkan banyak diantara mereka yang menyatakan, haram menggabungkan pemakaman muslim dengan non-muslim.

BACA JUGA :