Monday, February 24, 2020

Melepas Ikatan Pada Jenazah Ketika Dimakamkan




Dalam hadits disebutkan :

عَنْ مَعْقِلُ بْنِ يَسَارٍ  لَمَّا وَضَعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُعَيْمَ بْنَ مَسْعُوْدٍ فِى الْقَبْرِ نَزَعَ الْأَخِلَّةَ بِفِيْهِ
Dari Ma’qil bin yasar, ketika Rasulullah saw meletakkan jenazah Nu’aim bin Mas’ud di dalam kubur, beliau melepas ikatannya dengan mulutnya. (H. R. Baihaqi no. 6961).

Imam Syihabuddin Al-Qalyubi Al-Mishri dan Imam Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi Al-Mishri  dalam kitabnya menegaskan :

( نُزِعَ الشِّدَادُ ) أَيْ شِدَادُ اللَّفَائِفِ فَقَطْ تَفَاؤُلًا بِانْحِلَالِ الشِّدَّةِ عَنْهُ ، وَقِيْلَ : جَمِيْعُ مَا فِيْهِ تَعَقُّدٌ بِدَلِيْلِ قَوْلِهِمْ لِأَنَّهُ يُكْرَهُ أَنْ يَكُوْنَ مَعَهُ فِي الْقَبْرِ شَيْءٌ مَعْقُوْدٌ
(Saat diletakkan dalam kubur ikatannya dilepas) artinya tali-tali pengikatnya saja/bukan kain kafannya karena unsur tafaa-ul diharapkan dengan dilepasnya ikatan kafan, bencana yang ada pada jenazah juga terlepas. Dikatakan “Dimakruhkan membiarkan sesuatu yang masih terikat ada pada jenazah dalam kuburnya. (Kitab Hasyiata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Syarh Al-Mahalli 'ala Minhaj Ath-Thalibin, Juz IV, halaman 354)

Imam Ramli dalam kitabnya menegaskan :

( فَإِذَا وُضِعَ ) الْمَيِّتُ ( فِي قَبْرِهِ نُزِعَ الشِّدَادُ ) عَنْهُ تَفَاؤُلًا بِحَلِّ الشَّدَائِدِ عَنْهُ ، وَلِأَنَّهُ يُكْرَهُ أَنْ يَكُوْنَ مَعَهُ فِي الْقَبْرِ شَيْءٌ مَعْقُوْدٌ وَسَوَاءٌ فِي جَمِيْعِ ذَلِكَ الصَّغِيْرُ وَالْكَبِيْرُ
Bila jenazah sudah diletakkan di kubur, maka dilepaslah segenap ikatan dari tubuhnya berharap nasib baik yang membebaskannya dari kesulitan di alam kubur. Dan sesungguhnya, makruh hukumnya bila mana ada sesuatu yang mengikat bagian tubuh jenazah baik jenazah anak-anak maupun jenazah dewasa. (Kitab Nihayah Al-Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj, Juz VIII, halaman 127)

لَا يُقَالُ : الْعِلَّةُ مُنْتَفِيَةٌ فِي حَقِّ الصَّغِيرِْ لِأَنَّا نَقُوْلُ التَّفَاؤُلُ بِزِيَادَةِ الرَّاحَةِ لَهُ بَعْدُ فَنَزَلَ مَا انْتَفَى عَنْهُ مِنْ عَدَمِ الرَّاحَةِ مَنْزِلَةَ رَفْعِ الشَّدَّةِ
Tidak bisa dikatakan bahwa illat melepas tali pengikat jenazah sudah tidak berlaku pada jenazah anak kecil mengingat ia belum punya dosa yang menyusahkannya di alam kubur. Pasalnya, kita bisa berkata bahwa “berharap nasib baik” dimaknai sebagai tambahan kebahagiaan bagi jenazah si kecil, satu tingkat di atas pembebasan dari kesulitan kubur. Karena, illat tiada kebahagiaan yang hilang dari jenazah itu, menempati pembebasannya dari kesulitan. (Kitab Nihayah Al-Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj, Juz VIII, halaman 129)

ini juga berlaku untuk orang-orang alim atau suci tanpa dosa, untuk menambah hiburan-hiburan yang dapat membahagiakan dan meramaikan di alam kuburnya.

Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya menegaskan :

يندب شد سادس على صدر المرأة فوق الأكفان ليجمعها عن انتشارها باضطراب ثديها عند الحمل ويحل عنها في القبر كبقية الشدادات
Disunahkan ikatan ke enam dibentangkan didada wanita diatas kain kafan agar tetap wutuh dan tidak berserakan dengan goncangan dua payudaranya saat diusung, dan dilepas saat di kubur sebagaimana ikatan-ikatan lainnya. (Kitab Nihayatuz Zain fi Irsyadi Al-Mubtadi'ian, Juz I, halaman 152)

Batasan Harta Yang Diwasiatkan


عَنْ سَعْدٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُوْدُنِى وَأَنَا مَرِيْضٌ بِمَكَّةَ ، فَقُلْتُ لِى مَالٌ أُوصِى بِمَالِى كُلِّهِ قَالَ « لاَ » . قُلْتُ فَالشَّطْرُ قَالَ « لاَ » . قُلْتُ فَالثُّلُثُ قَالَ « الثُّلُثُ ، وَالثُّلُثُ كَثِيْرٌ ، أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً ، يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ فِى أَيْدِيْهِمْ ، وَمَهْمَا أَنْفَقْتَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ حَتَّى اللُّقْمَةَ تَرْفَعُهَا فِى فِى امْرَأَتِكَ ، وَلَعَلَّ اللهُ يَرْفَعُكَ ، يَنْتَفِعُ بِكَ نَاسٌ وَيُضَرُّ بِكَ آخَرُوْنَ
Dari Sa'd ra ia berkata, Nabi saw pernah mengunjungiku ketika aku jatuh sakit di Makkah. Kukatakan pada beliau : Sesungguhnya aku memiliki harta. Haruskah aku mewasiatkan seluruhnya? Beliau menjawab : Tidak. Aku bertanya lagi, Ataukah setengah darinya? Beliau menjawab : Tidak. Aku bertanya lagi :  Ataukah sepertiga darinya?  Beliau menjawab : Ya, sepertiga. Namun sepertiga adalah sesuatu yang banyak. Lebih baik bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan mengharap-harap apa yang ada di tangan manusia. Dan seagala yang kamu infakkan, maka hal itu adalah sedekah bagimu, bahkan termasuk sesuap makanan yang kamu suapkan pada bibir isterimu. Dan semoga Allah mengangkat derajatmu sehingga banyak orang mengambil manfaat darimu dan yang lain mendapat mudharat.  (H. R. Bukhari no.5354)

Waktu Badan Nabi Gemuk, Beliau Shalat Sunnah Dengan Duduk


عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُورًا. فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ ، فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ
Dari Aisyah rah bahwa Nabi saw melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata : Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau menjawab : Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur? Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak rukuk maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku. (H. R.Bukhari no. 4837)

Siapa Yang Tidak Menyukai Kebijakan Pemimpinnya Hendaklah Bersabar


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Dari Ibnu Abbas dari Nabi saw bersabda : Siapa yang tidak menyukai kebijakan amir (pemimpinnya) hendaklah bersabar, sebab siapapun yang keluar dari ketaatan kepada amir sejengkal saja, ia mati dalam keadaan jahiliyah. (H. R. Bukhari no. 7053, Muslim no.4897.)

Friday, February 21, 2020

Kalau Bersumpah Hendaklah Dengan Nama Allah


عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ ، وَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ
Dari Ibnu Umar ra mengatakan, Nabi saw bersabda : Jangan kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian, dan barang siapa bersumpah, hendaklah bersumpah dengan nama Allah. (H. R. Bukhari no.7401)

Allah Memberi Kesehatan Dan Rejeki Kepada Siapapun


عَنْ أَبِى مُوْسَى اَلْأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللهِ ، يَدَّعُوْنَ لَهُ الْوَلَدَ ، ثُمَّ يُعَافِيْهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ
Dari Abu Musa Al-asy'ari berkata, Nabi saw bersabda : Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar atas gangguan yang didengarnya dari pada Allah, ada manusia mengaku Allah mempunyai anak (yaitu orang nashrani), namun Allah masih juga memberi mereka kesehatan dan rejeki. (H. R. Bukhari no.7378)

Allah Tdak Menyayangi Siapa Saja Yang Tidak Menyayangi Manusia


عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَرْحَمُ اللهُ مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ
Dari Jarir bin Abdullah berkata, Rasulullah saw bersabda : Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia. (H. R. Bukhari no.7376)