Friday, August 7, 2015

memilih rumah makan di perjalanan





      Sebelum bepergian tentunya kita harus mempersiapkan diri, misalnya : Kendaraan (bila kita membawa kendaraan sendiri), makanan (bila kita mau makan makanan sendiri) dan tidak kalah pentingnya adalah persiapan peralatan shalat.
      Jauh sebelum  berangkat,  kita rencanakan bersama keluarga kita, di mana kita akan melak-sanakan shalat apabila waktu shalat telah tiba. Misalnya kita berangkat dari rumah pukul 9 pagi, dan di perkirakan waktu shalat dhuhur kita masih diperjalanan, maka kita dapat memperhitungkan di mana shalat dhuhur akan kita laksanakan, kita usahakan shalat di awal waktu dan ikut berjama’ah di masjid setempat.
      Juga masih mengenai shalat, bila perjalanan kita sudah memenuhi syarat seorang musafir, maka kita dapat menggunakan rukhshah (keringanan) dari Allah berupa menjama’ dan atau sekali-gus mengoshor shalat kita. Jadi intinya persoalan shalat jangan sampai kita abaikan.

      Di samping persoalan shalat, maka persoalan makan diperjalanan juga harus difikirkan. Betapa segarnya, membasahi kerongkongan leher dengan segelas air dingin di siang hari yang sangat panas. Betapa nikmatnya, memenuhi perut dengan sepiring nasi hangat dan lauk lezat di saat rasa lapar melanda hebat. Wuh, betapa segar dan nikmatnya.
      Kesegaran dan kenikmatan itu makin terasa lebih, bila kita sedang bepergian. Kesegaran tubuh adalah syarat mutlak untuk meneruskan perjalanan. Demi kelancaran, tak ada salahnya bila kita mempersiapkan terlebih dahulu bekal makan dan minuman untuk melepas lapar dan dahaga di tengah perjalanan nanti. Kalau-pun terasa repot, kita tak perlu khawatir berlebihan, banyak rumah makan dari kelas warteg sampai restoran tersedia di sepanjang jalan.
      Selesaikah permasalahan? Ja-wabnya bergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Jika kita termasuk orang yang “gampangan,” maka jawabnya adalah beres. Saat dahaga atau lapar menyerang, sementara tak ada bekal yang kita bawa, tentu saja kita akan mencari warung atau rumah makan yang ada sebagai ajang pelampiasan.
     Permasalahan menjadi berbeda jika kita tergolong orang yang sedikit “wira’i” (berhati-hati). Kasus lapar dan dahaga di tengah perjalanan bisa menjadi kasus rumit dan sedikit njlimet, karena rumah-rumah makan yang ada di pinggir jalan dipandang tak pantas dijadikan persinggahan. Namun sepanjang pemantauan di beberapa wilayah, di kota-kota besar, Surabaya misalnya, atau daerah-daerah pedesaan, orang-orang “gampangan” itu lebih mudah dijumpai dari pada orang “wira’i”.
Selektif Dalam Memilih 
       Banyak alasan yang seharus-nya menjadi landasan bagi setiap orang agar berhati-hati dalam memenuhi hajat perutnya di rumah-rumah makan, baik kelas restoran apa-lagi trotoar. Alasan pertama adalah soal kesehatan. Kita harus selektif dalam memilih warung makan yang akan kita kunjungi. Menyantap hidangan di sembarang tempat tanpa memper-timbangkan faktor kesehatan terlebih dahulu adalah tindakan ceroboh dan sama saja dengan mencari penyakit.
      Tingkat kebersihan yang dite-rapkan oleh banyak pengelola warung-warung makan, masih belum memenuhi kelayakan stan-dar kesehatan. Keadaan ini diperparah dengan tabiat konsumen yang juga tak peduli dengan budaya hidup sehat. Konsumen merasa tak perlu kehilangan selera makan hanya karena tempat yang kurang representatif. Biarpun di pinggir jalan yang sempit dan kumuh tak jadi soal, yang penting harga toleran. Konsumen juga merasa tak perlu jijik melihat gelas minuman dan piring beirisikan makanan yang mereka pegang adalah bekas dipakai orang banyak (pembeli lain), yang cara pembersihannya hanya sekedar di celupkan dalam satu atau dua timba air saja.
     Jelas sekali, penanganan kebersihan di banyak warung-warung makan masihlah sangat mem-prihatinkan. Menurut beberapa ahli kesehatan mengatakan, untuk mensterilkan gelas dan piring yang kotor adalah dengan menggunakan air yang hangat. Terlebih untuk mangkok atau piring dari plastik, keduanya harus dibersihkan dengan menggunakan cream pembersih yang mengandung isolite, cream yang berguna untuk membunuh kuman.
     Standar kebersihan yang memprihatinkan dan ketidakpedulian konsumen akan hal itu adalah pengaruh buruk dan sangat bere-siko terhadap munculnya gangguan kesehatan. Gelas dan piring yang di cuci dengan ala kadarnya sangatlah rentan akan bakteri-bakteri penebar penyakit.
      Makanan dan minuman yang kotor dapat meyebabkan diare dan gangguan pencernaan. Kondisi ini memang tidak begitu berbahaya bagi konsumen dengan daya kekebalan tubuh yang tinggi. Tidak dengan anak kecil atau orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, mereka sebaiknya jangan coba-coba makan di warung-warung makan yang tidak sehat.
Sedikit Tetap Haram
     Masalah, tidak hanya timbul dari makanan dan minuman yang kotor saja, bahaya lain yang lebih besar justru datang dari gelas dan piring yang terlihat bersih, bahkan tempat makannya pun tergolong kelas rada mewah. Banyak konsumen yang tanpa sadar terjebak di dalamnya. Adalah alkohol yang menjadi bahaya lebih besar dari sekedar makanan dan minuman yang kotor. Bila kita tidak teliti saat memilih rumah makan, alkohol yang jelas-jelas haram itu bisa saja masuk ke dalam perut tanpa kita sadari. Hal ini di karenakan gelas dan piring kita terkontaminasi dengan alkohol yang telah di konsumsi oleh pembeli sebelum kita.
      Hindarilah warung-warung ma-kan yang menyediakan minuman beralkohol. Meski menurut kese-hatan jumlah alkohol yang sedikit tidak membahayakan bagi tubuh, namun hukum Islam mengatakan secara jelas, sedikit atau banyak, khomer (minuman beralkohol) adalah haram. Masih menurut beberapa ahli kesehatan, untuk mensterilkan paralatan makan dari alkohol adalah dengan merendam dalam air yang panas. Bila seseorang terbiasa mengkon-sumsi alkohol dari gelas atau piring yang ia pakai di warung-warung makan, untuk jangka waktu yang panjang di khawatirkan bisa menimbulkan ketagihan. Pengaruh buruk lain dari alkohol adalah kemampuannya membunuh kesuburan sperma.
      Dari perspektif fiqh memang di ma’fu (dimaafkan) karena ketidak-tahuan akan keberadaan sisa-sisa alkohol pada gelas atau piring yang dipergunakan. Namun, da-lam diskursus tasawuf tidaklah sesederhana itu, alkohol yang najis itu jelas membuat najis seluruh piring, gelas, bahkan makanan yang ada di dalamnya. Bila demikian, tanpa disadari sesorang pembeli telah meng-konsumsi makanan yang terkena najis. Lebih dalam lagi, makanan dan minuman yang kotor, terlebih najis akan merasuk ke dalam daging dan darah. Sekali lagi, hati-hati dan lebih selektiflah dalam mencari tempat-tempat makan. Perhatikan tingkat kebersihan dan kesuciannya. Warung (rumah makan) yang bersih belum tentu jadi cerminan warung yang suci, karena di dalamnya terdapat makanan dan minuman yang najis, alkohol misalnya.

No comments:

Post a Comment