Thursday, August 6, 2015

KEHANCURAN NEGERI MAKIN DEKAT 2






     Sebagai kelanjutan tulisan yang lalu, yaitu tanda-tanda dekatnya keruntuhan atau kehancuran sebuah negeri yaitu :

4.  Masyarakat yang Suka Bermak siat dan Ingkar Nikmat

      Adakalanya, membanjirnya berbagai kemudahan dan kenik matan hidup dalam sebuah negeri tidak selalu menjadikan penduduknya bisa bersyukur. Alamnya yang  subur,  laut  yang   luas  dan dan kaya, barang tambang yang melimpah, margasatwa yang beraneka ragam; semua itu malah membuat mereka takabur. Mereka eksploitasi habis-habisan segala kekayaan itu hanya untuk dipakai berfoya-foya dan berbuat maksiat.

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezqinya datang kepadanya melimpah-ruah dari segenap tempat, tetapi (pen-duduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah” (Q.S. An-Nahl: 112).
      Gaya hidup masyarakat yang tidak bisa bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala menjadi  (foya-foya), konsumeris (boros) dan akhirnya menjurus kepada kehidupan yang  (serba boleh). Kemaksiatan men-jalar di mana-mana dan dianggap sebagai sebuah kewajaran, hukum rimba sudah menjadi ketentuan dan saling memeras telah mentradisi.
“Dan berapa banyaknya (pen-duduk) negeri yang dzalim…” (Q.S. Al-Anbiyaa: 11).
      Bila kondisi masyarakat telah separah itu, maka saat-saat kehancuran negeri itu telah dekat.
“…karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Q.S. An-Nahl: 112).

“Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang men-durhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan.” (Q.S Ath-Thalaq: 8).
5. Terjadinya penyimpangan seks
    Deviasi seksual (penyimpangan seksual) bisa terjadi bila seseorang menjadi budak dari syahwatnya. Segala cara dipakai untuk memenuhi dorongan syahwatnya yang menggebu-gebu. Di antara bentuk-bentuk deviasi seksual adalah lesbian, homoseks, free seks, prostitusi dan yang lain-lain. Peristiwa deviasi seksual pernah terjadi pada masa Nabi Luth, yaitu berhadapan dengan kaumnya yang mengidap penyakit homo-seksual.
“Nabi Luth berkata: ‘Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeri)ku! Mereka lebih suci bagimu, maka bertaqwalah kepada Allah…” (Q.S. Huud: 78).
“Mereka menjawab: ‘Sesung-guhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” (Q.S. Huud: 79).
     Bila deviasi seksual telah menjamur bahkan telah dilegalkan oleh hukum dan dilindungi masyarakat, maka saat-saat kehancuran negeri itu telah dekat.
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Q.S. Huud: 82).
6. Hilangnya Amar Ma’ruf Nahi   Mungkar
     Bila tidak ada lagi amar maruf nahi munkar dalam sebuah negeri, maka itu adalah tanda akan turunnya adzab Allah swt. kepada seluruh penduduknya. Tidak adanya amar maruf nahi munkar bisa dikarenakan banyak sebab. Di antaranya, manusia sudah terlanjur senang berge-limang dosa dan menganggap aneh perbuatan yang baik. Sehingga perbuatan maruf men-jadi sesuatu yang janggal dalam kehidupan, sebaliknya perbuatan yang munkar meru-pakan tradisi yang digemari. Bisa juga manusia meninggalkan beramar maruf nahi munkar karena takut akibat yang bakal ditim-bulkannya bisa mengancam jiwa dan keluar-ganya. Bisa jadi dia akan diintimidasi, dikucilkan, dimusuhi, dicekal, dipenjara, diputus mata-pencahariannya; bahkan sampai dibunuh. Sehingga manusia enggan melakukan amar maruf nahi munkar. Jika amar maruf nahi munkar telah hilang dari sebuah negeri, tidak ada lagi suasana dialogis dan kompromi, semua masalah diselesaikan dengan tekanan dan kekerasan; maka sudah dekat kehancuran negeri tersebut.

“Dan Kami tidak membi-nasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim.” (Q.S. Asy Syu’ara: 208-209).

7. Banyak Orang Munafik
     Salah satu sebab hancurnya umat adalah karena banyaknya orang munafik yang memegang urusan kaum muslimin. Orang munafik adalah orang yang menampak kan Islam namun memendam kekufuran, meme-rangi wali-wali Allah, para da'i di jalan Allah, para ulama dan orang-orang yang istiqamah menjalan-kan agama. Allah swt. berfirman,
"Dan bila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu mem-buat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab, "Sesungguh nya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". (Q.S. Al-Baqarah:11)

       Mereka mengaku sedang melakukan perbaikan, sebagian dari mereka berkata sebagaimana yang dikatakan Fir'aun kepada pengikutnya, dalam firman Allah, artinya, "Biarkanlah aku mem-bunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama-agamamu atau menimbul kan kerusakan di muka bumi". (QS Ghafir:26) 

8. Berwala' (Setia) Kepada Kaum Kufar
       Memberikan wala' (loyalitas) kepada orang kafir dan tidak bersikap setia kepada orang mukmin masih banyak terjadi di masyarakat. Mereka setia kepada musuh-musuh Allah dan bangga dapat membantu serta menolong mereka. “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para mus-limin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (Q.S. Al-Anfal: 173) 
     Maksudnya jika orang mukmin tidak berwala' dengan orang mukmin, tidak berwala dengan penyeru penyeru kebaikan, tidak berwala' dengan ahli ilmu dan ahli takwa, maka itu akan menyebabkan fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.
9. Penghacuran Masjid 
      Di antara sebab hancurnya sebuah negeri adalah jika masjid-masjid dirobohkan. Merobohkan masjid sebagaimana dikatakan Imam asy-Syaukani ada dua macam:
a. Takhribul hissi , yakni mero-bohkan masjid secara fisik.
b. Takhribul ma'nawi, yakni menelantarkan dari tujuan diba-ngunnya masjid, tidak ada kajian, ta'lim, muhadharah, digembok setiap saat, orang dilarang masuk dan lain-lain. 
"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah)." (Q.S. Al-Baqarah: 114)

No comments:

Post a Comment